Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#295

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#295

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(495)
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Kelompok lain-lah yang heran, batang pohon sudah beberapa waktu yang lalu tumbang, tetapi baru kemudian mengelu-elukan nama Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Jaya Raden Sutawijaya……! Jaya Raden Sutawijaya….! Jaya Raden Sutawijaya…..!” Tak kalah dengan kelompok lain yang sebelumnya mengelu-elukan.
Raden Mas Danang Sutawijaya tersenyum puas bisa membuat gembira kelompok-kelompok yang dibantu. Yang tentu juga menambah semangat mereka.

Beberapa saat kemudian terdengar kembali pohon tumbang yang disertai sorak sorai di kelompok lain. Namun tidak terdengar nama Raden Mas Danang Sutawijaya dielu-elukan. Raden Mas Danang Sutawijaya memang belum sampai ke kelompok itu. Dan bahkan kelompok berikutnya menyusul bersorak-sorai dan disusul kelompok berikutnya. Kini hampir seluruh kelompok telah bisa merobohkan satu batang pohon besar. Bahkan kelompok yang pertama kali dibantu oleh Raden Mas Danang Sutawijaya sudah memulai menebang pohon yang kedua.
Walau tidak dinyatakan, namun antar kelompok itu seakan saling berlomba.
“Pohon berikutnya yang batangnya tidak terlalu besar sehingga cepat roboh…..!” Usul salah seorang anggota kelompok.
“Dan yang mudah untuk disingkirkan……!” Sahut yang lain.

Dalam kesempatan berikutnya, Raden Mas Danang Sutawijaya mendatangi kelompok yang sedang akan mengikat pucuk pohon dengan tali dadung. Mereka sedang membuat tangga bambu untuk mencapai pucuk pohon itu.
“Akan diikat di mana tali dadung itu….?” Bertanya Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Di pucuk dahan besar itu Raden, nanti biar arah robohnya ke tempat yang longgar…..!” Berkata pimpinan kelompok.
“Coba aku yang memanjat pohon itu….!” Tawaran Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Oooh…., jangan Raden…..! Biar salah seorang dari kami yang memanjat……!” Cegah pimpinan kelompok.
“Tidak apa-apa……! Biarlah aku yang memanjat……!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya sambil meminta tali dadung dari seseorang sambil tersenyum.
Orang itu tak bisa menolak permintaan dari Raden Mas Danang Sutawijaya. Walaupun saat itu tangga bambu belum siap.
Sesaat kemudian, semua orang yang melihatnya terperangah. Betapa tidak, Raden Mas Danang Sutawijaya memanjat pohon besar itu tanpa tangga. Ia bagai seekor kera besar memanjat pohon besar itu dan dengan cepat sudah nangkring di atas dahan. Tali dadung menjuntai bagai seekor kera yang diikat.
“Di sini kah harus diikat…..?” Bertanya Raden Mas Danang Sutawijaya dari ketinggian.
“Yaaa benar Raden……!” Teriak pemimpin kelompok dari bawah. Dengan cekatan Raden Mas Danang Sutawijaya mengikat dengan tali wangsul dengan kuat dan tak mungkin lepas.
Semua anggota kelompok itu kembali terkesiap, mereka menyaksikan Raden Mas Danang Sutawijaya meluncur turun cepat bagai macan kumbang turun dari dahan yang tinggi. Bahkan ada yang khawatir bahwa Raden Mas Danang Sutawijaya akan terjatuh dan cedera. Namun itu tidak terjadi. Raden Mas Danang Sutawijaya meloncat turun dengan kaki kokoh tegak berdiri.
Semua orang yang menyaksikan kembali terkesima. Dan sesaat kemudian terdengar tepuk tangan dan sorak sorai desertai teriakan mengelu-elukan nama Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Jaya Raden Sutawijaya…… Jaya Raden Sutawijaya…… Jaya Raden Sutawijaya……!” Teriak mereka bersahut-sahutan.
Kelompok lain heran, karena tidak terdengar sesuatu, namun nama Raden Sutawijaya di elu-elukan.
“Apa lagi yang telah diperbuat oleh Raden Mas Danang Sutawijaya…..?” Celetuk seseorang yang telah melihat Raden Mas Danang Sutawijaya seperti membuat pangeram-eram – sesuatu yang mengagumkan yang seperti mustahil dilakukan oleh siapa pun. Tetapi hal itu telah dilakukan oleh Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Pinjam kapak yang paling besar itu…..!” Pinta Raden Mas Danang Sutawijaya kepada seseorang yang kebetulan memegang kapak besar.
…………….
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *