Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#66

Rara Jonggrang heran ketika mendengar kesanggupan Bandung Bandawasa untuk mewujudkan seribu candi dalam satu malam. Sesungguhnya, ia mengajukan permintaan itu semata-mata agar Bandung Bandawasa kalah dengan tidak sanggup mewujudkan permintaannya. Namun Rara Jonggrang yakin bahwa kesanggupan Bandung Bandawasa itu sebagai ungkapan keputusasaannya. Tidak mungkin ada seseorang yang akan mampu mewujudkannya. Dan pada akhirnya, dialah pemenangnya. Bandung Bandawasa akan kembali ke negerinya dengan membawa kekalahan.
Rara Jonggrang tersentak ketika Bandung Bandawasa berkata dengan lantang.
“Ayo sekarang juga, tunjukkan di mana aku harus menata candi…..!”
“Itu di sebelah utara candi Prambanan terbentang luas padang rerumputan liar, cukup untuk seribu candi…..!” jawab Rara Jonggrang.
“Jangan ganggu aku agar bangunan candi Sewu tepat waktu…..!” kata Bandung Bandawasa.
Namun demikian, Rara Jonggrang tetap tidak yakin bahwa putra Pengging itu akan mampu mewujudkan candi yang berjumlah seribu dalam satu malam.
“Perintahkan kepada kawula Baka agar tidak mendekat ke tempat aku membuat candi agar mereka tidak kesanja baya – kena musibah…..!”

Birawa semakin penasaran, bagaimana nantinya Raden Bandung Bandawasa itu mewujudkan permintaan dari Rara Jonggrang tersebut. Menurut penalaran Birawa hal tersebut benar-benar tidak akan mungkin terwujud. Namun ia tidak bertanya kepada Ki Bekel, karena Ki Bekel kemudian melanjutkan ceritanya.

Matahari telah tenggelam di balik cakrawala, binatang malam mulai keluar dari sarangnya. Gemericik air kali Opak memecah kesunyian.
Rara Jonggrang memilih mengawasi Raden Bandung Bandawasa dari sebuah cekungan di candi Prambanan. Dari tempat itu, ia bisa melihat hamparan padang rumput liar di sebelah utara dari ia berada. Namun Rara Jonggrang tidak bisa melihat keberadaan Raden Bandung Bandawasa.

Sementara itu, Raden Bandung Bandawasa kemudian mengambil sikap samadi di atas sebuah batu besar di tepi kali Opak.
Untuk beberapa saat tak terjadi apapun. Namun suasana di tepian kali Opak itu terasa sangat mencekam bagi Rara Jonggrang. Saat itu, dari tubuh Raden Bandung Bandawasa keluar asap tipis yang menyelimuti dirinya. Asap itu semakin lama semakin meluas dan meluas sehingga hampir memenuhi seluruh padang rumput liar tak jauh dari candi Prambanan.
Rara Jonggrang tidak bisa melihat apapun kecuali asap yang menyelimuti seluruh padang rumput liar.
“Apa yang terjadi……?” batin Rara Jonggrang.
Rara Jonggrang berdebar-debar karena mendengar suara-suara celotehan yang sangat asing baginya. Sepertinya bukan suara manusia, namun juga bukan suara binatang apapun. Bahkan Rara Jonggrang kemudian mendengar seperti banyak orang yang tertawa-tawa, namun sepertinya bukan tertawanya manusia. Suara celotehan dan tertawaan itu semakin lama semakin banyak, seakan memenuhi seluruh padang rumput yang tertutup kabut.
Rara Jonggrang kemudian merinding, namun merinding bukan karena takut, tetapi karena bau bacin yang semakin lama semakin menusuk hidung.
Rara Jonggrang semakin berdebar-debar ketika kemudian mendengar seperti beberapa buah batu saling berbenturan. Suara benturan batu itu semakin lama semakin meluas ke seluruh padang rumput liar. Namun Rara Jonggrang sama sekali tidak bisa melihat dan mengetahui apa yang terjadi di dalam kabut itu.

Dalam pada itu, yang tidak bisa dilihat oleh Rara Jonggrang itu sungguh terjadi. Di dalam selimut kabut yang menutupi padang rumput liar itu sedang terjadi hiruk pikuk makhluk berbagai wujud. Makhluk-makhluk berbagai wujud itu adalah jin peri perahyangan, tetekan, gederuwo, iwil-iwil, banaspati, gelundung pringis dan berbagai sebutan bagi makhluk yang tidak kasat mata. Jika orang biasa melihatnya, tentu akan merasa ngeri, takut dan bahkan merasa jijik.
Segala makhluk yang tidak kasat mata itu berdatangan ke padang rumput liar karena dipanggil oleh Raden Bandung Bandawasa. Raden Bandung Bandawasa telah mewarisi ajian yang mampu mengundang makhluk halus tersebut dari mendiang gurunya.
…………
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Konon, kata simbahnya simbah, bahwa makhluk halus itu memang ada, dan manusia lebih mulia dari mereka.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *