Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#157

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#157

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Dikisahkan, pasukan Demak Bintara pada akhirnya mengirim pasukan yang besar dan kuat ke bang kulon untuk membantu Sunda Kelapa dan Banten mengusir bangsa kulit putih dari bumi pasundan. Pasukan itu dalam perjalanan ke arah barat akan bergabung dengan pasukan kadipaten-kadipaten yang dilewati, seperti pasukan Gringsing, Pekalongan, Dung Banteng, Tegal, Lemah Abang, Lohbener, Losarang, Cirebon yang cukup besar, Jatibarang sebelum sampai ke Sunda Kelapa. Jika pasukan itu bergabung tentu akan menjadi pasukan yang sangat kuat. Pasukan itu tak akan kalah dengan pasukan yang pernah melurug ke bang wetan beberapa waktu yang lalu. Sultan Trenggono yakin akan mampu mengusir bangsa kulit putih itu. Jika terjadi peperangan di darat, pasukan Demak Bintara dan yang tergabung di dalamnya tentu memiliki banyak keuntungan.
Hari itu, pasukan besar dari Demak Bintara telah meninggalkan kotaraja Demak menuju ke arah matahari terbenam. Namun sebelum berangkat, Kanjeng Sultan Trenggono telah berpesan kepada Kanjeng Sunan Kudus untuk mengatasi kadipaten Pengging yang selama ini Ki Ageng Pengging Anom belum pernah menghadap ke Demak Bintara.

Sementara itu, di Tingkir Nyi Tingkir kewalahan mengawasi Mas Karebet yang belum dewasa itu yang senang meninggalkan rumah untuk berburu berbagai binatang di hutan. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan putra Ki Ageng Pengging itu. Walau ia berburu bersama beberapa temannya yang telah lebih dewasa.
Nyi Tingkir kemudian teringat kepada sahabat mendiang suaminya yang memiliki ilmu yang lebih dari cukup. Ia ingin menitipkan anak itu untuk dididik dan dibimbing dalam berbagai macam ilmu.
Sahabat dari mendiang Ki Ageng Tingkir itu ialah Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela adalah seorang yang berilmu tinggi namun rendah hati. Begitu tinggi ilmu Ki Ageng Sela itu sehingga ia digambarkan mampu menangkap petir.
Beberapa orang telah berguru kepada Ki Ageng Sela tersebut. Diantara mereka adalah Mas Juru dan seorang perjaka dari Manahan. Kedua orang itu benar-benar menekuni ilmu yang diajarkan oleh Ki Ageng Sela. Murid yang lain tidak telaten untuk menekuni ilmu yang diajarkan oleh Ki Ageng Sela yang memang berat.
Mas Karebet yang lebih dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir itu kemudian benar-benar berguru kepada Ki Ageng Sela. Mas Karebet masih terlalu muda jika dibandingkan dengan Mas Juru dan Mas Manahan. Mas Juru yang paling dewasa diantara mereka.
Mas Karebet adalah seorang yang cerdas dan tangkas sehingga ilmu pengetahuan yang diajarkan dengan cepat dikuasainya. Sedangkan ilmu kanuragan dan ilmu jayakasantikan pun mampu jalankan dengan mudah pula. Mas Juru dan Mas Manahan ikut pula membimbing Mas Karebet yang masih terlalu muda itu. Keduanya kagum kepada anak muda itu yang dengan cepat dan mudah menerima segala ajaran yang diberikannya.
“Anak ini memiliki bakat yang luar biasa, Di…..! Jika kelak ia mendapat kesempatan menjadi seorang prajurit, tentu akan banyak kelebihan dari para prajurit yang lain…..!” kata Mas Juru kepada pemuda dari Manahan yang akrab dipanggil Mas Manahan itu.
“Benar Kakang, anak ini jangan hanya terkurung di perguruan Sela ini, ia suatu saat nanti jika sudah dewasa diberi kesempatan untuk ikut pendadaran di keraton Demak…..!” kata Mas Manahan.
Ki Ageng Sela sendiri juga kagum akan kecerdasan, keuletan dan ketangguhan remaja dari Tingkir itu. Ia pun bangga karena segala ilmu yang diajarkan bisa diserap oleh anak yang belum dewasa itu.

Sementara itu, pasukan besar dari Demak Bintara yang telah bergabung dengan pasukan beberapa kadipaten yang dilalui telah sampai di Sunda Kelapa. Pasukan itu telah bergabung pula dengan pasukan Sunda Kelapa. Pasukan Gabungan itu menjadi sebuah pasukan yang sangat besar. Belum lagi nanti akan bergabung pula pasukan Banten.
Sultan Trenggono disambut dengan gembira oleh Pangeran Fatahillah sang pemimpin Sunda Kelapa. Kedua pimpinan itu memang masih ada ikatan keluarga dari Kanjeng Sultan Fatah.
Keduanya kemudian bersepakat akan selalu menyatukan kekuatan.
“Benar Dimas, jika kita bersatu tentu akan teguh, dan jika kita bercerai akan runtuh…..!” kata Kanjeng Sultan Trenggono.
…………..
Bersambung…………

Petuah Simbah: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *