Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#92

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.

Gendhuk Jinten.

Malam itu, seperti malam sebelumnya, Ki Demang telah mengirim peronda yang berjaga di pondok Ki Tanu. Mbok Dukun dan inang kademangan juga menemani Gendhuk Jinten di pondok. Ki Demang merasa, apa yang ditinggalkan oleh Ki Tanu yang berupa mas berlian dan uang logam sangat banyak untuk ukuran sebuah kademangan. Apalagi untuk keperluan keluarga Gendhuk Jinten nantinya, lebih dari cukup. Bahkan, Ki Demang ingin meneruskan rintisan Ki Tanu yang telah berjalan jangan sampai mandeg. Jika kemarin hanya ditangani oleh Ki Tanu seorang diri pun bisa, kini Ki Demang akan mempercayakan kepada beberapa orang untuk mengelola secara sungguh-sungguh. Bahkan akan dikembangkan sampai di seberang sungai yang sekarang masih berupa semak belukar dan hutan yang jarang.
Ki Demang akan mengundang para perangkat kademangan untuk membicarakan hal tersebut.
Kademangan Pengging harus maju dan berkembang, bahkan Ki Demang akan bercita-cita menjadikan Pengging sebuah kadipaten. Jika beberapa kademangan tetangga kademangan Pengging mau bergabung, tentu akan menjadi sebuah kadipaten yang kuat.

Dalam pada itu, Gendhuk Jinten malam itu telah masuk ke kamar Ki Tanu yang kosong. Ia dengan pelan menggeser amben bambu yang biasa untuk tidur ayahnya.
Berbekal surat yang diterima dari ayahnya, ia ingin membuktikan isi surat tersebut. “Di bawah kolong amben di pojok kidul kulon” isi surat tersebut. Dengan berbekal cetok peninggalan ayahnya, Gendhuk Jinten mencoba mengorek-orek tanah di sudut kamar itu. Ia sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan dari siapapun.
Hati Gendhuk Jinten berdebar ketika cetoknya menyentuh benda keras. Ia keruk dengan hati-hati dan kemudian terlihat bentuk cupu tembikar. Cupu sebesar teko yang biasa untuk membuat teh kesukaan ayahnya. Cupu kemudian diangkatnya, namun Gendhuk Jinten semakin berdebar ketika di bawah teko itu ada kotak kuningan yang tidak terlalu besar.
Kotak kuningan pun diangkatnya.
Dengan penerangan lampu sentir, Gendhuk Jinten membuka cupu tembikar. Gendhuk Jinten berdebar-debar karena cupu itu berisi uang logam yang sangat tinggi nilainya. Mata Gendhuk Jinten berkaca-kaca menyaksikan peninggalan ayahnya itu.
Kemudian dengan hati-hati Gendhuk Jinten membuka kotak kuningan. Tangis Gendhuk Jinten hampir meledak, namun kemudian ia tahan sekuat tenaga agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Gendhuk Jinten ternganga melihat kenyataan di hadapannya. Emas berlian memenuhi kotak kuningan tersebut. Ia sama sekali tidak mengira bahwa ayahnya menyimpan kekayaan yang sedemikian besar. Dengan kekayaan itu, sesungguhnya ayahnya dan ia sendiri bisa hidup dengan berkelimpahan. Namun itu tidak dijalani oleh ayahnya dan ia sendiri. Ayahnya memilih menjadi seorang yang lumrah dan hidup berbaur dengan warga kademangan. Bahkan ayahnya rela bertani, berkebun bahkan memelihara kambing dan ikan. Siapapun tak akan mengira akan kekayaan yang dimiliki oleh Ki Tanu. Bahkan Gendhuk Jinten sendiri tidak tahu.
Jika Ki Tanu menggunakan kekayaan itu untuk hidup sebagai seorang yang kaya raya, pasti kehidupannya tidak akan tenang.
Gendhuk Jinten kemudian merenungkan pilihan hidup yang dijalani oleh ayahnya dan ia sendiri.

Ketika terjadi geger di keraton Majapahit, Raden Tanu Teja memang telah berhasil menyelamatkan harta kekayaan sang istri sebagai putra raja. Emas berlian dan uang itu ia amankan di bengkung kulit yang selalu melingkar di pinggangnya. Dan sebagian disimpan di kampil kain yang sangat sederhana berbaur dengan pakaian ganti yang selalu dijinjing dengan kain ules. Dengan cara itu, Ki Tanu selamat sampai di kademangan Pengging. Dan di kademangan Pengging dengan pondok sederhana yang mereka tempati, kehidupan mereka damai tanpa gangguan. Jika kemudian timbul permasalahan yang menimpa putrinya, Gendhuk Jinten itu bukan karena kehidupannya yang sederhana, namun karena kecantikan putrinya yang menonjol di antara warga kademangan.
………
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Kehidupan yang berbaur dengan warga dan alam sekitar, tentu lebih mudah diterima di tengah masyarakat.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *