Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#99

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.

Gendhuk Jinten.

Kemudian Ki Demang melanjutkan kata-katanya.
“Aku kira, orang yang menamakan diri Bayaputih itu tidak akan segera datang lagi. Oleh karena itu, untuk sementara lupakanlah. Kalian menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Dan yang perlu kalian ingat, jangan sampai ada seorangpun yang tahu masalah ini….! Bahkan akupun tidak akan bercerita kepada siapapun juga, juga kepada Nyi Demang….!” kata Ki Demang.
“Mbok Dukun, apakah kau paham…?”
tanya Ki Demang.
“Yaa Ki Demang, saya paham, dan tak akan bercerita kepada siapapun…..!” jawab Mbok Dukun.
“Mbok Inang bagaimana…..?” tanya Ki Demang.
“Yaaa….., saya paham Ki Demang, dan juga tidak akan bercerita kepada siapapun…..!” jawab Mbok Inang.
“Gendhuk Jinten pasti sudah tahu dan sepakat untuk tidak bercerita kepada siapapun…..!” kata Ki Demang.
“Terimakasih Ki Demang, ini adalah yang terbaik bagi kami…..!” kata Gendhuk Jinten.
“Ingat, hanya kalian bertiga yang tahu, jika ada orang lain yang tahu, pasti dari antara kalian…..!” kata Ki Demang.
“Sudahlah…..! Anggap saja tidak pernah terjadi sesuatu. Diantara kalian pun jangan pernah mengungkit hal itu lagi…..! Aku akan pergi ke bendungan……!” kata Ki Demang.
Ki Demang pun segera meloncat ke punggung kuda dan memacu kudanya menuju ke bendungan.

Sementara itu, Bayaputih, Lasa dan salah seorang prajurit sandi segera meninggalkan kademangan Pengging. Bayaputih samasekali tidak mengatakan apapun tentang Gendhuk Jinten kepada duo orang seperjalanannya. Ia juga berusaha untuk melupakan Gendhuk Jinten. Namun demikian, ia telah merasa lega dengan mengatakan kejadian yang sebenarnya kepada Gendhuk Jinten. Namun demikian, Bayaputih tetap berharap, suatu saat bisa bertemu dengan Gendhuk Jinten lagi, dan terutama bertemu dengan anak yang dikandungnya. Bahkan jika mungkin, anak itu akan ia boyong ke keraton.

Sementara itu, Bayaputih heran, ketika sampai di alun-alun keraton Demak, di sana sedang berlangsung gladi perang yang melibatkan ribuan prajurit.
“Demak benar-benar telah bersiap untuk menyerbu ke wilayah timur, Raden…..!” kata prajurit sandi yang menjemput Bayaputih.
“Ini adalah kekuatan yang besar……!” sahut Bayaputih.
“Ini baru sebagian, Pangeran. Sebagian besar lagi telah berada di Kadipaten Jipang Panolan. Mereka akan berangkat menyisir pantai utara…..!” lanjut prajurit sandi.

Bayaputih tercenung sejenak, ketika ayahanda Sultan Demak meminta kepadanya untuk segera kembali ke Palembang.
“Kirimkan sepuluh bregada prajurit dari Palembang untuk memperkuat pasukan Demak……! Kau sendiri tak perlu ikut kembali ke Jawadwipa ini. Kembangkan Palembang menjadi negeri yang besar dan kuat……!” perintah Sultan Demak.
Bayaputih tak mungkin membantah perintah seorang sultan. Walaupun hatinya sendiri telah tertambat di pulau ini. Namun terbersit niat untuk suatu saat kembali ke negeri ini dan mengunjungi kademangan Pengging.

Alkisah, sementara pasukan Demak telah berangkat menuju ke wilayah timur. Ki Tanu dalam perjalanannya yang panjang dan berliku-liku, kini telah sampai di tepi pantai laut selatan. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh gegap gempitanya pasukan perang. Ki Tanu dalam perjalanannya selalu mengutamakan menolong sesama sebagai juru sembuh.
Ki Tanu memilih menetap di sebuah goa tak jauh dari tepi pantai, namun juga tidak jauh dari pemukiman warga, pemukiman yang tergolong padat. Pemukiman yang termasuk di kademangan Tritis, bagian dari Tanah Perdikan Mangir.
Tanah Perdikan Mangir yang selama ini tidak pernah terjangkau oleh kekuasaan pemerintahan Majapahit. Dan kini, Demak Bintara pun belum menancapkan kekuasaan di telatah Mangir. Tanah Perdikan Mangir dipimpin oleh Ki Ageng Mangir. Telatah ini saat itu masih sulit dijangkau dari arah manapun. Dari sisi timur, pegunungan seribu yang panjang dan gersang tidak menarik untuk ditempuh. Dari sisi utara terhalang hutan lebat yang gawat, Alas Mentaok, Alas Tambakbaya, Alas Pacetokan dan juga gunung gamping.
…………
Bersambung………

Petuah Simbah: “Sebagai seorang juru sembuh tak kalah mulia dari seorang senopati perang.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *