Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#360

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#360

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(360)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Sementara itu, Pangeran Harya Mataram dengan tergesa-gesa mengabarkan kepada kerabat dekatnya untuk segera berbenah meninggalkan keraton dan ksatrian. Mereka termasuk istri dan anak-anaknya. Segala harta benda yang mungkin bisa dibawa telah dikumpulkan. Sangat berbahaya bagi mereka jika tidak segera meninggalkan Demak Bintara. Pasukan Pajang pasti akan segera menyerbu keraton Demak Jipang. Atau bahkan mereka, terutama para wanita bisa menjadi rampasan perang. Tentu saja Pangeran Harya Mataram tidak rela jika anak dan istrinya diboyong ke Pajang. Lebih baik mereka meninggalkan Demak Jipang.
Dua buah kereta telah bersiap meninggalkan keraton Demak Jipang. Meskipun demikian tidak banyak yang bisa ikut menyertai Pangeran Harya Mataram pergi. Demikian pula harta benda yang bisa mereka bawa tidak banyak jika dibandingkan dengan harta kekayaan seluruh keraton Demak Jipang. Namun demikian, mas picis dan intan berlian yang mereka bawa lebih dari cukup untuk hidup tujuh turunan.
“Kita akan mengungsi ke mana, Kangmas Pangeran……?” Bertanya sang istri.
“Tentu ke tempat yang tidak mungkin terjangkau oleh kekuasaan Jaka Tingkir Hadiwijaya…..! Kita akan menyeberang samudera……!” Berkata Pangeran Harya Mataram.
Sang istri hanya terdiam karena harus meninggalkan ksatrian dan keraton yang selama ini penuh kemewahan dan kemegahan. Namun kini mereka harus mengungsi.
Namun demikian ia memahami alasan dari sang suami. Nyawa dan keluarga tentu lebih diutamakan.
Dua buah kereta telah berderap meninggalkan keraton Demak Jipang. Mereka memang tergesa-gesa agar pasukan Pajang tidak keburu datang untuk menjarah kekayaan keraton. Mereka menuju ke arah matahari terbenam, arah mengulon.

Mereka yang berada di keraton itu sama sekali tidak mengira bahwa Kanjeng Sultan Harya Penangsang telah gugur. Mereka yang tidak bisa menyertai Pangeran Harya Mataram untuk mengungsi bingung mau berbuat apa. Mereka pun tak memikirkan jika harus mengungsi meninggalkan keraton.
Namun demikian seorang selir dari Kanjeng Sultan Harya Penangsang yang telah beberapa waktu digembleng oleh Sultan Harya Penangsang sendiri marah bukan buatan. Ia merasa telah memiliki bekal ilmu yang lebih dari cukup untuk maju di medan perang. Ia tadi memang tetap tinggal di keraton karena yakin tidak akan ada yang mampu mengalahkan sang suami, Sultan Harya Penangsang. Dan ia bertanggungjawab terhadap keamanan keraton. Dia seorang putri yang cantik jelita namun kencang dan kuat.
Ia pun segera berbenah dengan pakaian perang. Tombak pusaka telah ditenteng dan keris pusaka terselip di pinggangnya. Ia segera berlari ke tempat kuda kesayangan ditambatkan.
Dengan enteng ia meloncat ke punggung kuda yang tinggi besar hampir sama dengan kuda Gagak Rimang.
Dengan cekatan ia segera memacu kudanya menuju tepian sungai Bengawan Sore.
Ia bagai dalam kisah Mahabharata, seorang senopati wanita, Dewi Wara Srikandi yang ingin berperang tanding melawan Resi Wara Bisma.
“Akan aku tantang Jaka Tingkir yang telah membunuh Kanjeng Sultan…..!” Batin wanita tadi yang belum tahu bahwa Sultan Harya Penangsang gugur bukan oleh Jaka Tingkir Hadiwijaya, tetapi oleh anak muda putra angkatnya, Raden Mas Danang Sutawijaya.

Ia termangu-mangu di tepian sungai. Ia masih melihat berkerumunnya prajurit Pajang di seberang sungai. Samar-samar ia melihat sepenggal kepala ditancapkan di sebuah tongkat yang tinggi.
“Uuuh…., kejam sekali orang-orang Pajang. Kepala siapakah itu…..? Namun sepertinya bukan kepala sang suami, Sultan Harya Penangsang…..!” Batin wanita muda yang berpakaian perang bak seorang pria itu.
Namun hal itu tidak membuatnya gentar, sebaliknya membuat amarahnya membuncah.
Ia segera melecut kudanya untuk menyeberangi sungai.
“Aku harus menuntut balas gugurnya suamiku…..!” Tekad wanita itu.

Ia bisa menyeberangi sungai dengan lancar. Para prajurit Pajang yang melihat pun tidak melakukan penyerangan karena tahu ia hanya seorang diri.
…………..
Bersambung…………
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *