Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#612

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#612

penerus trah prabu brawijaya

Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(612)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Raden Mas Danang Sutawijaya mendorong kuat-kuat tubuh Ki Singa Dangsa.
Ki Singa Dangsa pun tersungkur di halamannya sendiri. Wajahnya pun berlepotan tanah kering. Namun Ki Singa Dangsa kemudian melenting berdiri.
“Druhun keparat….! Licik kau….!” Umpat Ki Singa Dangsa.
Ki Singa Dangsa kembali menyerang Raden Mas Danang Sutawijaya dengan garangnya. Kali ini ia tak mau lengah. Ia ayunkan kakinya dengan kekuatan penuh yang dilambari dengan ilmunya. Jika orang kebanyakan pasti tidak akan mampu menghindar dari tendangannya tersebut. Dan jika menghantam lambung, pasti akan keluar isi perutnya. Namun Raden Mas Danang sedikit mencondongkan tubuhnya ke belakang. Ayunan kaki itu pun hanya melayang sejengkal dari tubuh Raden Mas Danang Sutawijaya.
Ki Singa Dangsa tak ingin gagal lagi. Dengan sedikit menunduk ia ayunkan kepalan tangannya ke dagu lawannya. Jika hantaman itu mengena sasaran, rahang lawannya pasti akan remuk. Namun Raden Mas Danang Sutawijaya hanya sedikit memiringkan kepalanya sehingga ayunan kepalan tangan Ki Singa Dangsa kembali menerpa angin. Namun Ki Singa Dangsa terus memburu Raden Mas Danang Sutawijaya. Dengan tendangan maupun pukulan. Namun belum sekalipun serangannya mengenai sasaran.

Para murid Bukit Tidar yang mengepung halaman itu heran, selama ini tidak ada seorang pun yang mampu bertahan beberapa saat melawan Ki Singa Dangsa. Namun anak muda itu sepertinya dengan enteng menghindari setiap serangan dari Ki Singa Dangsa. Ki Singa Dangsa memang tidak pernah menggunakan senjata untuk melumpuhkan lawan-lawannya sebelumnya. Walau lawannya bersenjata pun dengan mudah ditundukkannya. Selama itu pula, lawan-lawannya sekali pukul atau sekali tendang pasti akan terkapar dan tak mampu bangkit lagi. Namun kali ini tidak terjadi.
Nyi Singa Dangsa pun belum bisa bangkit berdiri karena kakinya serasa patah tulang di dalam. Ia sendiri merasa heran, mengapa dengan mudah ditundukkan oleh lawannya yang masih muda itu. Dan kini semakin heran karena suaminya pun tak kunjung mampu melumpuhkan lawannya. Lawannya dengan ringannya selalu mampu berkelit dari serbuan suaminya.

Sampai sejauh itu Raden Mas Danang Sutawijaya belum melancarkan serangan balasan. Ia ingin menjajagi setinggi apa ilmu dari pimpinan Bukit Tidar tersebut. Dalam suatu kesempatan, Raden Mas Danang Sutawijaya sengaja menangkis hantaman tangan Ki Singa Dangsa dengan lengannya.
“Ouuuch…..!” Ki Singa Dangsa yang meloncat mundur.
Ia yang telah melambari hantamannya dengan ilmunya yakin bahwa tangan lawannya akan remuk. Namun yang terjadi ia bagai menghatam wesi gligen – besi batangan. Tangannya sendiri yang terasa sakit. Sedangkan Raden Mas Danang Sutawijaya masih berdiri kokoh di tempatnya.
Ki Singa Dangsa sesaat termangu. Namun sesaat kemudian ada yang melempar kapak kepadanya. Ia memang telah memberi tanda kepada anak buahnya yang biasa membawakan senjata andalannya itu. Dan kini sebuah kapak sudah digenggam tangkainya. Ia sangat jarang menggunakan senjata andalannya tersebut. Karena selama ini dengan tangan kosong pun telah mampu menundukkan lawan-lawannya.
“Aku ingin tahu, apakah kulitmu mampu menahan tajamnya kapak baja ini…..!” Berkata Ki Singa Dangsa.
Raden Mas Danang Sutawijaya tak ingin menjadi korban hanya karena keteledorannya. Ia tak ingin coba-coba melawan senjata kapak baja itu dengan tangan kosong. Ia kemudian melepas ikat kepalanya. Sejenak ikat kepala itu dikibas-kibaskan-nya. Mereka yang menyaksikan tak tahu apa maksud dari Raden Mas Danang Sutawijaya tersebut. Ki Singa Dangsa pun tak tahu maksud dari lawannya itu.
“Aku ingin tahu apakah kapakmu itu mampu merobek ikat kepalaku ini…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Druhun keparat……! Penghinaan yang tak terkira…..!” Umpat Ki Singa Dangsa.
……………..
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *