Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#639

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#639

penerus trah prabu brawijaya

Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(639)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Raden Mas Danang Sutawijaya menahan airmata sekuat tenaga. Namun ia tak mampu juga. Airmata-nya mengalir membasahi pipinya. Tangan Ki Ageng Mataram yang dingin itu masih digenggam erat oleh Raden Mas Danang Sutawijaya. Namun detak nadi sudahtidak dirasakan sama sekali. Orang tua kandung yang telah menjadi lantaran ia terlahir di dunia ini benar-benar telah mendahului menghadap Sang Pencipta.
Semua yang berada di dalam bangsal itu menunduk hening memberi penghormatan kepada Ki Ageng Mataram. Sosok sesepuh yang juga pimpinan Mataram yang sangat mereka hormati.

Ki Juru Martani pun juga menundukkan kepala dalam-dalam menahan kesedihan. Ia adalah saudara seperguruan yang juga sebagai kakak ipar. Mereka berdua seperti tak terpisahkan sejak usia muda. Sejak mereka berguru kepada Ki Ageng Sela di Pengging bersama Ki Panjawi dan Jaka Tingkir saat itu. Jaka Tingkir yang sekarang menjadi Sultan Hadiwijaya di Pajang. Mereka dahulu disebut empat sekawan dari Pengging. Namun kini semua telah terpisah. Jaka Tingkir yang paling muda saat itu, kini telah menjadi Sultan di Pajang. Ki Panjawi yang juga lebih muda dari Ki Pemanahan, kini menjadi adipati di Pati. Ki Juru Martani yang paling tua diantara mereka. Dan kini Ki Pemanahan telah tiada.
Ki Ageng Giring juga menahan kesedihan. Walau ia bukan bagian dari perguruan Pengging, namun ia juga sebagai teman seperguruan dari Ki Pemanahan di perguruan yang lain. Mereka berdua juga sudah seperti saudara kandung yang dekat. Ki Ageng Giring teringat tentang kisah kelapa muda yang bertuah. Kelapa muda satu-satunya yang diramal oleh seorang ulama akan menjadi sarana wahyu penguasa tanah Jawa. Kelapa muda yang telah dipetik oleh Ki Ageng Giring itu disimpan di paga bambu di dapur. Rencananya oleh Ki Ageng Giring akan diminum sepulang dari tegalan. Namun yang direncanakan tidak menjadi kenyataan. Kelapa muda telah diminum oleh Ki Pemanahan yang kebetulan sedang berkunjung. Dengan demikian wahyu itu dianggap telah masuk kedalam jiwa Ki Pemanahan. Ia pun teringat tentang tawar-menawar tentang kesempatan untuk ikut menerima wahyu bagi keturunan mereka. Dan antara Ki Pemanahan dan Ki Ageng Giring telah tercapai kesepakatan.
Namun kini Ki Pemanahan telah meninggal.
“Apakah dengan demikian ramalan tentang wahyu itu tidak menjadi kenyataan…..?” Batin Ki Ageng Giring.
Ki Ageng Giring tidak menemukan jawabannya.
Kebetulan pula saat itu Ki Demang Karanglo juga masih di bangsal itu. Ia bukan kerabat atau saudara seperguruan dari Ki Pemanahan. Namun mereka telah bersahabat sejak lama. Bahkan Ki Pemanahan sering singgah di kademangan Karanglo. Ki Demang Karanglo pun sering pula berkunjung ke Laweyan di Manahan saat Ki Pemanahan tinggal di sana. Ki Demang Karanglo selama ini juga terlibat dalam babat Alas Mentaok. Ia sangat kehilangan dengan kepergian Ki Pemanahan untuk selama-lamanya.
Namun yang tidak bisa menahan tangis adalah para wanita. Mereka benar-benar menangis tersedu. Hampir semua wanita tak mampu menahan tangis. Yang sepuh mencoba menasehati yang lebih muda. Namun ternyata mereka menangis juga.
Bagi mereka, Ki Pemanahan adalah panutan dalam banyak hal. Ia adalah sosok pemimpin yang bisa menjadi tauladan.
Ki Ageng Mataram yang adalah Ki Pemanahan sebagai cikal bakal negeri Mataram telah tiada. Ia juga sebagai pimpinan babat Alas Mentaok yang belum sempat merasakan hasilnya.
Hampir semua telah bersepakat akan mengangkat Ki Ageng Mataram menjadi seorang raja di telatah Mataram ini. Rencananya dalam waktu dekat setelah semua pembangunan kawasan Kotagede selesai. Namun kenyataan berkata lain. Ki Ageng Mataram telah jatuh sakit. Segala upaya telah diusahakan, namun sakitnya tidak kunjung sembuh, bahkan semakin parah. Mereka pun tidak tahu apa jenis penyakit yang diderita oleh Ki Ageng Mataram itu. Segala reramuan telah dicoba, namun tidak membuat sembuh. Walaupun sesungguhnya Ki Ageng Mataram adalah seorang yang berilmu tinggi dan sugih ilmu, namun tetap saja memiliki keterbatasan.
……………..
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.
Kunjungi pula situs saya di Youtube. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *