Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#139

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#139

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Ki Ageng Pengging.

Senopati itu telah mengutus satu bregada prajurit untuk mengamankan area yang akan digunakan untuk memasang jebakan. Jangan sampai jebakan itu di ketahui oleh prajurit telik sandi lawan. Mereka ingin berhasil seperti pasukan yang dikirim ke jembatan Kali Wareng. Mereka pun memperhitungkan bahwa pasukan lawan tidak akan segera tiba di tempat itu. Mereka pasti sedang merawat prajurit-prajurit yang tewas maupun yang terluka. Lagi pula terbakarnya jembatan pasti menghambat perjalanan mereka. Sedangkan kini hari telah lewat tengah hari.

Sementara itu, yang terjadi memang seperti yang diperhitungkan. Pasukan Demak Bintara yang besar jumlahnya itu tertahan di seberang Kali Wareng. Mereka harus menyelenggarakan penghormatan kepada para prajurit yang gugur. Mereka juga harus merawat para prajurit yang terluka baik karena tertancap anak panah maupun yang luka bakar. Bahkan ada beberapa prajurit yang terhanyut air sungai Kali Wareng tersebut. Walaupun arus air tidak terlalu deras, namun prajurit yang gugur dan terluka parah pasti akan terhanyut. Mereka harus menyisir aliran sungai itu ke hilir. Dan memang kemudian ditemukan beberapa prajurit yang gugur tersangkut di akar-akar kayu di tepi sungai ituu.
Sultan Trenggono dan para senopati, bahkan seluruh prajurit dalam pasukan itu marah atas keteledoran mereka. Semestinya siang hari itu mereka telah mampu menghancurkan pasukan lawan yang jauh lebih sedikit. Namun yang terjadi adalah beberapa korban di pihaknya dan tak seorang pun korban di pihak lawan.
Sunan Kudus pun menyarankan untuk menyelenggarakan penghormatan yang sepantasnya terlebih dahulu kepada para pahlawan yang gugur. Dan mereka juga harus merawat mereka yang terluka. Penyerbuan ke pasukan Majapahit bisa ditunda esok hari atau bahkan bisa beberapa hari untuk membuat jenuh pasukan lawan yang menghadang.

Sementara itu, Sunan Ngudung dan para pengiringnya telah sampai di kadipaten Kediri. Di Kediri tak tampak persiapan pasukan prajurit yang siap tempur seperti di Gresik. Namun demikian penjagaan ketat di setiap gerdu jaga pun terlibat juga. Sunan Ngudung dan pengiringnya beberapa kali harus memberi pengertian bahwa mereka adalah utusan Kanjeng Sultan Trenggono untuk menghadap Kanjeng Adipati Kediri.
“Kami hanya bertujuh tentu tidak mungkin akan berani berbuat yang bisa mencelakakan diri kami ini…..!” dalih Sunan Ngudung di setiap gerdu jaga.
Dan akhirnya Sunan Ngudung bisa diterima oleh Adipati Kediri di pendapa kadipaten.
Adipati Kediri telah mengetahui akan adalah pasukan besar Demak Bintara yang terdiri dari gabungan beberapa negeri dari bang kulon dan tengah. Ia tahu bahwa pasukan itu sangat besar dan kuat, mustahil pasukan Kediri akan mampu mengimbangi. Ia pun telah mendengar bahwa kadipaten Bojanegara tidak mengadakan perlawanan, demikian pula kadipaten Gresik dan Surabaya. Adipati Kediri juga telah mendapat kabar bahwa pasukan Majapahit akan mengadakan perlawanan. Namun Adipati Kediri memilih cara seperti yang ditempuh oleh kadipaten Gresik. Pasukan Kediri tidak akan mengadakan perlawanan, namun menjalin kemitraan dengan Kasultanan Demak Bintara.
“Namun kami mohon maaf, Kanjeng Sunan, Kediri belum bisa menyertakan pasukan untuk membantu pasukan Demak Bintara. Kami akan membenahi negeri ini agar maju dan berkembang….!” dalih Adipati Kediri.
“Baik, Kanjeng Adipati…..! Namun demikian, pada saatnya Kanjeng Adipati mesti mengirim utusan ke Demak Bintara jika Kanjeng Sultan telah kembali dari bang wetan ini…..!” kata Sunan Ngudung.
“Aku sendiri yang akan menghadap Kanjeng Sultan pada saatnya…..!” kata Adipati Kediri.
“Terimakasih atas kebijaksanaan dari Kanjeng Adipati, dengan demikian telah menyelamatkan ribuan nyawa dari kedua belah pihak……! Jika demikian kami akan segera mohon pamit. Kami belum tahu apa yang terjadi dengan pasukan Kanjeng Sultan dan pasukan Majapahit…..!” lanjut Sunan Ngudung.
…………
Bersambung……..

Petuah Simbah: “Tak mudah untuk menentukan pilihan yang menyangkut nyawa banyak orang.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *