Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#166

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#166

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(166)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir sebelumnya memang belum mendengar kabar tentang kemenangan pasukan Sultan Trenggono tersebut atas pasukan Portugis. Ia ikut bangga karena bangsa sendiri yang mampu menaklukkan bangsa asing berkulit putih. Ia memang tertarik menjadi seorang prajurit seperti pesan Ki Ageng Sela.
Di warung itu, Jaka Tingkir tidak mendapat kabar penting lainnya seperti yang telah ia dengar. Mereka berbincang ngalor ngidul tak ada ujung pangkalnya. Bahkan kadang terdengar gelak tawa dan senda gurau di antara mereka.
Pasar Kedungjati sepertinya termasuk pasar yang ramai pula. Jaka Tingkir memerlukan masuk ke dalam pasar mumpung sudah sampai di tempat itu. Ia ingin mencari baju dan kain untuk ganti salin di perjalanan. Ia datangi bakul wade yang menggelar dagangan aneka sandang dan kain. Pengunjung cukup ramai di tempat itu, bahkan berjubel. Ada wanita setengah baya yang banyak bertanya dan membolak-balik sandang dan kain yang digelar. Sesekali ia menawar, namun dengan harga yang jauh dibawah yang ditawarkan. Ia pura-pura memilih beberapa sandang dan kain yang akan dibeli.
Jaka Tingkir yang masih di belakang kerumunan itu melihat seorang lelaki melolos beberapa kain yang kemudian dimasukkan dibalik kain yang dipakainya.
Jaka Tingkir seolah-olah tidak melihat tingkah orang itu, namun ia menunggu sampai ia mendapat bukti akan pencurian itu. Setelah ia yakin bahwa orang itu telah memasukkan beberapa pakaian disebalik kainnya, ia segera bertindak.
Jaka Tingkir kemudian menangkap tangan orang itu dan memelintirnya kebelakang.
“Bangsat….! kubunuh kau….!” umpat orang itu.
Namun Jaka Tingkir semakin kuat memelintir tangan orang itu. Orang itu meronta namun tak berdaya.
“Heeee….! kau apakan suamiku…..?” teriak wanita setengah baya yang tadi banyak bertanya.
Terjadi kehebohan di sekitar bakul wade tersebut. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sehingga ada seseorang anak muda yang tiba-tiba memelintir tangan orang setengah baya yang jauh lebih gagah perawakannya.
“Lepaskan suamiku…..!” teriak wanita itu sambil memukul-mukul Jaka Tingkir.
“Jika kau masih memukuli aku, tangan orang ini aku patahkan…..!” ancam Jaka Tingkir.
Terjadinya ribut-ribut di sekitar bakul wade itu mengundang lurah pasar untuk mendatangi.
“Heee….! lepaskan….! Kau siapa berani membuat onar di pasar ini….?” kata lurah pasar itu.
“Ia licik, Ki Lurah…..! Tiba-tiba menangkap aku dari belakang…..!” kata orang yang tangannya dipelintir oleh Jaka Tingkir itu.
“Heee lepaskan…..! kau mau adol gendhung – pamer ilmu di pasar ini….?” bentak lurah pasar.
“Ki Lurah kenal dengan orang ini…..?” tanya Jaka Tingkir balik bertanya.
Orang yang disebut lurah pasar itu tak segera menjawab, karena ia tahu bahwa orang yang ditangkap itu adalah orang yang sering mengutil di pasar itu bersama seorang wanita yang diaku sebagai istrinya.
Namun kemudian lurah pasar itu menjawab juga; “itu bukan urusanmu, akulah yang bertanggungjawab atas keamanan pasar ini…..!”
“Bagaimana jika ada seorang pencuri yang tertangkap…..?” Jaka Tingkir kembali balik bertanya.
“Bohong…..! suamiku bukan pencuri, bohong…..! anak ini bohong…..!” teriak wanita setengah bsyat itu.
Namun Jaka Tingkir tidak menggubris, ia justru semakin kuat memelintir tangan orang yang ia tangkap.
“Auuooohch……! sakiit…., hiyuuung…..!” keluh orang yang dipelintir tangannya semakin kuat oleh Jaka Tingkir.
Mereka yang merubung di tempat itu tak tahu mesti berbuat apa, karena mereka tidak tahu duduk persoalannya.
“Lepaskan dulu, anak muda…..!” kata lurah pasar itu sedikit melunak.
“Baiklah aku lepaskan, namun tolong digeledah apa yang ada di balik kain yang dipakai orang ini. Kalian semua yang menjadi saksi, dan Mbok Bakul wade, lihat apakah barang-barang itu adalah milikmu…..!” kata Jaka Tingkir.
Lurah pasar tidak segera menuruti permintaan Jaka Tingkir. Ada keraguan yang amat sangat di dalam benaknya.
…………..
Bersambung………

Petuah Simbah: “Tauladan dari Jaka Tingkir yang tanggap dan peduli terhadap situasi.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *