Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#123

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Ki Ageng Pengging.

Sementara itu, eyang dari Sultan Trenggono yang di pesisir pantai Gresik gelisah. Ia telah mendengar kesiapsiagaan pasukan Gresik untuk menghadapi pasukan yang dipimpin oleh cucunya sendiri, Sultan Trenggono. Ia sangat khwatir jika benar akan terjadi peperangan antara pasukan Gresik melawan pasukan Demak Bintara. Ia tidak ingin terjadi korban di pihak manapun, terlebih cucunya sendiri yang saat itu sebagai seorang sultan di negeri Demak Bintara. Namun ia tidak memiliki cara untuk mencegahnya.
Dalam kegalauan itu, eyang dari Sultan Trenggono itu terkejut ketika melihat empat orang memasuki pintu gerbang tempat tinggalnya.
“Sungkem kami, eyang….!” sapa salah seorang dari keempat orang itu yang tak lain adalah Sultan Trenggono sendiri.
“Oooh…., cucu Sultan…..!” sambut sang eyang setelah yakin ia berhadapan dengan sang cucu, Sultan Trenggono.
“Benar, eyang…..! kami bersama dua orang senopati dan beliau ini pasti eyang telah pernah mendengarnya. Beliau adalah Sunan Kudus…..!” kata Sultan Trenggono.
“Ooh…., Kanjeng Sunan…..! Bakti kami, Kanjeng Sunan…..!” kata eyang dari Sultan Trenggono tersebut.

Setelah saling menyampaikan salam dengan cara masing-masing. Mereka, para petinggi negeri Demak Bintara itu dipersilahkan masuk ke dalam pendapa yang luas dengan ukir-ukiran yang rumit. Pendapa yang menandakan si empunya pasti seorang yang cukup berada. Dua orang senopati itu pun kagum dengan ukir-ukiran yang menghiasi pendapa joglo tersebut.
“Sungguh, rumah ini mendapat kehormatan karena kehadiran Kanjeng Sunan…..!” kata eyang dari Sultan Demak itu.
“Saya adalah kawula Demak Bintara yang selalu setia kepada perintah Sultan…..!” kata Sunan Kudus merendah.
Beberapa saat kemudian, mereka saling berkabar keselamatan.

Setelah berbersih diri dan kemudian menjalankan kewajiban agama, mereka dijamu oleh eyang dari Sultan Trenggono tersebut.
Baru kemudian eyang tersebut menyampaikan keluhannya.
“Cucu membuat kami gelisah. Kami telah mendengar bahwa pasukan yang besar telah menuju ke Kadipaten Gresik. Kami tidak ingin mendengar ada pertentangan antara Gresik dengan Demak, Cucu….!” kata sang eyang.
“Demikian juga Cucunda, Eyang…..! Kami juga tidak ingin terjadi peperangan dengan kadipaten manapun….! Kami hanya ingin menyatukan kadipaten-kadipaten di bang wetan seperti zaman ayahanda Sultan Adipati Unus dahulu….! Kami ingin bertemu dengan Paman Adipati Gresik, Eyang…..!” kata Sultan Trenggono.
“Itu bagus sekali, tetapi bagaimana itu bisa terlaksana….?” kata sang eyang.
“Eyang pasti bisa menghadirkan Paman Adipati Gresik di tempat ini….!” kata Sultan Trenggono.
Sang Eyang tidak segera menjawab karena belum menemukan cara untuk menghadirkan Adipati Gresik ke tempat itu. Adipati Gresik memang sering berkunjung ke rumah Sang Eyang tersebut karena memang sudah akrab.
“Bisa disampaikan kepada Paman Adipati Gresik bahwa Kanjeng Sunan Kudus yang ingin bertemu dengan Paman Adipati Gresik…..!” lanjut Sultan Trenggono.
“Baik…..! Aku akan minta tolong ulama Gresik untuk menghadap Kanjeng Adipati Gresik…..!” kata Sang Eyang.

Dua orang ulama Gresik yang merupakan murid dari Sunan Kudus segera menghadap Kanjeng Adipati Gresik. Mereka kemudian menyampaikan pesan dari eyang Sultan Trenggono tentang Sunan Kudus yang ingin bertemu dengan Adipati Gresik. Namun ia tidak menyampaikan bahwa Sultan Trenggono juga berada di tempat itu.
“Baiklah, sekarang juga aku akan berangkat…..!” kata Adipati Gresik yang telah mendengar kewibawaan Sunan Kudus.
Adipati Gresik pun segera berangkat yang dikawal oleh para senopati pilihan.

Adipati Gresik terkejut ketika bertemu dengan Sultan Trenggono di tempat itu. Ia tidak mengira sama sekali bahwa Sultan Trenggono begitu saja meninggalkan pasukan besarnya di perbatasan dan kini berada di tepi pantai wilayah kekuasaan Adipati Gresik.
………….
Bersambung……..

Petuah Simbah: “Usahakan selalu untuk menghindari peperangan sekecil apapun.”
(@SUN)

**Kunjungi stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *