Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#438

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#438

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
438
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Ketika hari menjelang sore, mereka bertiga, Ki Pemanahan, Ki Ageng Giring dan Raden Mas Danang Sutawijaya kembali ke barak di Papringan.
Sesampainya di barak, mereka terkejut saat mengetahui Kanjeng Sunan Kalijaga sudah berada di barak bersama Ki Demang Karanglo.
Mereka pun kemudian saling berkabar keselamatan sesuai adat yang berlaku.
Setelah beberapa saat mereka berbincang, Ki Pemanahan kemudian mengatakan bahwa baru saja menyusur sungai Gajahwong ke arah hulu untuk mencari tempat yang cocok sebagai hunian untuk seluruh rombongan yang ikut babat hutan Alas Mentaok ini. Namun hutan yang lebat menyulitkan pencarian tempat itu.
Kanjeng Sunan Kalijaga tersenyum. Ia kemudian mengatakan apa yang ia lihat melalui mata batinnya. Dikatakan bahwa ia baru saja dari Begelen lewat sisi tengah hutan Alas Mentaok yang sudah ada jalan setapaknya. Jalan yang masih sangat sepi dan hampir belum ada pemukiman. Di tengah hari ia beristirahat di tepi jalan setapak itu di bawah pohon beringin. Di semilirnya angin dan rindangnya pohon beringin, ia tertidur ayam. Dalam setengah kesadarannya itu mata batinnya melihat bahwa tempat itu akan menjadi sebuah keraton yang megah. Tempat di sekitar itu juga cocok sebagai tempat tinggal.
“Besuk carilah tempat itu, di sebelah timurnya ada sebuah perkampungan yang disebut kampung Wiyara. Dari kampung Wiyara berjalanlah ke arah barat nanti akan kalian temui sebatang pohon beringin yang rindang yang aku maksud dalam ceritaku tadi…..!” Berkata Kanjeng Sunan Kalijaga.
“Baiklah Kanjeng….., saya pernah melewati jalan setapak dari Wiyara ke arah barat itu. Saya juga pernah beteduh di bawah pohon beringin yang rindang itu. Bahkan saya sampai tertidur…..!” Ki Ageng Giring yang menyahut.
Ki Ageng Giring memang pernah melewati jalan setapak yang diceritakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut. Jalan itu dari bukit Pathuk terus lurus ke arah matahari terbenam. Sampai di sebatang pohon beringin yang rindang itu, Ki Ageng Giring tidak meneruskan perjalanan. Ia kemudian balik kembali ke arah bukit Pathuk. Ia tidak meneruskan perjalanan karena saat itu musim penghujan.
“Besuk kita akan ke tempat itu…..!” Sahut Raden Mas Danang Sutawijaya serta merta.
“Tengoklah….., coba rasakan seakan kalian bertempat tinggal di tempat itu…..!” Lanjut Kanjeng Sunan Kalijaga.
“Baik Kanjeng, besuk akan kami laksanakan…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Yaa…., besuk kita berangkat sebelum matahari bersinar…..!” Berkata Ki Pemanahan.
“Aku akan ikut serta…..! Aku sering ke Wiyara karena ada saudaraku yang tinggal di Wiyara. Lagi pula, Wiyara cukup dekat dari Karanglo…..!” Sela Ki Demang Karanglo yang sejak tadi lebih banyak diam.
“Apakah Kanjeng Sunan besuk berkenan menyertai kami…..!” Bertanya Ki Pemanahan.
“Aku harus syiar ke tempat yang jauh. Suatu saat aku akan menengok tempat yang aku maksud. Dan harapanku tempat itu telah menjadi sebuah negeri……!” Berkata Kanjeng Sunan Kalijaga.
“Mohon restu dan doanya Kanjeng Sunan…..!” Pinta Ki Pemanahan.
“Tentu saja aku restui dan aku doakan……..!” Jawab Kanjeng Sunan Kalijaga.
Kemudian Kanjeng Sunan Kalijaga melanjutkan; “Aku juga berpesan kepada Kakang Demang Karanglo supaya selalu membantu usaha dari Ki Pemanahan dalam mewujudkan impian menjadikan Alas Mentaok sebuah negeri……!” Berkata Ki Pemanahan.
“Tentu Kanjeng….! Kami seluruh warga Karanglo akan selalu membantu usaha dari Ki Pemanahan…..!” Berkata Ki Demang Karanglo.
“Menurut mata batinku, kademangan Karanglo di kemudian hari akan banyak Raden dan nayaka praja negeri yang akan terwujud……!” Lanjut Kanjeng Sunan Kalijaga.
………….
Bersambung……..
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *