Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#201

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(201)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Ki Kebo Kanigara kemudian memanggil murid-muridnya, Ki Wuragil, Mas Manca dan Mas Wila. Demikian pula Jaka Tingkir dipanggilnya pula.
“Karebet….., cobalah kembali ke Demak Bintara lagi, siapa tahu Kanjeng Sultan sudah tidak marah lagi…..!” Kata Ki Kebo Kanigara setelah para muridnya berkumpul.
“Bagaimana mungkin Kanjeng Sultan akan melupakan begitu saja kesalahan Karebet, Paman…..?” Kata Jaka Tingkir yang meragukan bahwa Kanjeng Sultan telah reda kemarahannya.
“Kita tidak akan pernah tahu jika tidak pernah dicoba…..!” Dalih Ki Kebo Kanigara.
“Baiklah Paman, Karebet akan mencobanya…..!” Kata Jaka Tingkir.
“Biarlah Ki Wuragil, Mas Manca dan Mas Wila menyertaimu. Jika kalian berminat, kalian juga bisa melamar menjadi seorang prajurit…..!” Lanjut Ki Kebo Kanigara.
“Jika aku tentu sudah terlalu tua. Aku lebih tertarik untuk merawat padepokan ini. Namun aku ingin mengantar Mas Karebet sampai di Demak Bintara……!” Ki Wuragil yang menyahut.
“Aku akan ikut mencoba melamar sebagai calon prajurit……!” Sahut Mas Manca.
“Aku juga akan mencoba melamar menjadi calon prajurit pula…..!” Mas Wila ikut menimpali.
“Berangkatlah……! Bekal kalian sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang prajurit…..!” Kata Ki Kebo Kanigara sebagai gurunya.

Di hari berikutnya, mereka berempat, Ki Wuragil, Mas Manca, Mas Wila dan Mas Karebet alias Jaka Tingkir meninggalkan padepokan di tepi Rawapening. Mereka akan menuju ke Demak Bintara ke arah timur yang jalanya lebih pandai, jika dari Rawapening ke utara, jalannya lebih curam. Meskipun demikian mereka juga tetap akan melewati lereng pegunungan dan sungai.

Sementara itu, perjalanan Kanjeng Sunan Kudus beserta tujuh orang prajurit yang menyamar sebagai seorang santri telah mendekati perbatasan wilayah Pengging. Hari telah menjelang malam, sehingga mereka mesti beristirahat di tengah hutan. Baru esok pagi mereka akan melanjutkan perjalanan.
Malam itu malam yang tanpa bulan, sehingga hutan terasa gelap gulita.
Menjelang tengah malam, Kanjeng Sunan Kudus ingin menguji bende pusaka.

Dalam pada itu, kawula Pengging yang bertempat tinggal tak jauh dari hutan terkejut. Mereka mendengar auman banyak macan yang menggetarkan siapapun yang mendengarnya. Mereka sangat jarang mendengar auman macan, apalagi sampai berjumlah banyak. Dan di tengah malam itu seperti terdengar auman macan yang bersahut-sahutan dari tengah hutan. Auman yang jauh lebih keras daripada auman harimau pada umumnya.
Mereka kemudian berkumpul di gardu ronda dan hanya saling berbincang tentang suara auman harimau yang membuat bergidik bulu kuduk. Tentu saja mereka tidak berani masuk ke dalam hutan.
Auman macan yang kadang berhenti dan kemudian muncul lagi bersahut-sahutan. Apakah macan-macan itu sedang berebut mangsa? Perbincangan mereka tak menemukan jawab.

Sebelum matahari terbit, auman macan itu sudah tidak terdengar lagi. Beberapa warga kampung telah berkumpul kembali untuk mencoba masuk ke dalam hutan. Mereka membawa berbagai peralatan berburu dan berbagai macam senjata. Tombak, kapak, pedang, panah, lembing, tali dan jaring mereka bawa.
Bersama banyak orang, mereka tidak takut jika berjumpa dengan harimau. Dengan berbagai peralatan dan senjata itu mereka yakin akan mampu mengatasi harimau jika bertemu. Bahkan mereka akan menangkapnya.
Namun mereka terkejut, yang dijumpai bukan kawanan macan, tetapi delapan orang yang sedang berkumpul di tengah hutan. Sepertinya mereka baru saja bangun tidur, dan tidur di dalam hutan itu.
Kanjeng Sunan Kudus dan para pengiringnya terkejut karena kedatangan banyak orang dengan berbagai macam senjata dan peralatan berburu itu. Diam-diam mereka bersiaga jika harus bertempur melawan mereka. Jika mereka yang datang itu hanyalah orang kampung sebagai petani, Kanjeng Sunan Kudus dan para pengikutnya tidak terlalu khawatir. Karena para pengikut Kanjeng Sunan Kudus itu adalah para prajurit pilihan. Sedangkan Kanjeng Sunan Kudus adalah juga seorang senopati agung yang berilmu tinggi.
…………….
Bersambung…………

Petuah Simbah: “Hati-hati jika membawa senjata telanjang, karena akan mudah tersulut pertentangan.”
(@SUN).

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *