Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#293

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#293

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(293)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Ki Juru Martani kemudian minta agar kedua tawanan itu tetap diikat, karena totokan simpul syaraf itu pada waktunya akan pulih dengan sendirinya.
“Lucuti senjata-senjatanya agar tidak berbahaya…..! Kalian berdua menunggu di sini. Aku akan menyusul Adi Pemanahan…..!” Berkata Ki Juru Martani.
Ki Penjawi dan Raden Mas Danang Sutawijaya menunggui Ki Soreng Satru dan Ki Soreng Singaparna yang telah tidak berdaya. Sedangkan Ki Juru Martani berlari kencang menyusul Ki Pemanahan ke bangsal Sultan Hadiwijaya.

Sementara itu, dua orang Soreng, Soreng Pati dan Soreng Rana sudah tak berdaya di dalam bangsal Sultan Hadiwijaya ketika Ki Pemanahan masuk karena pintu terbuka. Ki Pemanahan sempat tertegun ketika mendengar erangan orang kesakitan.
“Ooh…., Dimas Sultan selamat……?” Sapa Ki Pemanahan.
“Silahkan masuk Kakang Pemanahan. Ini ada tamu yang tak diundang…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya.
“Siapakah mereka, Dimas Sultan……?” Bertanya Ki Pemanahan.
“Aku belum sempat bertanya, namun pasti bisa ditebak…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya.
“Pasti suruhan Harya Penangsang……!” Tebak Ki Pemanahan.
Ketika mereka sedang berbincang, datanglah Ki Juru Martani.
“Apa yang terjadi, Dimas Sultan……?” Bertanya Ki Juru Martani.
“Itu dua orang sudah tidak berdaya, aku belum sempat bertanya kepadanya…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya.
Namun Sultan Hadiwijaya heran, tadi sangat terasa serangan ilmu sirep. Namun kini terasa pudar dan tawar.
Ki Soreng Rana dan Ki Soreng Pati sendiri berdebar-debar dengan kehadiran dua orang yang telah ia dengar namanya dan kesaktiannya tak jauh berbeda dengan Sultan Hadiwijaya sendiri. Keduanya yakin dua orang itu adalah Ki Juru Martani dan Ki Pemanahan.
Ki Soreng Pati dan Ki Soreng Rana juga heran karena pengaruh ilmu sirep telah hilang sama sekali.
“Di teras bangsal juga ada dua orang yang menjadi tawanan, mereka dijaga oleh Adi Penjawi dan Angger Jebeng…..!” Berkata Ki Juru Martani yang biasa memanggil Danang Sutawijaya dengan sebutan Jebeng.
“Yaa…., aku sebelumnya juga telah tahu bahwa ada yang bersembunyi di bawah pohon kantil, juga ada yang bertengger di pohon sawo kecik…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya.
“Jadi Dimas Sultan sudah tahu sebelumnya…..?” Bertanya Ki Pemanahan.
“Sebaiknya dua orang ini dibawa ke teras juga…..! Nanti aku ceritakan kejadiannya…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya.
Kedua tawanan itu kemudian dibawa ke teras, dijadikan satu dengan tawanan yang ditunggui oleh Ki Penjawi dan Raden Mas Danang Sutawijaya.

Sultan Hadiwijaya kemudian bercerita kepada Ki Juru Martani dan Ki Pemanahan.
Diceritakan bahwa, sejak sentuhan pertama adanya ilmu sirep yang ditebar, Sultan Hadiwijaya langsung tanggap dan bersiaga. Yang paling utama dilakukan adalah mengamankan Gusti Ratu Cempaka yang langsung tertidur pulas. Gusti Ratu Cempaka yang sedang mengandung itu kemudian dibopong dan ditidurkan di tempat yang aman.
Sultan Hadiwijaya kemudian menyadari bahwa ilmu sirep ini sangat tajam, karena semua penghuni keraton tertidur kecuali dirinya.
Ia kemudian dengan hati-hati mengamati keadaan. Ia melihat ada orang yang duduk di bawah pohon kantil. Ia kemudian memusatkan nalar budinya untuk mengetahui sumber ilmu sirep itu. Dan kemudian diketahui berada di dahan pohon sawo kecik.
Ia pun melihat kedatangan dua orang yang tentu bagian dari orang penyebar ilmu sirep itu.
Sultan Hadiwijaya mendengar bahwa dua orang itu akan mengecek apakah para prajurit dan para wanita di dapur juga sudah tertidur.
Ia mendengar rencana mereka bahwa kedua orang itu akan memasuki bilik Sultan, sedangkan yang seorang tetap berjaga, yang seorang lagi terus melontarkan ilmu sirepnya.
Sultan Hadiwijaya sengaja tidak mengganggu mereka agar bisa menangkap mereka tanpa membuat gaduh seisi keraton. Atau bahkan bisa gagal menangkap seorang pun karena akan mudah melarikan diri karena malam yang sangat pekat. Lagi pula jika mereka belum berbuat, akan tidak mudah menuduh mereka, bahwa mereka akan membunuh Sultan.
Siasat Sultan Hadiwijaya berhasil, karena mereka bagai musang masuk perangkap.
………………
Bersambung………..

Petuah Simbah: “Ikannya tertangkap, namun airnya tidak menjadi keruh.”
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *