Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#676

penerus trah prabu brawijaya

Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(676)
Mataram.
Seri Panembahan Senopati.

Raden Pabelan tidak mengira sama sekali bahwa petang hari itu sudah ada di teras belakang keputren tempat tinggal Gusti Putri Sekar Kedaton. Petang hari itu ia hanya berharap mendapat balasan surat, namun yang terjadi jauh diluar perkiraan. Beruntung bagi Raden Pabelan karena ia tetap berpenampilan rapi dengan busana bagus dan wangi.
Raden Pabelan masih menunggu dengan berdebar. Ia sudah banyak sekali menghadapi para gadis maupun ibu muda tidak pernah berdebar. Tetapi kini hatinya berdebar, jantungnya berdegup kencang.
Raden Pabelan menunggu di ketenangan lampu teras dengan gelisah.
Raden Pabelan telah melihat dua orang wanita yang mendekat.
“Bibi mau mengantarkan pisang goreng ke gardu penjagaan. Silahkan Gusti Putri menemui sendiri….!” Berkata abdi setengah baya yang masih membawa bungkusan pisang goreng.
“Sebentar Bibi….., ayo diantar dulu sampai bertemu dengan perjaka itu….!” Pinta Gusti Putri Sekar Kedaton.
“Baik Gusti……!” Jawab abdi tersebut.

Gusti Putri Sekar Kedaton tertegun ketika melihat sosok perjaka yang menunggu di teras itu. Seorang perjaka yang tampan gagah dan berkulit bersih. Dandanannya pun rapi dan wangi. Gusti Putri Sekar Kedaton terpesona pada pandangan yang pertama.
“Sudah lama menunggu, Raden…..?” Bertanya Gusti Putri Sekar Kedaton.
“Oooh….., Gusti Putri……, bakti kami Gusti Putri…..!” Berkata Raden Pabelan yang genap unggah-ungguhnya. Walau ia seorang putra Tumenggung, namun wajib hormat kepada seorang putra sultan, walau putra sultan itu seorang wanita.
Gusti Putri Sekar Kedaton semakin tertarik kepada perjaka tersebut yang tidak meninggalkan sopan santun. Namun Gusti Putri mencegahnya.
“Lupakan unggah ungguh itu agar perbincangan kita menjadi cair…..!” Berkata Gusti Putri Sekar Kedaton.
“Bagaimanapun Gusti Putri adalah Putri Kanjeng Sultan…..!” Dalih Raden Pabelan.
“Yaaa….., aku mengerti…..!” Kemudian katanya kepada abdi keputren.
“Silahkan Bibi, tinggalkan kami…..!” Berkata Gusti Putri Sekar Kedaton yang tidak kecewa kepada perjaka yang ditemuinya itu.
Bibi abdi keputren segera bergegas meninggalkan teras belakang keputren.
Kini Gusti Putri Sekar Kedaton tinggal berdua dengan Raden Pabelan.
Raden Pabelan yang sudah kenyang pengalaman menghadapi seorang wanita. Kini ia telah bisa menguasai diri. Terlebih karena Gusti Putri Sekar Kedaton tanggapannya ramah dan menyenangkan.
“Maaf Gusti Putri….., nama Gusti Putri begitu harum di luar istana. Maaf pula Pabelan lancang – terlalu berani berkirim surat kepada Gusti Putri Sekar Kedaton……!” Berkata Raden Pabelan.
“Aku hargai keberanian itu Raden. Itu yang membuat aku tertarik. Hampir mustahil ada seorang perjaka yang berani berbuat seperti Raden Pabelan ini…..!” Berkata Gusti Putri Sekar Kedaton.
Raden Pabelan bangga karena disanjung oleh Gusti Putri Sekar Kedaton. Dengan demikian, pintu untuk lebih akrab telah terbuka.
Gusti Putri Sekar Kedaton bertanya bagaimana bisa sampai di teras belakang ini.
Raden Pabelan menceritakan seperti yang telah terjadi.
“Sungguh keberuntungan bagi Pabelan karena diperkenankan langsung menghadap Gusti Putri pada petang hari ini……!” Berkata Raden Pabelan.
“Yaa….., aku ingin segera tahu pengirim surat yang pemberani itu. Apakah ia juga berani menemui aku malam ini…..!” Berkata Gusti Putri Sekar Kedaton.
Raden Pabelan tersenyum karena keberaniannya dipuji oleh Gusti Putri Sekar Kedaton.
Kedua pria wanita itu kemudian terlibat perbincangan ringan yang kemudian semakin akrab. Raden Pabelan memang pandai memikat wanita dengan sikap dan kata-katanya. Demikian pula yang terjadi pada Gusti Putri Sekar Kedaton yang belum tahu sifat Raden Pabelan yang sesungguhnya.
“Tetapi perbincangan kita jangan keras-keras agar tidak menarik perhatian para abdi keputren…..!” Gusti Putri Sekar Kedaton mengingatkan.
…………….
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.
Kunjungi pula situs saya di Youtube. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook.

Sutanto Prabowo

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *