Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#439

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#439

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
439
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Pada malam hari itu juga, Kanjeng Sunan Kalijaga meninggalkan barak di dusun Papringan. Ia tak ingin menginap di barak itu. Mereka pun tidak mengatakan akan menuju ke mana. Yang ia katakan bahwa ia akan menjalankan syiar ke negeri yang jauh.
“Semoga ketika aku berkunjung ke telatah ini, sebuah negeri telah berdiri….!” Berkata Kanjeng Sunan Kalijaga yang kemudian meninggalkan mereka.

Mereka tak mungkin mencegah Kanjeng Sunan Kalijaga walaupun saat itu malam hari. Kanjeng Sunan Kalijaga tak akan menemui rintangan kemana pun ia pergi. Mereka mengiringi kepergian Kanjeng Sunan Kalijaga sampai di pagar luar barak.

Sebelum matahari semburat merah di ufuk timur, empat orang telah meninggalkan barak di Papringan. Mereka tidak lagi menyusur sungai Gajahwong ke arah hilir, tetapi ke arah matahari terbit. Mereka menuju ke barak yang di dusun Karanglo. Barak itu sudah tidak ditinggali namun tidak dibongkar. Siapapun bisa singgah di barak itu untuk beristirahat atau sekedar berteduh.
Namun Ki Demang Karanglo, Ki Ageng Giring, Ki Pemanahan dan Raden Mas Danang Sutawijaya tidak berhenti di barak itu. Mereka kemudian berbelok ke arah kanan. Mereka lewat jalan setapak yang menuju ke padukuhan Wiyara. Ki Demang Karanglo sudah sering melewati jalan itu sehingga mereka tak akan salah arah.
Ketika matahari naik sepenggalah, mereka telah sampai di padukuhan Wiyara. Di sana mereka beristirahat sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanan.
Mereka kemudian berbelok ke arah barat mengikuti jalur jalan setapak yang telah ada. Jalan itu memang benar-benar masih sepi. Mereka tidak berpapasan dengan seorang pun. Jalan setapak yang ke arah barat itu Ki Ageng Giring yang pernah melewatinya. Sekarang Ki Ageng Giring yang menjadi petunjuk arah. Tetapi mereka memang tidak tergesa-gesa, mereka berjalan sambil menikmati perjalanan.

Walau lambat, namun akhirnya mereka sampai juga di bawah pohon beringin seperti yang diceritakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.
“Di sinilah aku dahulu tertidur….! Tetapi hujan lebat kemudian membangunkan aku. Di celuk pohon ini aku kemudian berlindung……!” Berkata Ki Ageng Giring sambil tersenyum.
Yang mendengar pun ikut tersenyum pula.
“Beruntung sekarang musim kemarau, sehingga tidak harus basah kuyup seperti Kakang Giring…..!” Seloroh Ki Pemanahan.
Mereka kemudian tidak hanya tersenyum tetapi tertawa.
Beberapa saat mereka berbincang di bawah pohon beringin yang rindang itu. Namun kemudian mereka berjalan-jalan di sekitar pohon beringin itu. Bahkan kemudian mereka berjalan sedikit lebih jauh dari pohon beringin itu. Mereka memang menemukan banyak pohon mentaok yang telah berusia tua.
Mereka merasakan bahwa tempat itu layak sebagai tempat tinggal. Tanahnya yang subur berwarna kehitaman. Tanahnya yang datar tidak berbukit-bukit kecuali lereng-lereng kecil di tepi sungai. Mereka juga melihat di parit kecil yang airnya jernih terdapat banyak aneka jenis ikan. Ikan-ikan itu tentu akan sangat mendukung untuk keperluan lauk bagi para penghuninya besuk.
Mereka juga heran, sejak kemarin dan di sepanjang perjalanan belum pernah bersua dengan binatang buas. Kecuali buaya-buaya yang banyak terdapat di sungai Tambakbaya.
Mereka masih berkeliling sedikit bertambah jauh dari pohon beringin tadi.
“Di sini Bapa, besuk akan kita mulai pembuatan rumah tinggal…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya tiba-tiba menunjuk sebuah tempat.
“Mengapa harus di tempat ini, Raden…..?” Bertanya Ki Demang Karanglo.
“Saya merasakan nyaman di tempat ini, Paman……!” Jawab Raden Mas Danang Sutawijaya.
Mereka kemudian saling berbincang. Namun akhirnya disetujui bahwa besuk akan dimulai pembangunan tempat tinggal di tempat itu. Tidak ditunda di lain hari.
………………
Bersambung……….
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *