Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#472

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#472

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
472
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Ki Dhandhang dan Ki Karep telah mendapat bekal ilmu olah kanuragan sejak di Manahan. Bahkan Ki Pemanahan sendiri sering pula ikut membimbing mereka sebagai pengawal kademangan Manahan.
Oleh karenanya, ketika menghadapi dua perampok itu, mereka tidak terlalu mengalami kesulitan.
Dua orang perampok itu ingin membalaskan kawan-kawannya yang telah tersungkur. Namun ternyata lawan-lawannya cukup tangguh pula.

Dalam pada itu, pemilik warung dan dua orang pembantunya memilih bersembunyi di balik dapur. Mereka tak tega jika harus menyaksikan seorang anak muda dibantai beramai-ramai oleh para perampok itu. Namun mereka heran, mengapa tidak terdengar teriakan kasar dari para perampok. Yang ia dengar adalah keluhan-keluhan tertahan beberapa kali. Bahkan juga terdengar denting senjata beradu di samping warung.
“Apa yang terjadi di luar, Nduuk…..?” Bisik pemilik warung.
“Aku takut, Mbok……..!” Jawab pembantu warung tersebut karena sama-sama tidak tahu apa yang terjadi di luar sana.

Sementara itu, Raden Mas Danang Sutawijaya tanpa kesulitan mengatasi lima orang yang tadi masih bertahan. Satu persatu pedang mereka terlepas. Raden Mas Danang Sutawijaya memang marah mendengar rencana para perampok yang ingin membantai siapapun yang menjadi sasarannya. Bahkan ingin menculik gadis untuk dirudapaksa di puncak gunung Merapi. Termasuk para perampok itu merendahkan Mataram yang sedang dirintis. Namun demikian, Raden Mas Danang Sutawijaya tidak terbersit untuk membunuh mereka. Namun jika terpaksa ada yang terbunuh, itu karena nasib buruk mereka. Tetapi Raden Mas Danang Sutawijaya juga tidak ingin mereka akan kembali menjadi seorang perampok. Jika hanya dengan kata-kata, tentu mereka tak akan kapok menjadi perampok, oleh karena itu harus dibuat menjadi tidak mampu menjadi seorang perampok.
Sabuk kulit itu di tangan Raden Mas Danang Sutawijaya bisa lentur sebagai selembar kulit liat dan kuat. Namun juga bisa sekeras baja dan setajam pedang. Oleh karena itu, hampir semua lawannya patah tangan kanannya yang sebelumnya memegang pedang. Jika tangan kanan mereka telah cacat, mungkin sekali mereka tak akan mampu menjadi seorang perampok lagi. Walau tindakan itu terasa kejam pula, namun itulah pilihan satu-satunya yang oleh Raden Mas Danang Sutawijaya lakukan.
Kini lawan-lawan Raden Mas Danang Sutawijaya sudah tidak berdaya. Namun sepertinya tidak ada yang sampai tewas. Mereka masih terdengar merintih kesakitan.
Raden Mas Danang Sutawijaya madih melihat lurah perampok terduduk menahan sakit. Lurah perampok itu belum terluka tangannya namun ulu hatinya yang tadi di hantam tumit Raden Mas Danang Sutawijaya. Raden Mas Danang Sutawijaya kemudian mendekatinya.
“Ampun Den….! Aku jangan dibunuh….!” Pinta lurah perampok itu dengan ketakutan.
“Sudah berapa korban yang kau bunuh, heee…..!” Bentak Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Bel….bel…. belum pernah, Den…..!” Jawab lurah perampok terbata.
“Jawab sudah berapa kali…..?” Bentak Raden Mas Danang Sutawijaya sambil menginjak tangan lurah perampok itu.
Lurah perampok tak segera menjawab, namun injakan kaki anak kuda itu begitu kuat. Ia tidak mengira sama sekali akan bertemu dengan seorang anak muda yang berilmu sangat tinggi, bahkan tak bisa ia jajaki.
“Auuuch….., sakit Den……! Keluh lurah perampok yang merasa injakan kaki anak muda itu semakin kuat.

Sementara itu, pertarungan di samping warung juga sudah terhenti. Kedua perampok itu sudah tak berdaya. Hampir berbarengan pedang mereka terlepas dengan lengan mengucurkan darah segar. Kedua perampok itu lengannya sama-sama tertebas pisau belati lawan-lawannya. Yang seorang tertebas di lengan atas, sedangkan yang seorang tertebas di lengan bawah. Hampir berbarengan pula dagu mereka mendapat tendangan dari Ki Dhandhang dan Ki Karep.
…………….
Bersambung……….
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *