Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#273

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(273)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Yang mereka saksikan di sepanjang perjalanan adalah isak tangis dan wajah-wajah duka dan sendu.
Jika para prajurit itu gugur dalam pertempuran yang ksatria, mereka pasti akan bangga karena sanak saudaranya menjadi bunga bangsa. Namun mereka gugur karena dicegat oleh kelicikan musuh yang jumlahnya tidak seimbang. Lagi pula alasan pencegatan itu juga tak bisa diterima. Sunan Prawoto telah gugur, namun keluarga Jepara juga menjadi sasaran.

Kanjeng Ratu Kalinyamat tidak bisa dicegah ketika kereta pembawa Pangeran Hadliri telah masuk di pelataran. Ia berlari menyongsong sang suami yang dikatakan telah terluka. Tak ada orang yang mampu mencegahnya.
“Kangmas Pangeran……!” Pekik Kanjeng Ratu Kalinyamat.
Semua terkesiap menyaksikan ulah Kanjeng Ratu Kalinyamat.
“Sabar Kanjeng Ratu……, biarlah tandu diturunkan dahulu…..!” Berkata senopati pengiring yang juga terluka dan pakaiannya pun basah oleh darah merah.
Para kerabat prajurit yang ikut dalam pertempuran di tepi hutan itu juga tidak sabar ingin mengetahui nasib saudaranya. Namun para prajurit Jepara berusaha untuk menahan agar prajurit yang terluka bisa segera ditangani dan para prajurit yang gugur bisa segera di semayamkan di pendapa.
Isak tangis segera meledak di halaman pendapa kadipaten itu. Bahkan tak sedikit yang menangis meraung tak terkendali. Para embok yang melihat anak kebanggaannya telah gugur dengan luka arang keranjang pingsan tak sadarkan diri. Mereka yang menyaksikan tak kuasa pula menahan tangis. Mereka sesenggukan menahan duka yang mendalam.

Di pendapa telah terbaring delapan jasad prajurit yang gugur. Dua orang prajurit telah dirawat oleh tabib kadipaten.
Pangeran Hadliri masih sempat di bawa ke bangsal peristirahatan. Beberapa tabib terpercaya sedang merawatnya.
Kanjeng Ratu Kalinyamat tak kuasa menahan tangis. Hatinya bagai teriris ketika Pangeran Hadliri mendesis kemudian merintih menahan sakit yang tak terkira.
Pangeran Hadliri telah bertahan sekuat tenaga agar bisa bertemu dengan sang istri yang amat ia sayangi.
“Pangeraaan…., kuatkan Pangeraan….!” Berkata Kanjeng Ratu Kalinyamat.
Pangeran Hadliri mencoba membuka mata untuk bisa melihat sang istri.
“Yaa…. Yayi…., aku kuat….!” Berkata Pangeran Hadliri lirih dengan wajah yang pucat pasi.
Kanjeng Ratu Kalinyamat menggenggam erat tangan sang suami yang dingin.
“Yayi Ratu…..!” Bisik Pangeran Hadliri lirih hampir tak terdengar.
“Yaaa Kangmas Pangeran…..!” Berkata Kanjeng Ratu Kalinyamat.
“Jagaa dirimu baik-baiiik…..!” Berkata Pangeran Hadliri terbata.
“Pangeran……, jangan berkata seperti itu…..! Kita akan saling menjaga….” Sela Kanjeng Ratu Kalinyamat.
“Didiklah Pangiri agar menjadi ksatria utama…..!” Bisik Pangeran Hadliri semakin lambat.
“Pangeraaan…..!” Hanya itu yang terucap dari Kanjeng Ratu Kalinyamat, kerongkongannya tercekat.
Namun tiba-tiba yang berada di sisi ranjang terkejut, Pangeran Hadliri berkata lebih lantang; “Penangsang……, Penangsaaaang……, Penangsang harus tewas……!”
Kata-kata Pangeran Hadliri terputus. Yang terdengar kemudian adalah jerit tangis Kanjeng Ratu Kalinyamat.
“Pangeraaan……..!”
Namun Kanjeng Ratu Kalinyamat tak mampu bertahan, ia terkulai pingsan.

Jerit tangis memenuhi pendapa dan sekitarnya. Bahkan tangis itu kemudian menjalar keluar pendapa kadipaten. Isak tangis yang sebelumnya telah reda, kini meledak lagi. Getok tular gugurnya Pangeran Hadliri segera menjalar.
“Pangeran seda ……., Pangeran seda….., Pangeran seda……!” bisik-bisik mereka.

Mereka teramat sedih kehilangan panutan yang mereka banggakan dan hormati di Jepara.
Pangeran Hadliri yang juga bernama Pangeran Toyib itu telah berhasil memajukan kadipaten Jepara dengan perdagangan sampai di luar pulau. Pangeran Hadliri juga telah berhasil mengembangkan seni ukir kayu Jepara menjadi andalan kadipaten itu.
…………….
Bersambung………..

Petuah Simbah: “Dalam peperangan, nyawa manusia seakan tak berharga.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *