Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#642

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#642

penerus trah prabu brawijaya

Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(642)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya sendiri juga sudah mendengar mangkatnya saudara seperguruannya, Ki Pemanahan.
Kanjeng Sultan bimbang akan hadir untuk melayat atau tidak. Namun akhirnya Kanjeng Sultan memutuskan untuk tidak hadir di Mataram. Banyak pertimbangan dengan keputusannya itu.

Sementara itu, ketika matahari telah naik sepenggalah, halaman depan dan samping pendapa Kotagede telah hampir penuh oleh para pelayat. Namun di pendapanya sendiri justru masih sepi. Hal tersebut lumrah, karena kebanyakan orang tidak memilih di tempat yang terhormat.
Semakin siang yang berdatangan semakin banyak.
Tak disangka, ternyata banyak dari luar kawasan Kotagede yang hadir melayat.
Dari kademangan Karanglo datang berarak-arakan. Banyak dari mereka yang dahulu ikut dalam gotong royong pembuatan jalan. Dan mereka sudah banyak mengenal para penghuni kawasan Kotagede.
Demikian pula mereka yang berdatangan dari Kalasan, dari Wiyara, dari Prambanan, bahkan juga dari Taji.
Ketika matahari hampir di puncak cakrawala, berdatangan rombongan dari Kembanglampir dan sekitarnya. Rupanya Ki Ageng Giring telah mengirim utusan ke telatah pegunungan Sewu itu.
Berdatangan pula mereka dari Papringan, dari Karangwaru, bahkan juga dari Denggung.
Bahkan kini yang melayat telah meluber sampai pinggiran alun-alun.
Mereka yang belum pernah datang ke kawasan itu sungguh kagum adanya alun-alun yang sedemikian luas dan tertata rapi. Pohon beringin di tepian alun-alun telah mulai tumbuh subur sehingga bisa untuk berteduh. Demikian pula pohon beringin tua yang tepat di tengah-tengah alun-alun menjulang tinggi dan rimbun.
Mereka pun kagum dengan bangunan di sekitar alun-alun yang sebagian besar bahannya adalah kayu berjejer rapi mengelilingi alun-alun.
“Seperti alun-alun keraton ya Kang…..!” Berkata seseorang yang telah sampai di alun-alun.
“Yaa….., katanya alun-alun ini lebih luas daripada yang berada di Pajang……!” Jawab kawannya yang mungkin pernah mendengar cerita itu.
“Katanya pendapanya juga seorang Siti Hinggil sebuah keraton…..!” Berkata yang lain.
“Nanti kita melihat-lihat di sekitar pendapa itu…..!” Berkata yang lain.
“Katanya ada sendang sepasang yang airnya jernih melimpah…..!” Sahut yang lain.
“Yaaa….., nanti kita akan melihat sendangnya sekalian cuci muka…..!” Sahut yang lain.
Yang menarik perhatian adalah mereka yang datang dari Berja. Mereka datang dengan naik gerobak beriringan. Gerobak yang biasa untuk mengangkut batu bata dan genteng, kini untuk mengangkut manusia. Para perajin batu bata dan genteng dari Berja sudah banyak yang akrab dengan para pekerja di kawasan Kotagede karena mereka sering mengantar batu bata dan genteng ke tempat itu. Lagi pula banyak dari mereka yang ingin pula mengetahui pembangunan di kawasan itu yang banyak menggunakan batu bata dan genteng buatan mereka. Banyak dari mereka yang belum pernah datang ke kawasan Kotagede memerlukan hadir kali ini. Bagi orang-orang Berja, nama Raden Mas Danang Sutawijaya sangat mereka kagumi. Cerita tentang Raden Mas Danang Sutawijaya yang ikut mendorong gerobak di tanjakan kali Winanga telah mereka dengar.
Gerobak-gerobak itu berhenti berderet di tepian alun-alun menarik banyak perhatian.

Yang tak kalah sibuknya adalah para wanita di dapur yang sedang mempersiapkan hidangan untuk para pelayat. Semula telah menjagal dua ekor kerbau, namun dirasa belum cukup karena yang melayat begitu banyak.
“Harus tambah satu ekor lagi Paman…..!” Berkata seorang wanita.
“Yaa….., aku setuju. Biarlah segera disembelih satu ekor kerbau lagi…..!” Berkata laki-laki separuh baya itu.
Hampir semalaman sampai siang itu para wanita tidak ada yang sempat beristirahat, apalagi tertidur. Mereka menyiapkan hidangan untuk banyak orang yang terus berdatangan. Mereka yang berdatangan banyak dari luar kawasan Kotagede tentu mereka haus dan lapar.
……………..
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.
Kunjungi pula situs saya di Youtube. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *