Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#638

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#638

penerus trah prabu brawijaya

Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(638)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Bara di puncak Merapi itu seakan memanggil Raden Mas Danang Sutawijaya untuk berkunjung ke sana. Raden Mas Danang Sutawijaya kemudian teringat kisah tentang Ki Kebokanigara, paman dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang gugur di puncak gunung itu ketika terjadi hujan abu yang sangat pekat.
“Aku ingin berkunjung ke makam beliau di suatu saat…..!” Batin Raden Mas Danang Sutawijaya yang pernah mendengar kisahnya dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya sendri dan juga dari ayahnya, Ki Pemanahan yang sekarang bergelar Ki Ageng Mataram.
Tiba-tiba saja Raden Mas Danang Sutawijaya teringat sang ayah kandung, Ki Ageng Mataram yang ketika ia tinggalkan sedang tidak enak badan yang tidak kunjung sembuh.
“Semoga bapa telah sehat kembali…..!” Batin Raden Mas Danang Sutawijaya.
Tak disadari, derap kaki kuda menjadi semakin cepat. Rasanya bagi Raden Mas Danang Sutawijaya ingin segera bertemu dengan sang ayah.

Ketika sampai tak jauh dari gunung gamping yang tidak terlalu tinggi itu, Raden Mas Danang Sutawijaya berbelok ke kiri. Karena jika terus akan lewat Alas Beringan. Jika di malam hari tentu sangat berbahaya bagi kudanya. Bisa saja tiba-tiba di sergap oleh buaya atau hewan buas lainnya.
Raden Mas Danang Sutawijaya memilih untuk lewat Karangwaru walau sedikit lebih jauh. Namun jalannya sudah lebih lebar dan semakin ramai.
Dari Karangwaru sampai Papringan kemudian belok kiri lewat jalan baru yang telah jadi.

Malam belum menjelang tengah malam ketika Raden Mas Danang memasuki gerbang alun-alun. Namun ia merasakan perasaan yang berbeda. Biasanya saat seperti itu di gerbang dan di alun-alun masih banyak orang berlalu lalang. Tetapi saat itu terasa sepi. Hanya satu dua orang saja yang lewat.
“Paman….., mengapa suasananya sepi seperti ini……?” Bertanya Raden Mas Danang Sutawijaya ketika berpapasan dengan seorang setengah baya yang telah ia kenal.
“Oooh Raden sudah kembali…..! Kami dari pendapa. Raden sudah ditunggu-tunggu oleh para sesepuh…..!” Berkata orang itu.
“Oooh….., ada apakah……?” Raden Mas Danang Sutawijaya balik bertanya.
“Nanti Raden akan mengerti sendiri setelah tiba di pendapa…..!” Berkata orang tersebut.
Raden Mas Danang Sutawijaya berdebar-debar dan tidak sabar. Ia segera memacu kudanya lewat tengah-tengah alun-alun. Ia pun langsung menambatkan kuda dan kemudian berlari menuju pendapa.
Ia semakin berdebar-debar ketika sampai di pendapa sudah banyak orang yang hampir semuanya menunduk. Dan hampir semuanya menoleh ke arah Raden Mas Danang Sutawijaya ketika telah sampai di pendapa.
“Marilah Raden……! Ki Ageng Mataram selalu menanyakan Raden……!” Berkata Ki Ageng Giring yang sengaja menunggu Raden Mas Danang Sutawijaya di luar bangsal.
“Oooh……, ada apakah Paman……?” Bertanya Raden Mas Danang Sutawijaya tidak sabar.
“Marilah……!” Berkata Ki Ageng Giring tanpa menjawab pertanyaan dari Raden Mas Danang Sutawijaya.
Raden Mas Danang Sutawijaya sangat heran dan semakin berdebar ketika semua orang memandangnya dengan menundukkan kepala.
“Raden Mas Danang telah pulang……!” Bisik hampir semua yang berada di bangsal itu. Para sesepuh memang sedang menunggui Ki Ageng Mataram yang terbaring di bangsal itu.
Raden Mas Danang Sutawijaya tertegun ketika melihat Ki Ageng Mataram terbaring lemah dan badan yang kurus kering.
“Oooh Bapa……,” berkata Raden Mas Danang Sutawijaya yang kemudian bersimpuh di sisi pembaringan tempat Ki Ageng Mataram terbaring.
Raden Mas Danang Sutawijaya menahan air mata yang hampir saja tumpah.
Ia sama sekali tidak mengira bahwa keadaan ayahandanya menjadi sedemikian menyedihkan.
Ki Ageng Mataram yang lemah itu tak mampu menjawab perkataan Raden Mas Danang Sutawijaya. Namun kerling matanya masih bisa melirik ke arah Raden Mas Danang Sutawijaya.
Raden Mas Danang Sutawijaya kemudian menggenggam tangan Ki Ageng Mataram yang dingin. Mata Ki Ageng Mataram pun kemudian terpejam.
Raden Mas Danang Sutawijaya tak merasakan detak jantung Ki Ageng Mataram lagi. Dan Ki Ageng Mataram pun telah wafat.
……………..
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.
Kunjungi pula situs saya di Youtube. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *