Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#167

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#167

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(167)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Lurah pasar itu memang kenal baik dengan orang yang dipelintir oleh Jaka Tingkir itu. Ia tidak mungkin menggeledah orang itu. Sedangkan wanita yang diaku sebagai istrinya itu tak berani berbuat apa-apa, karena jika ia berulah, pelintiran ditangan yang diaku sebagai suaminya itu semakin kencang.
“Biarlah aku yang menggeledah, karena aku sering kehilangan barang…..!” kata seorang lelaki gagah yang belum setengah baya. Ia bersama istrinya juga berjualan sandang dan kain.
“Silahkan Kisanak……!” kata Jaka Tingkir.
Orang itu segera menyingkap kain orang yang dipelintir itu.
Ternyata benar kata-kata Jaka Tingkir. Beberapa potong pakaian telah dilolos oleh orang yang pemberani itu.
“Oooh….., itu dagangan saya…..!” seru Mbok Bakul wade.
“Hee….! tangkap wanita itu….! Ia tidak boleh melarikan diri….!” teriak Jaka Tingkir yang melihat wanita yang diaku sebagai istri orang yang ia tangkap.
“Tangkap pengutil…..! tangkap pengutil…..!” teriak beberapa orang.
Wanita itu pun kemudian ditangkap ramai-ramai. Namun wanita itu mencoba meronta-ronta. Orang-orang yang geram kepada wanita itu menelikungnya, bahkan ada yang menjambaknya. Tak diduga, dari kain wanita itu berjatuhan dompet dan uang berserakan di lantai pasar.
“Pantesan banyak bakul yang kehilangan barang, bahkan banyak pula pengunjung yang kecopetan…..!” teriak salah seorang yang ikut menelikung wanita itu.
“Hajar mereka…..! hajar mereka…..!” teriak beberapa orang.
“Sabaaar….! jangan main hakim sendiri,
serahkan kepada lurah pasar, dia pasti kenal keduanya……!” kata Jaka Tingkir.
“Lurah pasar pasti kongkalingkong dengan kedua maling ini…..!” teriak seorang pedagang.
“Jika lurah pasar itu tidak mampu mengatasi, biarlah suatu saat akan aku jemput sendiri lurah pasar itu….!” ancam Jaka Tingkir. Walau sesungguhnya itu hanya sekedar ancaman.
“Ba….baik…..! akan aku bereskan kedua maling itu…..!” kata lurah pasar ketakutan.
“Panggil Ki Jagabaya atau siapa pun perangkat kademangan yang paling dekat…..!” kata Jaka Tingkir yang belum terpikir sebelumnya.
“Hee…., ada apa ini…..?! Akulah Jagabaya di kademangan ini…..!” sahut seseorang yang memang Ki Jagabaya.
“Maling ketangkep Ki…..!” hampir berbarengan orang-orang yang mengerubungi maling itu berteriak.
“Yang mana malingnya……?” tanya Ki Jagabaya.
“Yang diringkus anak muda itu, dan wanita yang diringkus beberapa orang itu…..!” kata salah seorang dari mereka.
“Siapakah kau anak muda…..?” kata Ki Jagabaya.
“Seorang pengembara, Ki…..!” kata Jaka Tingkir.
“Bawa ke kademangan…..! Anak muda juga ikut kami…..! juga lurahe pasar…..!” perintah Ki Jagabaya.
“Barang-barang curian ini bagaimana, Ki…..?” tanya orang gagah yang tadi menggeledah pencuri itu.
“Dibawa juga ke kademangan, nanti yang berhak boleh mengambil…..!” lanjut Ki Jagabaya.
Hampir semua yang pernah kehilangan di pasar itu ikut pergi ke kademangan, siapa tahu barang mereka ada diantara barang sitaan tadi. Atau jika barang mereka dibawah pulang oleh maling itu, nantinya bisa diambil kembali.

Kejadian itu sungguh membuat heboh seluruh pasar. Semua orang membicarakannya. Hampir semua memperbincangkan anak muda yang gagah berani menangkap maling yang jauh lebih besar. Mereka kagum, bagaimana seorang maling yang jauh lebih besar perawakannya itu dengan mudah diringkus oleh seorang anak muda yang masih terlalu muda. Sepertinya cengkeraman anak muda itu begitu kuat sehingga malingnya tak berdaya. Mereka memang sering melihat maling dan wanita pengutil itu di pasar itu. Namun mereka samasekali tidak menduga bahwa keduanya adalah maling. Tetapi hampir semua orang di dalam pasar itu belum pernah melihat anak muda yang meringkus maling tersebut.
“Siapakah dia, anak muda yang perkasa……?” celetuk salah seorang dari mereka.
“Mungkin dia seorang bangsawan yang ingin tahu keadaan kawula…..!” sahut kawannya.
“Mungkin juga seorang murid perguruan yang sedang menjalani tapa ngrame………!” sahut yang lain.
………………..
Bersambung…………

Petuah Simbah: “Hanya orang yang bernyali yang berani menumpas kejahatan.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *