Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#203

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(203)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Kanjeng Sunan Kudus dan para pengiringnya segera melanjutkan perjalanan untuk menemui Ki Ageng Pengging.
Kanjeng Sunan Kudus telah banyak tahu tentang Ki Ageng Pengging yang merupakan putra dari Ki Ageng Pengging yang terdahulu. Ki Ageng Pengging nampaknya masih belum bisa melepaskan diri dengan kejayaan Majapahit. Padahal kini jaman sudah berubah, pusat pemerintahan juga sudah berpindah. Semestinya, Pengging harus mengakui pemerintahan Kanjeng Sultan di Demak Bintara. Dahulu, Patih Wanasalam pernah mengingatkan Ki Ageng Pengging untuk setia kepada Demak Bintara. Namun sampai saat ini belum juga diwujudkan.
Kanjeng Sunan Kudus juga telah mendengar bahwa Ki Ageng Pengging menerima pengajaran ilmu agama dari Syekh Sitijenar yang tidak selaras dengan yang diajarkan oleh para wali. Oleh karena itu, Kanjeng Sunan Kudus ingin meluruskan ajaran yang telah dianut oleh Ki Ageng Pengging itu.

Siang itu Ki Ageng Pengging hanya berdua dengan sang istri di rumah kadipaten. Istri Ki Ageng Pengging yang tentunya bukan ibu dari Jaka Tingkir Mas Karebet. Ibu Mas Karebet yang juga istri dari Ki Ageng Pengging telah berpulang sejak Mas Karebet masih bayi merah. Sehingga saat itu Mas Karebet dititipkan kepada Nyi Ageng Tingkir, sehingga kemudian Mas Karebet lebih dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir.
Di rumah belakang memang ada beberapa inang dan juru taman. Ki Ageng Pengging tidak begitu memerlukan prajurit jaga di rumah kadipaten, karena Ki Ageng merasa tidak memiliki musuh dan juga tidak pernah bermasalah dengan siapapun.

Kanjeng Sunan Kudus telah tiba di halaman pendapa kadipaten Pengging. Beliau kemudian menyampaikan salam keagamaan yang biasa ia ucapkan. Nyi Ageng Pengging segera bergegas ke halaman dan menyambut tamunya dengan salam pula. Nyi Ageng Pengging terkejut karena yang hadir ada delapan orang pria yang berpakaian sebagai santri. Sedangkan yang seorang berpakaian jubah putih dan berikat kepala serba putih pula.
“Maaf Nyi….., apakah Nyai adalah Nyi Ageng Pengging…..?” Kanjeng Sunan Kudus bertanya.
“Benar Kisanak……! Siapakah andika sekalian ini? Dan ada keperluan apa….?”
Nyi Ageng Pengging berganti bertanya.
“Kami adalah utusan Allah, datang dari Kudus. Dan ingin menghadap Ki Ageng Pengging……!” Jawab Kanjeng Sunan Kudus yang belum berterus terang bahwa mereka adalah utusan Kanjeng Sultan. Dengan demikian, Ki Ageng Pengging tidak akan berprasangka buruk kepada mereka. Kanjeng Sunan Kudus pun berharap, Ki Ageng Pengging tidak ragu untuk menemui mereka.
“Baik kisanak sekalian, silahkan naik ke pendapa. Akan aku beritahu Ki Ageng yang sekarang sedang di sanggar…..!” Kata Nyi Ageng Pengging.
Kanjeng Sunan Kudus dan para pengikutnya kemudian naik ke pendapa setelah dipersilahkan oleh Nyi Ageng Pengging.

Saat itu Ki Ageng Pengging memang sedang berada di sanggar untuk sekedar melemaskan otot-otot yang jarang untuk bekerja keras. Ki Ageng Pengging memang berbeda dengan saudaranya, Ki Kebo Kanigara yang tekun mendalami berbagai ilmu olah kanuragan dan ilmu jayakasantikan. Ki Ageng Pengging lebih mendalami ilmu agama dari Syekh Sitijenar dan juga ilmu pertanian dan ilmu pemerintahan. Meskipun demikian, bukan berarti Ki Ageng Pengging sama sekali tidak berilmu olah kanuragan.
Ki Ageng Pengging berhenti sejenak ketika pintu diketuk. Ia hafal dengan ketukan itu, pasti sang istri yang datang. Sang istri memang terbiasa mengetuk pintu untuk keperluan apapun.
“Masuk saja Nyi……!” Sapa Ki Ageng Pengging.
Nyi Ageng Pengging pun segera masuk seperti biasa.
“Ada apa Nyi…..? Ini kan belum saatnya untuk makan siang…..!” Tanya Ki Ageng Pengging.
“Di pendapa ada tujuh atau delapan orang tamu, Ki Ageng…..!” Kata Nyi Ageng Pengging.
“Begitu banyak…..! Siapakah mereka dan dari mana…..?” Tanya Ki Ageng Pengging.
“Mereka mengatakan bahwa mereka adalah utusan Allah dan berasal dari Kudus…..!” Jawab Nyi Ageng Pengging seperti yang dikatakan oleh Kanjeng Sunan Kudus.
……………
Bersambung………..

Petuah Simbah: “Ada berbagai cara untuk membangun kepercayaan lawan bicaranya.”
(@SUN).

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *