Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#75

gendhuk jinten

Ketika pulang, Ki Tanu telah mandi di belik pancuran pinggir kali. Ketika sampai di pondok tinggal berganti pakaian.
Gendhuk Jinten telah menyiapkan segala keperluan untuk sang ayah seperti hari-hari sebelumnya. Kebiasaan Gendhuk Jinten tak berubah sedikitpun. Ia sama sekali tak terganggu oleh keadaan tubuhnya. Hanya saja ia merasa semakin bertambah gemuk. Namun ia menganggap itu hal yang lumrah. Gendhuk Jinten masih menganggap ia dalam perkembangan. Kini ia bukan semakin meninggi tetapi semakin gemuk.
Ketika petang telah sedikit lewat, Ki Tanu memanggil putrinya di pendapa.
Gendhuk Jinten sedikit berdebar karena tidak biasanya ayahnya itu bersikap demikian. Ayahnya biasanya akan berbincang kapan saja dan di mana saja tanpa harus memanggil seperti ini.
“Apakah ayah akan menjodohkan aku seperti yang pernah disinggung…..?” batin Gendhuk Jinten. “Aku belum akan berumah tangga…..!” jawabnya dalam batin.

Gendhuk Jinten lebih berdebar karena ayahnya sepertinya berwajah muram. Ia belum pernah melihat ayahnya semuram ini. “Ada apakah ini….?” batin Gendhuk Jinten lagi.
“Duduklah Jinten…..!” kata ayahnya datar dan dingin.
“Baik, ayah…..!” jawab Gendhuk Jinten singkat.
Ki Tanu diam beberapa saat tak segera berkata kepada putrinya. Ia yang fasih berbicara di manapun dan kepada siapapun, namun kini seperti tercekat di hadapan putrinya sendiri.
“Jinten….., bagaimana pijatan Mbok dukun…..? enakkah…..?” kata Ki Tanu untuk memecah kebekuan.
“Ooh….., enak ayah….., enak…..!” jawab Gendhuk Jinten ringan, karena pertanyaan ayahnya yang ringan pula.
“Yaaa….., besuk kalau kau capai, bisa mengundang lagi…..!” kata Ki Tanu.
“Apakah kau masih mual sekarang….?” tanya Ki Tanu yang mulai mengarah ke masalah.
“Sekarang tidak mual, ayah…..! tidak tahu besuk masih mual lagi atau tidak, semoga saja tidak……!” kata Gendhuk Jinten yang mulai cair.
“Jinten….., apakah kau menyadari bahwa mual-mual yang kau alami itu tidak sewajarnya…..?” kata Ki Tanu.
Kening Gendhuk Jinten sedikit berkerut, karena ia tidak paham maksud ayahnya itu.
“Eee…., maksud ayah…..?” kata Gendhuk Jinten ragu.
“Yaa….., tidak sewajarnya…..! Itu persis dengan apa yang dialami oleh ibumu dahulu ketika mulai mengandung kamu…..!” kata Ki Tanu lebih mengarah agar putrinya tidak terlalu lama dibuat bingung.
“Eeeee….., Jinten tidak mengerti, ayah…..!” kata Jinten yang benar-benar tidak tahu maksud ayahnya.
“Yaaa….., menurut pengamatan ayahmu ini….., seperti itu pula yang kau alami sekarang…..!” kata Ki Tanu semakin jelas.
“Ayaaah…..! Tidak ayah…..! Itu tidak mungkin…..!” kata Gendhuk Jinten dengan wajah sedikit memerah.
Ki Tanu tercengang, karena sepertinya putrinya itu benar-benar tidak menyadarinya.
“Jinten….., ayahmu ingin bertanya lagi kepadamu, seperti yang pernah aku tanyakan……! Pernahkah ada seseorang pria yang dekat denganmu, dan bahkan memegangmu….?” kata Ki Tanu semakin jelas arahnya.
“Ayaaah….., mengapa ayah berkata seperti itu….? Itu sangat tidak pantas, seperti yang selalu ayah ajarkan kepada Jinten…..!”
Ki Tanu terdiam sejenak, ia yakin putrinya itu berkata jujur. Namun yang keadaan putrinya itu bisa terjadi karena pasti karena hubungan pria dan wanita.
“Jinten…., keadaanmu seperti itu bisa terjadi pasti karena ada seseorang yang pernah bersamamu. Dan tidak mungkin terjadi seperti dalam kisah Dewi Kunti dalam pewayangan….!” kata Ki Tanu.
“Ayaaah…..! Apakah yang ingin disampaikan oleh ayah itu bahwa Jinten telah mengandung karena berbuat tak sepantasnya dengan seseorang…..? Tidak ayah….., tidak. Jinten tidak akan pernah…..!”
…………
Bersambung………

Petuah Simbah: “Hati-hati terhadap para remaja putri kita, bisa jadi mereka juga tidak menyadari apa yang terjadi pada diri mereka sendiri.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *