Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#160

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#160

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Jika Jaka Tingkir sudah mempunyai tekad, maka sulit untuk dicegah. Siang hari itu juga Jaka Tingkir berpamitan kepada Ki Ageng Sela, juga kepada kakak-kakak seperguruannya, Mas Juru, Mas Manahan serta Mas Penjawi. Mereka percaya bahwa Jaka Tingkir, walau masih muda, namun akan bisa membawakan diri.
“Yang aku dengar, Kangjeng Sultan Trenggono sedang melurug perang ke Sunda Kelapa beserta pasukan yang sangat besar. Untuk sementara pimpinan pemerintahan dipercayakan kepada putra sulungnya, Raden Prawoto. Kau bisa membantu Ki Ganjur yang mengurusi tempat beribadah. Kau juga bisa belajar banyak tentang ilmu agama kepada Ki Ganjur……!” pesan Ki Ageng Sela.
“Baik Bapa…..! Jaka akan menuruti segala pesan Bapa…..!” kata Jaka Tingkir.
Jaka Tingkir memerlukan bertanya kepada Mas Penjawi yang berasal dari pantai utara. Mas Penjawi pasti sering melewati Demak Bintara untuk sampai di Sela ini.
“Jika kau lewat Rawapening tentu kau tidak akan kesulitan karena jalannya sudah ramai. Tetapi jika lewat timur, jalannya lebih sepi…..!” kata Mas Penjawi.
“Aku ingin lewat jalan yang masih sepi itu…..!” kata Jaka Tingkir.
“Kau mesti melewati Bringin, Tuntang, Kedungjati dan kemudian sampai Gubuk. Dari Gubuk, kau bisa lewat Mrapen yang ada nyala api yang tidak pernah padam. Lewat Dempet kemudian akan sampai ke kotaraja Demak Bintara dari arah timur. Atau dari Gubuk belok ke barat lewat Karangawen, Guntur kemudian lewat Alas Donorejo dan kemudian sampai di kotaraja Demak Bintara lewat arah barat…..!” kata Mas Penjawi.
“Aku ingin lewat tempat api yang tak pernah padam itu……!” kata Jaka Tingkir.
“Itu namanya Mrapen…..!” kata Ki Penjawi.

Jarak antara Sela ke kotaraja Demak Bintara bukan jarak yang terlalu jauh, namun harus melewati pegunungan yang naik turun. Ada beberapa jalan yang bisa dilewati untuk sampai ke kotaraja Demak Bintara. Jika lewat sisi barat akan melewati Rawapening yang airnya jernih. Tetapi Jaka Tingkir sudah sering berpetualang ke daerah rawa itu, bahkan pernah ke Banyubiru pula. Sebagai seorang petulang, ia ingin lewat jalan yang belum pernah dilalui walaupun jaraknya lebih jauh. Lewat arah timur seperti yang dikatakan oleh Mas Penjawi tadi. Ia memang belum pernah sampai ke Mrapen tempat nyala api yang menyembur dari dalam tanah namun tak pernah padam.

Dengan berbekal pakaian ganti yang dibungkus ules digendong di punggungnya. Ia tidak membawa pedang atau tombak ataupun pisau belati. Jika ia membawa senjata seperti itu, tentu justru akan memancing perseteruan di perjalanan. Ia lebih memilih membawa tongkat bambu kuning sebagai penyangga saja. Tetapi ia juga membawa pisau kecil yang mungkin berguna untuk memotong apapun.
Perjalanan Jaka Tingkir tidak tergesa-gesa, karena ia tahu bahwa Kanjeng Sultan Trenggono masih belum kembali dari tlatah bang kulon. Seandainya akan ada penerimaan prajurit baru tentu setelah Kanjeng Sultan kembali ke keraton Demak Bintara. Yang akan dituju oleh Jaka Tingkir sudah jelas, yaitu tempat Ki Ganjur sebagai pengelola tempat ibadah.

Menjelang sore, Jaka Tingkir memerlukan istirahat di sebuah warung di ujung kampung. Di warung itu sudah ada beberapa orang yang jajan. Setelah di dalam warung, Jaka Tingkir merasa risih karena beberapa orang yang jajan itu berbicara kasar, bahkan marah-marah.
“Diaaamprut uangku habis gara-gara bujukan Gambleh….! Tadinya aku pegang Jago Wiring…..! eeeh Gambleh mbujuk untuk pegang Jago Jalu…..! Eeh tak tahunya Jago Jalu keok kena jalu Jago Wiring……!” gerutu salah seorang yang kalah dalam adu jago.
“Makanya jadi orang jangan miyar-miyur…..! Gambleh saja kau ikuti…..! Uangku juga amblas di kalangan tiga…..!” sahut kawannya.
“Sama-sama keok kok menyalahkan orang lain…..!” tukas kawannya.
“Lhooh….., siapa nanti yang akan mbayari jajan kita? Uangku juga melayang semua…..!” tukas yang lain.
Jaka Tingkir menjadi paham, ternyata orang-orang itu adalah para botoh adu jago namun ternyata tidak ada yang menang.
………….
Bersambung…………

Petuah Simbah: “Tidak ada penjudi yang menang.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *