Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#140

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#140

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Ki Ageng Pengging.

Sunan Ngudung dan para pengiringnya segera meninggalkan Kediri setelah mendapat jamuan sepantasnya. Bahkan di punggung kuda-kuda mereka telah bergantung perbekalan makanan yang bisa disantap dalam perjalanan. Namun Sunan Ngudung dan para pengiringnya tidak ingin melewati tempat terjadinya pertempuran melawan Ki Ageng Pengging. Mungkin sekali di tempat itu telah berjaga sepasukan prajurit. Mereka tidak ingin terjadi hambatan dalam perjalanan kembali ke pasukan gabungan Demak Bintara. Mereka merasa puas karena perjalanannya ke kediri berjalan dengan lancar. Mereka yakin tak akan ada hambatan dalam perjalanan.
Namun yang tidak mereka perhitungan terjadilah. Dua pasang mata selalu mengawasi rombongan Sunan Ngudung. Namun dua orang itu menyamar sebagai orang kebanyakan. Salah seorang dari dua orang itu adalah prajurit sandi kadipaten Majapahit yang menyaksikan perkelahian antara Ki Ageng Pengging melawan delapan orang. Ia sempat mendengar bahwa rombongan itu akan pergi ke Kediri. Maka atas perintah senopati telik sandi ia diperintahkan untuk mengawasi rombongan Sunan Ngudung tersebut. Ia berangkat bersama seorang temannya dan bertemu dengan prajurit sandi Majapahit yang ditempatkan di Kediri. Temannya yang seorang itu sekarang sedang nyanggong di perbatasan negeri.
“Mereka sepertinya tidak akan melewati jalan semula. Mereka sedikit berputar lewat sisi barat…..!” kata prajurit sandi yang ditempatkan di Kediri itu. Ia memang telah hapal benar seluk-beluk kadipaten Kediri dan jalan-jalan yang biasa dilalui.
“Kita tidak tahu, malam nanti mereka akan menginap atau meneruskan perjalanan…..!” kata prajurit sandi yang menyaksikan kematian Ki Ageng Pengging.

Sementara itu, hari telah menjelang petang. Tidak mungkin hari itu pasukan Demak Bintara penyerbuan. Mereka mesti menunda esok hari. Sultan Trenggono yakin akan kekuatan pasukan yang dipimpinnya. Dari perimbangan kekuatan dan jumlah, pasukan Demak Bintara jauh lebih kuat. Walaupun pasukan itu telah kehilangan beberapa prajurit yang gugur dan yang terluka, namun tak mengurangi kekuatan pasukan secara keseluruhan. Terlebih lagi, pasukan itu disertai oleh beberapa adipati dari bang kulon dan bang tengah yang didampingi oleh para senopati terpilihnya. Sultan Trenggono semakin percaya diri karena didampingi oleh ulama besar yang bijak dan berwibawa, Sunan Kudus.
“Gelar apakah yang sebaiknya kita jalankan esok hari, Kanjeng Sunan…..?” kata Sultan Trenggono minta saran kepada Sunan Kudus.
“Pasukan ini besar dan kuat, sebaiknya memakai gelar yang lumrah diterapkan saja, yakni gelar Garuda Nglayang……!” saran Sunan Kudus.
“Baik Kanjeng Sunan, biarlah saya yang berada di paruh gelar sebagai senopati Agung. Majapahit harus menyadari bahwa pusat kekuasaan telah bergeser ke tengah pulau ini……!” kata Sultan Trenggono.
“Tidak seharusnya Kanjeng Sultan sebagai senopati agung, percayakan saja kepada senopati yang lain atau salah seorang adipati…..!” saran Sunan Kudus.
“Baiklah, Paman Adipati Bagelen aku percaya sebagai senopati agung…..! Sedangkan senopati pengapit biarlah adipati Lasem dan dan didampingi oleh senopati Lo Bandang……!” kata Sultan Trenggono.
Malam hari itu seluruh adipati dan senopati pasukan Demak Bintara dikumpulkan. Dan kemudian mereka sepakat untuk menggunakan gelar perang Garuda Nglayang. Gelar yang gagah dan melebar layaknya seekor burung garuda yang melayang membentangkan sayap. Paruh burung yang kuat dan tajam ditempati oleh Adipati Bagelen yang telah lebih separuh umur. Meski telah separuh umur, namun masih tampak kuat dan gagah berwibawa. Ia didampingi oleh Adipati Lasem dan Senopati Lo Bandang, seorang kepercayaan Sultan Trenggono di Demak. Namun kekuatan utama untuk menyerang lawan dari gelar Garuda Nglayang adalah kedua cakarnya dengan kuku-kukunya yang tajam dan kuat. Cakarnya ditempati oleh Senopati dari Cirebon dan Adipati Banyumas. Sedangkan kuku-kukunya dipilih dari para senopati pilihan dari beberapa kadipaten.
……………
Bersambung…………..

Petuah Simbah: “Taktik dan strategi akan ikut menentukan keberhasilan sebuah pekerjaan.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *