Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#272

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#272

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(272)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Para kerabat prajurit yang ikut mengawal Pangeran Hadliri hampir semuanya ikut menunggu. Mereka sangat mengkhawatirkan keselamatan saudaranya. Mereka telah mendengar bahwa enam kereta kadipaten telah berangkat untuk menjemput para prajurit yang terluka dan bahkan yang gugur. Mereka berharap bahwa yang gugur itu bukan saudaranya.
Kanjeng Ratu Kalinyamat berdebar-debar, demikian pula mereka yang menunggu, ketika terdengar derap kaki kuda yang berlari kencang. Benar, beberapa saat kemudian terlihat dua orang prajurit meloncat dari punggung kuda. Mereka segera menghadap Kanjeng Ratu Kalinyamat yang didampingi oleh seorang senopati dan para tetua.
“Bagaimana dengan Kangmas Pangeran, prajurit…..?” Bertanya Kanjeng Ratu Kalinyamat tidak sabar.
“Pangeran Hadliri memang terluka, namun sadarkan diri. Sekarang dalam perjalanan pulang…..!” Berkata prajurit yang mendahului itu.
“Ayo antarkan aku untuk menjemput…!” Desak Kanjeng Ratu Kalinyamat yang sangat gelisah.
“Sabar Kanjeng Ratu….! Sebentar lagi pasti tiba…..!” Hibur tetua kadipaten.
“Benar Kanjeng Ratu, sebaiknya kita tunggu di sini saja…..!” Imbuh senopati yang mendampinginya.

Prajurit itu kemudian minta kepada senopati agar memerintahkan untuk mengosongkan pendapa. Dan juga agar menyiapkan bangku atau balai-balai untuk menyemayamkan jasad-jasad kurang lebih delapan. Demikian pula halaman pendapa agar dikosongkan, karena kereta-kereta itu mesti berhenti di halaman pendapa kadipaten.
Semakin banyak orang-orang dan para prajurit yang menunggu kedatangan kereta yang menjemput para prajurit. Namun wajah-wajah murung yang tampak pada mereka.
Mereka sudah mendengar bahwa para prajurit bersama dengan Pangeran Hadliri itu dicegat oleh prajurit Demak Jipang. Mereka tidak mengerti, bahkan tak habis pikir, mengapa Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadliri serta para prajurit Jepara menjadi sasaran dari para prajurit Demak Jipang. Jika yang menjadi sasaran adalah Sunan Prawoto, mereka bisa memahami. Tetapi Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadliri itu berada di Jepara dan tidak ada sangkut paut dengan terbunuhnya Pangeran Sekar Seda Lepen oleh Sunan Prawoto. Bahkan mereka juga mendengar bahwa seandainya Kanjeng Ratu Kalinyamat tidak diselamatkan terlebih dahulu, bisa jadi akan menjadi sasaran pula. Beruntungnya Kanjeng Ratu Kalinyamat selamat sampai di Jepara.
Hampir semuanya mengutuk Harya Penangsang dari Demak Jipang yang tentu sebagai yang memerintahkan.

Ketegangan semakin mencekam ketika mendengar derap banyak kaki kuda yang tidak kencang. Mereka yakin bahwa yang datang adalah kereta-kereta dan para prajurit berkuda yang mengiringinya. Semua menunggu dengan dada berdebar-debar. Bahkan ada yang mulai menangis membayangkan korban-korban yang akan segera tiba.
“Ayooo antarkan aku…..!” Teriak Kanjeng Ratu Kalinyamat tidak sabar.
“Tunggu sebentar, Kanjeng Ratu…..!” Cegah Mbok Emban yang telah sepuh.

Bukan hanya halaman pendapa kadipaten yang dipadati para prajurit dan orang-orang yang menunggu, namun disepanjang jalan menuju ke pendapa itu pun berjubel warga yang telah mendengar kabar pertempuran.
Kereta-kereta itu pun telah memasuki kota kadipaten. Isak tangis terdengar di sepanjang jalan yang dilalui. Bahwa tak sedikit yang menangis meraung-raung ketika tahu banyak prajurit yang gugur. Bahkan pula, tangis itu bukannya reda, tetapi menjalar menular ke yang lain.
“Darba……! Apakah kau selamat……?” Teriak seseorang yang tahu Darba tetangganya ikut mengiringi Pangeran Hadliri.
“Kang Wiguna……! Apakah kau juga selamat…..?” Teriak orang yang lain lagi memanggil nama sepupunya yang ikut ke Pajang ketika itu.
Namun tidak ada yang menyahut dari dalam kereta itu.
Senopati yang mendampingi Pangeran Hadliri tersayat hatinya menyaksikan duka yang mendalam para warga yang berjubel di tepi jalan
…………..
Bersambung………….

Petuah Simbah: “Buah dari peperangan adalah kedukaan.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *