Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#93

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#93

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.

Gendhuk Jinten.

Gendhuk Jinten sempat menggelar uang logam yang cukup tinggi nilainya itu di tikar amben. Ia tidak menghitung satu persatu. Namun satu keping saja sudah bisa untuk mecukupi kebutuhan hidup lebih satu bulan untuk seluruh penghuni pondok.
Namun Gendhuk Jinten tidak mengambil satu keping pun, uang itu ia kembalikan ke cupu tembikar dan ia tutup kembali dengan rapat.
Gendhuk Jinten kemudian kembali membuka kotak tembaga yang sebelumnya telah dibuka itu. Mas berlian dalam kotak itu kemudian juga digelar di tikar amben seperti halnya uang logam tadi.
Gendhuk Jinten kembali terbelalak, menyaksikan emas intan berlian yang berupa kalung, cincin, liontin ataupun mandaliun. Gendhuk Jinten tidak bisa menduga berapa nilai dari emas permata itu. Beberapa lama Gendhuk Jinten memandangnya, bahkan kemudian menimang-nimang penuh kekaguman. Sesekali dicobanya kalung yang sangat indah itu, demikian pula dengan cincin dengan mata merah delima. Tak puas-puasnya Gendhuk Jinten memandang dan mencoba emas permata tersebut. Namun Gendhuk Jinten kemudian tersadar ketika mendengar Mbok Dukun berbincang dengan inang kademangan yang membantunya.
Gendhuk Jinten kemudian mewadahi emas permata itu ke dalam kotak kuningan. Tak ada satupun yang ia ambil. Semua telah ia masukan di dalam kotak kuningan.
Kotak kuningan dan cupu tembaga pun kemudian ia kembalikan ke tempat semula, ia pendam kembali di bawah kolong pojok amben tempat tidur. Ia mengembalikan cupu dan kotak kuningan itu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Setelah selesai, Gendhuk Jinten justru kemudian tiduran di amben ayahnya itu. Beberapa saat Gendhuk Jinten melamunkan simpanan yang sangat berharga tersebut. Apa yang mesti ia lakukan kemudian. Namun Gendhuk Jinten memutuskan untuk melanjutkan pilihan cara hidup yang telah dipilih oleh ayahnya yakni hidup sederhana seperti yang telah ia jalani selama ini. Jangan sampai ada orang yang mengetahui simpanan barang-barang yang sangat berharga tersebut. Jika tidak sangat terpaksa, ia tidak akan menggunakan simpanan tersebut.
Namun tiba-tiba mata Gendhuk Jinten berkaca-kaca. Ia teringat ayahnya, tak terbayangkan sedang apa ayahnya di malam yang dingin seperti ini.

Sementara itu, Ki Tanu malam itu sedang berbincang dengan seorang petani di emper rumah seorang petani gunung di sebuah bukit. Seorang petani yang telah ditolong oleh Ki Tanu dengan menyelamatkan kambingnya yang terperosok ke dalam sebuah jurang. Jurang yang cukup dalam sehingga petani itu kesulitan untuk mengangkat kambing itu dari dasar jurang. Ketika Ki Tanu melihatnya, ia segera memberi pertolongan. Ki Tanu meluncur turun ke jurang dengan mudahnya dan kemudian membopong kambing itu dan diserahkan kepada petani si empunya kambing. Beruntungnya kambing itu tidak cedera.
Petani itu pun sangat kagum kepada pengelana yang menolongnya.
Ketika itu hari telah menjelang gelap sehingga petani itu mempersilahkan Ki Tanu untuk menginap di rumahnya yang sangat sederhana.
Seorang petani tua yang hanya hidup berdua dengan istrinya yang sedang sakit.
“Di mana anak-anak kalian, Kang…..?” tanya Ki Tanu.
“Semua sudah berkeluarga, mereka membangun rumah dan rumah tangganya di bukit gunung yang lain, tak jauh dari bukit ini….!” jawab petani itu.
“Bukit apakah ini, Kang…..?” tanya Ki Tanu yang belum pernah sampai di tempat itu.
“Ini bukit Pathuk, termasuk kademangan Gunungsewu…..!” kata petani itu.
“Bukit Pathuk…..! belum pernah aku mendengar nama itu….!” gumam Ki Tanu.

Ki Tanu setelah meninggalkan pasar Gawok memang berjalan dan terus berjalan mengikuti langkah kaki tanpa tujuan pasti. Ia naik turun bukit di jalan setapak ke arah matahari terbenam dan kadang-kadang belok ke arah kiri. Ia sempat membeli makanan di warung untuk bekal dalam perjalanan. Ketika kemudian melihat seorang petani yang duduk bersedih karena kambingnya jatuh ke jurang.
Ketika mereka sedang berbincang, terdengar batuk-batuk seseorang di dalam rumah yang sederhana itu.
“Maaf, istriku sedang sakit…..! Seharian batuk-batuk terus…..!” kata petani itu.
“Boleh aku memeriksanya…..?” tanya Ki Tanu.
………..
Bersambung………

Petuah Simbah: “Orang yang bermakna adalah mereka yang berguna bagi sesama.”
(@ SUN-aryo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *