Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#325

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(325)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Sementara itu prajurit sandi Pajang yang ditempatkan di Kudus berhasil mengetahui keadaan Sultan Harya Penangsang yang sebenarnya.
Seorang prajurit wanita yang menyamar sebagai seorang bakul sayur bisa berkenalan akrab dengan para inang dapur di Kudus. Bahkan prajurit wanita itu sering mengantarkan sayur ke dapur tempat Sunan Kudus bertempat tinggal. Prajurit wanita yang berdandan sederhana dan tidak cantik itu sama sekali tidak dicurigai oleh para inang di Kudus. Prajurit wanita yang pandai bercerita dan bercanda itu bisa mengorek tentang keadaan Sultan Harya Penangsang yang sebenarnya.
“Sayang Kanjeng Sultan Harya Penangsang duduk di kursi yang telah dimantram rajah. Beliau harus memulihkan kekuatan selama empat puluh hari…..!” Berkata seorang inang pada suatu saat, seakan dia yang paling tahu.
“Hee….! Setelah empat puluh hari ini masih harus puasa ngebleng selama tiga hari lhooo…..!” Sahut inang yang lain.
Mereka bercerita tanpa beban apapun karena hanya kepada seseorang bakul sayur yang sederhana.
Para inang itu menjadi tahu karena merekalah yang menyiapkan makan dan minum sesuai dengan yang disarankan oleh Kanjeng Sunan Kudus.
Para inang itu sesungguhnya sudah dipesan untuk tidak mengatakan kepada siapapun.
Bahkan kepada Bakul sayur yang ternyata seorang prajurit sandi dari Pajang itu, para inang pernah berpesan.
“Tetapi kau jangan cerita-cerita kepada siapapun lhoo Yu…..! Juga kepada suamimu…..!” Pesan seorang inang.
“Lhaa suamiku itu hanya tukang ngarit kok Den-ayu…..! Kami punya kambing enam…..!” Prajurit sandi wanita itu berdalih.

Cerita dari para inang itu sungguh sangat berharga bagi seorang prajurit sandi. Ia kemudian menceritakan hal itu kepada sejawatnya dua orang prajurit sandi laki-laki.
Salah seorang dari prajurit sandi lelaki tersebut segera bergegas kembali ke Pajang.
Ia segera menyampaikan keterangan itu kepada Ki Penjawi.
Ki Penjawi kemudian membawa kabar itu dalam perbincangan dengan Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Kanjeng Sultan Hadiwijaya sendiri.
“Jika demikian, pasukan Pajang harus segera bergerak. Bukan pasukan Pajang yang menunggu diserang oleh pasukan Jipang, tetapi kitalah yang melurug ke Jipang…..!” Usulan dari Ki Juru Martani.
Mereka pun kemudian memperbincangkan kemungkinan itu. Mereka berkesimpulan bahwa pasukan Jipang pasti belum bersiap sepenuhnya. Mereka pasti menunggu pulihnya Harya Penangsang.
“Kalau mungkin, sebelum Harya Penangsang selesai memulihkan kekuatan, kita sudah harus sampai di seberang Bengawan Sore…..!” Usul dari Ki Pemanahan.
Namun Sultan Hadiwijaya terlihat merenung. Ada kebimbangan dari Sultan Hadiwijaya jika dirinya harus ikut melurug ke Jipang. Apalagi Sultan Harya Penangsang dalam keadaan pemulihan. Ia pasti akan dicatat dalam sejarah sebagai seorang sultan yang tidak kastria. Lagi pula ia hanyalah seorang menantu dari Sultan Trenggana. Ia tidak mau dianggap sebagai seorang sultan yang serakah dengan menyerang langsung seorang keturunan Sultan Patah. Oleh karena itu, Sultan Hadiwijaya kemudian menyampaikan keinginannya.
“Kakang sekalian…..! Hadiwijaya ingin mengadakan sayembara…..! Barang siapa yang bisa membunuh Harya Penangsang akan mendapat hadiah wilayah kekuasaan Bumi Pati beserta wilayah kuasanya serta Bumi Mentaok yang dibatasi oleh sungai Opak di sebelah timur dengan sungai Progo di sebelah barat…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya tanpa ragu.
“Yayi Sultan…..! Benarkah itu……?” Bertanya Ki Pemanahan yang terkejut dengan pernyataan Sultan Hadiwijaya tersebut.
“Sabda pandita ratu, Kakang….., datan wola-wali…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya untuk menegaskan maksudnya bahwa seorang raja tak akan pernah mencabut sabdanya.
“Ini adalah hal sangat penting, sebaiknya akan kita bicarakan kemudian. Kami bertiga, aku, adi Pemanahan dan adi Penjawi……!” Berkata Ki Juru Martani.
“Baiklah Kakang….., aku percaya sepenuhnya kepada Kakang Juru serta Kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi……!” Berkata Sultan Hadiwijaya.
……………….
Bersambung……….
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *