Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#559

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#559

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(559)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Sampai di kotaraja Pajang Ki Ageng Mataram bersama Raden Mas Danang Sutawijaya lancar tanpa halangan. Bahkan ketika sampai di gerbang keraton belum ada yang mengenali Ki Ageng Mataram maupun Raden Mas Danang Sutawijaya.
Prajurit jaga di pintu gerbang segera menghentikan mereka berdua. Namun prajurit itu segera mengenali yang muda adalah Raden Mas Danang Sutawijaya yang di kalangan keraton Pajang lebih dikenal sebagai Ngabehi Loring Pasar karena ksatriannya berada di utara pasar. Dan kemudian prajurit itu pun mengenali bahwa yang lebih tua adalah Ki Pemanahan yang sekarang bergelar Ki Ageng Mataram.
“Ooh Raden….., Ooh Ki Pemanahan. Apakah ingin menghadap Kanjeng Sultan…..?” Bertanya prajurit jaga itu.
“Benar Paman, kami ingin menghadap ramanda Sultan…..!” Raden Mas Danang Sutawijaya yang menjawab.
“Baiklah, mohon ditunggu di bangsal srimanganti. Akan kami beritahukan kepada Kanjeng Sultan. Sepertinya Kanjeng Sultan belum meninggalkan keraton…..!” Berkata prajurit jaga.
“Baiklah Paman, kami menunggu…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.

Kanjeng Sultan begitu senang menerima kabar kedatangan Ki Pemanahan bersama Raden Mas Danang Sutawijaya. Ia sendiri yang segera bergegas menyongsong di bangsal srimanganti.
“Kakang Pemanahan, Mas Danang…..! Mari kita berbincang di ruang dalam…..!” Berkata Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang berkenan menerima di ruang keluarga.
Setelah saling berkabar keselamatan sesuai adat istiadat keraton Pajang, Kanjeng Sultan Hadiwijaya kemudian bertanya kepada Ki Pemanahan.
“Semoga khabar suka cita yang dibawa oleh Kakang Pemanahan dan Mas Danang……!” Berkata Kanjeng Sultan Hadiwijaya.
Mendengar perkataan dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya tersebut, Raden Mas Danang Sutawijaya menjadi berdebar- debar karena yang dibawa bukanlah kabar suka cita, namun sebalik. Yakni tentang Ni Mas Mirah.
Sedangkan Ki Ageng Mataram masih berpikir bagaimana menyampaikan masalah Ni Mas Mirah agar Kanjeng Sultan Hadiwijaya tidak marah.
“Semoga memang kabar suka cita yang akan kami sampaikan ini….!” Berkata Ki Ageng Mataram.
“Kok memakai kata semoga, Kakang. Sampaikanlah yang memang harus disampaikan. Bagiku perkembangan Mataram adalah kabar suka cita, bukan sebaliknya…..!” Berkata Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang mengira Ki Pemanahan akan menceritakan tentang perkembangan telatah Alas Mentaok yang kini telah menjadi Mataram. Ia sama sekali tidak memikirkan tentang gadis kecil yang dahulu telah dititipkan kepada keluarga Ki Pemanahan di Laweyan.
“Terimakasih Kanjeng, Mataram memang sedang membangun, namun terasa sangat lambat untuk menjadi sebuah negeri. Paling pas jika dikatakan kampung Mataram…..!” Berkata Ki Pemanahan merendah.
“Aku sudah tahu perkembangan Mataram yang sesungguhnya. Dan itu membuat aku gembira…..!” Berkata Kanjeng Sultan Hadiwijaya.
Ki Pemanahan sendiri mengira bahwa Kanjeng Sultan Hadiwijaya tidak berkenan jika Mataram menjadi besar. Namun pemikiran Ki Pemanahan itu ternyata tidak tepat. Demikian juga pemikiran dari Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Terimakasih Kanjeng, semoga Mataram nantinya benar-benar bisa berkembang…..!” Barkata Ki Ageng Mataram.
Kemudian Ki Ageng Mataram melanjutkan kata-katanya.
“Ada lain hal yang akan kami haturkan, Kanjeng……!”
“He….., sepertinya hal yang penting…..!”
Sahut Kanjeng Sultan Hadiwijaya.
“Sesungguhnya bukan sesuatu yang penting sekali, namun harus kami haturkan sebagai sebuah tanggung jawab…..!” Lanjut Ki Ageng Mataram.
“Katakanlah Kakang……!” Berkata Kanjeng Sultan Hadiwijaya.
“Tentang gadis kecil dari Jepara yang dahulu dititipkan kepada keluarga Laweyan oleh Kanjeng Sultan. Gadis itu kini telah akhil balik yang semestinya kami haturkan saat ini. Namun ada sesuatu yang membuat ia belum kami ajak…..!” Berkata Ki Ageng Mataram.
……………
Bersambung…………
(@SUN-aryo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *