Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#347

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(347)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Dalam pada itu, malam ini adalah malam terakhir Sultan Harya Penangsang menjalani laku empat puluh hari empat puluh malam. Ia hanya makan dan minum sesuai yang ditentukan oleh Kanjeng Sunan Kudus. Itupun hanya sekali sehari semalam dan tidak sampai kenyang.
Besuk pagi setelah matahari sepenggalah, Sultan Harya Penangsang diperbolehkan untuk pesta andrawina.

Sementara itu, pada saat ayam berkokok untuk kedua kalinya, pasukan Pajang telah bersiap untuk meninggalkan pakuwon untuk menuju ke tepian kali Bengawan Sore. Tepian kali yang berpadang rumput yang luas. Mereka akan mempersiapkan diri di tepian kali Bengawan itu untuk menyongsong pasukan Jipang. Mereka berharap pasukan Jipang akan terpancing menyeberangi kali Bengawan Sore.
Ki Penjawi telah berpesan agar sebagian besar prajurit berlindung di balik pepohonan atau bebatuan.
“Berikanlah kesan bahwa pasukan Pajang adalah pasukan yang kecil. Dengan demikian mereka akan terpancing untuk menyerbu pasukan kita…..!”
Namun demikian, pasukan panah dan pasukan lontar harus selalu bersiaga untuk melancarkan serangan.

Ketika matahari baru semburat merah di ufuk timur, para prajurit Pajang telah menempatkan diri di sepanjang tepian kali Bengawan Sore namun tidak terlihat oleh pasukan lawan yang masih di seberang sungai.
Sementara itu, yang akan berada di padang rumput yang terbuka adalah pasukan dari Pengging dan Sela serta pasukan gabungan dari beberapa kademangan. Mereka tidak akan menonjolkan pasukan-pasukan dari kadipaten-kadipaten. Mereka ingin memberi kesan bahwa Pajang tidak didukung oleh beberapa kadipaten.
Ki Juru Martani, Ki Pemanahan, Ki Penjawi serta Mas Danang Sutawijaya berada di antara pasukan Pengging dan pasukan Sela itu.
Pasukan Pengging dan Sela serta beberapa kademangan itu sudah mulai berdatangan di padang rumput di tepi kali Bengawan Sore.

Sementara itu, gabungan pasukan Jipang yang besar belum sepenuhnya bersiap untuk bertempur di hari itu. Mereka tahu, hari ini Kanjeng Sultan Harya Penangsang baru selesai menjalani tapa brata di sanggar. Mereka berharap, paling tidak siang nanti para petinggi pasukan Jipang sudah merencanakan penyerbuan ke pasukan lawan. Dan besuk pagi mereka akan bersiap untuk berperang.

Di sisi selatan dari kali Bengawan Sore itu memang lebih subur. Rumput-rumput masih nampak menghijau walau di musim kemarau. Tak heran bila banyak para pencari rumput dari seberang sungai yang mencari rumput di tepian sisi selatan itu. Salah satu dari mereka adalah seorang pekatik yang mengurus kuda Gagak Rimang kuda kebanggaan Sultan Harya Penangsang. Ia memerlukan menyeberangi kali Bengawan Sore untuk mendapatkan rumput yang hijau segar. Ia pun sudah sering merumput di tempat itu. Demikian pula pagi itu, ia telah menyeberangi kali Bengawan Sore itu. Namun dari tempatnya berada, ia belum melihat pasukan Pajang di padang rumput.
Pada saat itu, Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi sedang melihat-lihat keadaan di tepian kali. Mereka sedang memperhitungkan medan yang kemungkinan untuk pertempuran dua pasukan yang besar. Mereka telah menerima laporan bahwa pasukan Jipang jauh lebih besar dari pasukan Pajang.
“Pada saat perang Baratayudha, pasukan Hastinapura jauh lebih besar dari pasukan Pandawa. Namun kita semua tahu akhir dari peperangan itu….!” Berkata Ki Pemanahan.
“Namun kita tidak boleh lengah, karena jika kita lengah akan digilas oleh pasukan yang besar itu…..! Lagi pula kita tidak boleh membandingkan dengan perang Baratayudha…..!” Berkata Ki Juru Martani.
“Heee….., lihat…..! Ada seseorang yang sedang mencari rumput….!” Berkata Ki Penjawi.
“Mungkinkah dia adalah prajurit sandi dari Jipang…..?” Bertanya Ki Pemanahan.
“Kita tunggu sebentar, jika ia sesekali melihat keadaan, mungkin sekali dia memang prajurit sandi. Namun jika dia tak memperhatikan kiri kanan, bisa jadi dia ada pencari rumput yang sesungguhnya.
………………
Bersambung………….
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *