Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging Anom-Part#156

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging Anom-Part#156

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Kini bayi Mas Karebet telah benar-benar dalam asuhan Nyi Tingkir di kademangan Tingkir. Nyi Tingkir dibantu oleh beberapa inang pengasuh yang dikirim oleh Ki Ageng Pengging. Segala keperluan pun dicukupi oleh Ki Ageng Pengging.
Ki Ageng Pengging kini, disamping memimpin Kadipaten Pengging juga mendalami ilmu agama. Ia dibimbing oleh seorang ulama yang berwibawa dan telah banyak penganutnya. Ulama tersebut adalah Syekh Siti Jenar. Ki Ageng Pengging tidak begitu mendalami olah kanuragan dan olah jayakasantikan. Ia lebih mengutamakan ilmu agama, ilmu pertanian dan ilmu pengetahuan. Lain halnya dengan sang adik Ki Kebo Kanigara yang gemar mengembara dan berguru kepada beberapa orang sakti. Ia kurang tertarik mendalami ilmu agama seperti halnya sang kakak, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ia juga gemar bertapa di tempat-tempat yang dianggap angker atau wingit. Bahkan Ki Kebo Kanigara pernah bertapa di dekat kawah gunung Merapi.

Alkisah, kini Mas Karebet telah tumbuh menjadi seorang remaja yang lincah dan kuat, tampan dan tangguh. Ia juga seorang remaja yang cerdas dan tangkas jauh melampaui anak remaja seusianya. Namun Mas Karebet lebih dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir dari pada namanya sendiri. Tingkir sesungguhnya nama kademangan saat itu, namun nama Jaka Tingkir yang lebih dikenal. Di Tingkir, Jaka Tingkir juga mendapat bimbingan agama dari seorang ulama. Ia pun tekun mendalami agama yang diajarkan oleh ulama tersebut.

Sementara itu, Sultan Trenggono telah beberapa tahun sekembalinya dari memimpin pasukan ke bang wetan. Ia sedang menerima utusan dari negeri Sunda Kelapa. Utusan dari Sunda Kelapa itu melaporkan bahwa bangsa kulit putih telah mendarat di wilayah Banten. Bahkan bangsa kulit putih yang dari negeri Portugis itu telah membuat benteng pertahanan di wilayah itu. Penguasa Banten dan penguasa Sunda Kelapa tidak senang atas kehadiran bangsa kulit putih itu. Namun demikian, pasukan Banten maupun pasukan Sunda Kelapa masih ragu untuk mengusir bangsa Portugis itu. Mereka tahu bahwa pasukan Portugis itu memiliki persenjataan yang jauh lebih baik. Senjata bedil dan meriam sulit untuk ditaklukkan dengan senjata pedang maupun tombak.
Sultan Trenggono menyadari bahwa pasukan Portugis memang tangguh. Ia pernah mendengar cerita tentang penyerbuan pasukan Demak Bintara ke semenanjung Malaka yang dipimpin oleh sang kakak, Adipati Unus sampai dua kali. Namun pasukan Demak selalu gagal dalam penyerbuan. Bahkan sang kakak telah gugur, yang kemudian Adipati Unus itu dikenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor karena penyerbuannya menyeberang lautan laut utara. Pasukan Demak Bintara yang dibantu oleh pasukan Palembang pada penyerbuan pertama tidak mampu mengimbangi pertempuran di lautan. Demikian pula pada penyerbuan yang kedua yang dibantu oleh pasukan dari Kalimantan juga gagal menaklukkan pasukan Portugis itu. Bahkan Adipati Unus gugur pada penyerbuan yang kedua.
Meskipun demikian, Sultan Trenggono bertekat untuk mengusir bangsa kulit itu dari tanah Jawa. Ia ingin membuktikan bahwa pasukan Demak Bintara tangguh dalam peperangan di daratan.
“Baiklah Kakang senopati, laporkan kepada penguasa Banten maupun penguasa Sunda Kelapa bahwa pasukan Demak Bintara akan bekerjasama dengan pasukan Banten maupun pasukan Sunda Kelapa untuk mengusir pasukan Portugis itu dari tanah Jawa…..!” kata Sultan Trenggono kepada utusan dari Sunda Kelapa itu.

Sepeninggal utusan dari negeri bang kulon tersebut, Sultan Trenggono segera menyiapkan pasukan untuk berangkat ke tlatah Banten untuk mengusir pasukan Portugis. Sultan Trenggono berencana untuk menghimpun pasukan dari kadipaten-kadipaten sepanjang perjalanan dari Demak Bintara sampai tlatah Banten. Tentu akan terhimpun pasukan yang besar dan kuat.
Sultan Trenggono sendiri yang akan memimpin pasukan itu. Sedangkan pemerintahan Demak Bintara akan dititipkan kepada putra sulungnya yang sudah mulai dewasa, Raden Mukmin yang sering diucapkan dengan sebutan Raden Muk Ming. Raden Mukmin didampingi oleh Kanjeng Sunan Kudus.
……………..
Bersambung………

Petuah Simbah: _”Semangat kebangsaan untuk mengusir penjajah sudah lakukan sejak dulu. Warisilah semangat itu.

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *