Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#186

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#186

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(186)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Para calon prajurit diberi kesempatan untuk beristirahat serta makan dan minum yang telah disediakan.
“Pendadaran apa setelah ini, Jaka Tingkir…..?” Tanya senopati Brajamusti.
“Titian bambu itu, gusti senopati…..!” Kata Jaka Tingkir. Kemudian lanjutnya; “Tetapi sebaiknya gusti senopati memberi sesorah kepada mereka terlebih dahulu…..!”
“Baiklah, setelah beristirahat, kumpulkan mereka di bawah ringin kurung itu……!” Pinta senopati Brajamusti.

Setelah beristirahat, mereka kemudian dikumpulkan di bawah ringin kurung yang rindang.
Senopati Brajamusti kemudian menyampaikan sesorahnya.
Dikatakannya bahwa lari jarak jauh tadi tidak sekedar mengukur ketahanan seseorang, tetapi juga kedisiplinan. Dalam barisan prajurit, tidak boleh ada yang melesat lari mendahului pimpinan barisan. Jika itu nanti terjadi dalam penyerbuan tentu sangat berbahaya. Kata senopati Brajamusti tanpa menyebut nama Daduk Awuk dan kawan-kawannya. Namun Dadung Awuk dan kawan-kawannya yang merasa disinggung.
Tiba-tiba Dadung Awuk menyela; “Tetapi lurah prajurit muda itu tidak mengatakan terlebih dahulu, gusti senopati……!”
Tetapi senopati tidak langsung menanggapi kata-kata dari Dadung Awuk itu. Justru senopati Brajamusti berkata lain; “Dan perlu anda sekalian ketahui bahwa seorang calon prajurit tidak boleh memotong pembicaraan dari seorang pimpinan…..!”
Hampir semua para calon prajurit menahan senyum, namun Dadung Awuk justru merah padam mukanya menahan malu. Namun bukan penyesalan yang tumbuh di hati Dadung Awuk, tetapi dendam kepada lurah prajurit yang masih muda itu. Mengapa ia tidak memberikan pemahaman terlebih dahulu sehingga ia telah berbuat dua kesalahan. Jika ada kesempatan, ia ingin menunjukkan bahwa ia akan mampu mengalahkan lurah prajurit wira tamtama yang masih sangat muda itu. Tetapi muka Dadung Awuk semakin merah padam ketika senopati Brajamusti melanjutkan sesorahnya.
“Perlu kalian ketahui pula bahwa seorang calon prajurit tidak sepantasnya merendahkan pimpinan prajurit, walaupun ia masih jauh lebih muda……!”
Tanpa diduga, Dadung Awuk menghantam tanah tempat ia duduk untuk melampiaskan kemarahannya.
“Gdebuuuk…..!” Debu tanah pun berhamburan.
Jika hantaman itu menimpa dada seseorang tentu akan remuk tulang iganya. Dadung Awuk adalah salah seorang murid dari sebuah perguruan. Ia merupakan yang terbaik dari perguruan itu. Namun mungkin sekali perguruan itu tidak mengajarkan sopan santun dan budi pekerti kepada para muridnya. Terbukti seluruh murid perguruan itu melakukan tindakan yang sama dengan Dadung Awuk tanpa merasa bersalah.
Tetapi senopati Brajamusti tidak terpancing oleh ulah Dadung Awuk itu. Dibiarkannya ia melampiaskan kekesalannya. Namun demikian, semua itu menjadi catatan bagi mereka. Sedangkan Jaka Tingkir tetap berwajah dingin menanggapi ulah dari Dadung Awuk tersebut. Jaka Tingkir pun menyadari bahwa Dadung Awuk dan kawan-kawannya itu pasti dari perguruan yang sama dan telah memiliki bekal olah kanuragan yang lebih dari cukup. Namun mungkin sekali perguruan itu kurang menanamkan kedisiplinan dan kepatuhan.

Permainan untuk pendadaran selanjutnya adalah dengan meniti titian bambu yang telah terbentang di pojok alun-alun. Di bawah titian itu digelar pasir lembut agar jika ada yang terjatuh tidak akan membahayakannya.
Prajurit yang diperbantukan telah bersiap untuk mengatur jalannya pendadaran dengan meniti titian bambu itu. Dadung Awuk dan kawan-kawannya tetap bergabung dengan mereka, namun dengan wajah-wajah yang gelap.

Jaka Tingkir tidak ingin hanya duduk dan menyaksikan, namun ia mengawali dengan meniti bambu itu untuk memberi contoh.
Ia telah berdiri di ujung awal dari titian bambu itu. Sejenak ia merentangkan tangan untuk mencari keseimbangan. Kemudian ia melangkah dengan tenang langkah demi langkah. Bambu panjang itu tidak tergetar sedikitpun sampai Jaka Tingkir di ujung titian.
Tepuk tangan pun menggema dari para calon prajurit. Tetapi Dadung Awuk dan kawan-kawannya tidak ikut bertepuk tangan.
“Huuh…..! Mengapa permainan anak kecil itu mesti mendapat tepuk tangan….?” Batin Dadung Awuk.
……………
Bersambung………….

Petuah Simbah: “Sebuah perguruan, semestinya tidak hanya mengajarkan ilmu dan olah kanuragan, tetapi juga sopan santun dan budi pekerti.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *