Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#388

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#388

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(388)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Hampir di setiap sudut pasar masih ramai memperbincangkan anak muda yang sakti mandraguna. Bahkan ada yang menganggap bisa terbang. Prajurit Sangkalputung yang berasal dari Taji banyak mendapat pertanyaan tentang Raden Mas Danang Sutawijaya putra Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Ia pun menceritakan apa yang ia ketahui, bahwa Raden Mas Danang Sutawijaya yang mampu merobek usus Harya Penangsang dengan tombaknya. Tombak pusaka yang sakti yang diberi nama Kanjeng Kiai Plered. Mereka pun semakin kagum kepada putra Kanjeng Sultan Hadiwijaya itu.
Prajurit itu juga bercerita bahwa Raden Mas Danang Sutawijaya juga disebut Raden Ngabehi Loring Pasar karena kasatrian tempat ia tinggal di sebelah utara Pasar Gede. Prajurit itu juga bercerita bahwa dahulu nama kecil dari Raden Mas Danang Sutawijaya adalah Jebeng.
“Heee…., benarkah namanya dahulu Jebeng….?” Celetuk salah seorang pengunjung pasar.
“Mungkin itu nama paraban…..! Berkata yang lain.
Warung yang kemarin untuk jajan Raden Mas Danang Sutawijaya pun menjadi lebih ramai dari biasanya. Mereka hanya ingin sekedar untuk mendengar cerita dari yang punya warung tentang Raden Mas Danang Sutawijaya. Entah sudah berapa kali yang punya warung itu mengulang ceritanya.

Yang tak kalah riuhnya adalah cerita adanya suara lampor tadi malam. Sudah lama mereka tidak mendengar suara lampor seperti tadi malam. Namun tidak ada yang bercerita bahwa mereka telah melihat lampor itu sendiri. Sedangkan yang mendengar cukup banyak yaitu mereka yang bertempat tinggal di dekat aliran kali Opak.
“Heeee….., jangan-jangan ada hubungannya antara lampor itu dengan kedatangan putra Kanjeng Sultan…..!” Seloroh salah seorang pengunjung pasar.
“Menurut saya pasti ada hubungannya, bukan serba kebetulan…..!” Sahut yang lain.
“Bukankah ada yang melihat bahwa putra Kanjeng Sultan itu terbang di atas kali Opak ke arah selatan….!” Sahut yang lain yang seakan terjadi demikian.
Cerita pun semakin berkembang yang cenderung dilebih-lebihkan.
Mereka pun kemudian banyak yang meyakini bahwa kedatangan putra Kanjeng Sultan itu ada hubungannya dengan suara lampor tadi malam. Cerita pun berkembang sesuai selera mereka yang bercerita.

Sementara itu, seperti biasanya, anak ke Reja datang ke rumah orang tuanya untuk mengambil gula kelapa dan menyerahkan uang hasil penjualan kemarin. Namun seperti biasanya pula Ki Reja memberikan sebagian uang itu sebagai keuntungan jual beli.
“Seperti baru saja ada tamu, Mbok….!” Bertanya anak Ki Reja yang melihat sajian kluwa dan sisa minuman wedang legen di bangku.
“Yaa…., ada tamu anak muda yang ramah…….!” Berkata Mbok Reja.
Ki Reja yang melihat anaknya datang kemudian datang ikut menemui.
“Menurutku ia anak muda yang aneh. Anak itu beruntung bisa melihat lampor, sedangkan kami hanya mendengar saja……!” Sahut Ki Reja.
“Anak dari mana dan mau apa ia berkunjung ke rumah ini, Bapa…..?” Bertanya anak Ki Reja.
“Katanya ia datang dari sebuah padepokan di Granting lereng Merapi untuk nenepi – bertapa di gunung Bangkel, ia mengaku bernama Jebeng…..!” Berkata Ki Reja.
“Heee…., mengaku bernama Jebeng…? Di pasar juga sedang riuh membicarakan seorang anak muda yang bernama Jebeng…..!” Berkata anak Ki Reja yang tadi di pasar Prambanan ia mendengar bahwa putra Kanjeng Sultan Hadiwijaya itu pada masa kecilnya bernama Jebeng.
Anak Ki Reja kemudian menceritakan yang terjadi kemarin di pasar Prambanan. Ia bercerita seakan ia melihat semua yang terjadi di pasar Prambanan. Walau yang diceritakan telah berkembang semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya terjadi.
“Putra Kanjeng Sultan itu di masa kecilnya juga bernama Jebeng…..! Jangan-jangan Jebeng yang datang ke rumah ini adalah Jebeng putra Kanjeng Sultan yang sedang menyamar…..!” Berkata putra Ki Reja.
“Heee….., aku jadi merinding. Aku yakin anak muda itu adalah orang yang kau ceritakan di pasar itu. Anak muda itu tampan, gagah dan sopan seperti priyayi keraton……!” Mbok Reja yang menyahut.
……………
Bersambung……….
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *