Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#124

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#124

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Ki Ageng Pengging.

Tiba-tiba pasukan yang menyertai Adipati Gresik mengepung rumah itu.
Sedangkan Sultan Trenggono beserta para pengiringnya tetap duduk tenang di pendapa itu. Bahkan Sunan Kudus justru tersenyum.
“Ooh maaf, Kanjeng Adipati……! Silahkan masuk dan lenggah di pendapa kami…..!” kata eyang dari Sultan Trenggono.
“Kami harus berhati-hati dengan jebakan kalian….!” kata Adipati Gresik.
“Kami mengerti, Paman Adipati….! Seandainya kami di pihak Paman pasti akan bertindak serupa itu…..!” kata Sultan Trenggono.
“Salam persaudaraan, Kanjeng Adipati….!” Sunan Kudus yang menimpali.
“Ooh maaf, Kanjeng Sunan….! Sungkem kami haturkan…!” kata Adipati Gresik.
“Maaf Kanjeng Adipati, jika Kanjeng Adipati ragu, ikatlah saya sebagai jaminan bahwa kami berkehendak baik…..!” kata eyang dari Sultan Trenggono.
“Kami yang minta maaf, Kakang….! Itu tidak mungkin, tidak mungkin kami akan menangkap Kakang…..!” kata Adipati Gresik yang telah sering berkunjung ke tempat itu sebelumnya.
“Terimakasih…! Silahkan lenggah seperti biasa…..!” lanjut eyang dari Sultan Trenggono itu.

Mereka kemudian saling berkabar keselamatan sesuai adat istiadat yang berlaku di telatah pulau ini.
Kemudian Sultan Trenggono yang menyampaikan maksudnya.
“Paman Adipati…..! Kami tidak ingin berperang dengan kadipaten manapun. Kami hanya ingin mengembalikan kejayaan di pulau ini seperti pada zaman Kangmas Sultan Pati Unus…..! Lebih dari itu, perlu saya sampaikan bahwa ada musuh bersama yang harus kita hadapi….!” kata Sultan Trenggono.
“Apa maksud, Kanjeng Sultan….? Apakah kita harus menyerang Blambangan bersama-sama….?” tebak Adipati Gresik
“Bukan, Paman…..! Blambangan adalah bagian dari kita juga…..!” imbuh Sultan Trenggono.
“Membuat kami semakin tidak mengerti, Kanjeng Sultan….!” kata Adipati Gresik.
“Paman Adipati pasti sudah mendengar bahwa bangsa kulit putih telah menancapkan kaki di Banten. Mereka adalah bangsa Portugis yang harus kita usir dari pulau ini. Jika kita saling berperang tentu akan sangat merugikan kita sendiri…..!” dalih Sultan Trenggono.
“Ya, saya telah mendengar, Kanjeng Sultan…..!” kata Adipati Gresik.
“Itulah maksud kami, kita harus bersatu dan kuat untuk menangkal jangan sampai bangsa Portugis itu masuk ke negeri kita…..! Bahkan kami berencana untuk mengusir mereka dari telatah Banten. Kita bantu Adipati Banten untuk mengusir bangsa kulit putih itu….!” kata Sultan Trenggono selanjutnya.
Adipati Gresik mengangguk-angguk bisa memahami kata-kata Sultan Trenggono.
“Tetapi pasukan besar yang yang berada di perbatasan itu….?” kata Adipati Gresik mengalihkan perbincangan.
Sultan Trenggono tersenyum, kemudian katanya; “Itu hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi salah paham.Tetapi syukur itu tidak terjadi di kadipaten ini…..!”
Sunan Kudus pun tersenyum dan dalam batin memuji cara Sultan Trenggono dalam membujuk Adipati Gresik. Dengan cara seperti itu, Kadipaten Gresik tidak merasa ditundukkan oleh Kasultanan Demak, namun justru merasa dibutuhkan.

Mereka kemudian berbincang tentang banyak hal, terutama tentang perdagangan yang telah maju di pesisir pantai Gresik. Gresik bisa menjadi pintu utama masukan para pedagang dari luar pulau.
“Baiklah, kami setuju dengan rencana Kanjeng Sultan….! Apa yang mesti kita lakukan selanjutnya…..!” tanya Adipati Gresik.
“Jika setiap kadipaten mengirim satu atau dua bergada prajurit saja, tentu sudah menjadi sebuah kekuatan yang besar untuk mengusir bangsa Portugis dari pulau ini. Mereka, bangsa kulit putih itu memang tangguh di lautan, namun tidak jika di daratan…..!” lanjut Sultan Trenggono.
“Sebuah gagasan yang baik. Gresik siap untuk bergabung dengan pasukan besar itu…..!” kata Adipati Gresik.
Mereka masih berbincang tentang berbagai hal, namun telah dicapai kesepakatan bahwa tidak akan terjadi peperangan antara pasukan Gresik melawan pasukan gabungan dari Demak Bintara.
…………
Bersambung………

Petuah Simbah: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Demikian pula dengan negeri kita yang berbhineka tinggal ika ini.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *