Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#19

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#19

Gendhuk Jinten merasa senang dibantu oleh embok-embok kademangan. Mereka membantu dengan sukarela dan tulus. Untuk sarapan dibuat yang mudah dan cepat, sega pondoh lauk besengek tempe.
Ketika matahari sepenggalah, mereka beristirahat untuk sarapan. Mereka menikmati sega pondoh lauk besengek tempe dengan gembira sambil bersenda gurau. Gendhuk Jinten bisa melupakan sebagai seorang pengungsi dari lingkup keraton yang serba kecukupan. Penerimaan warga kademangan Pengging sungguh membesarkan hati Gendhuk Jinten.

Ki Tanu pun tidak mengira bahwa penerimaan warga dan perangkat kademangan sedemikian baik. Bahkan diperbantukan pula seorang tukang kayu yang mumpuni dengan segala peralatan tukang yang cukup komplit.

Namun, selagi mereka sarapan sambil berbincang, mereka semakin bergembira akan kedatangan Ki Ulu-ulu bersama beberapa perangkat kademangan. Ki Tanu menyambut mereka dengan bergembira, sungguh tak mengira perhatian mereka sedemikian besar.
Ki Ulu-ulu pun terkejut, karena yang mendapat gilir sambatan hanya empat orang, namun yang datang lebih dari sepuluh orang.

Demikianlah, kegiatan sukarela memang tidak bisa dibatasi.
Bahkan, Ki Ulu-ulu dan para perangkat kademangan pun ikut nimbrung sarapan sega pondoh lauk besengek tempe.
“Ini namanya tepat waktu dan tepat sasaran….!” seloroh Ki Ulu-ulu yang gemar bergurau.
“Jangan-jangan memang sudah diperhitungkan, datang pas sarapan pagi…..!” celetuk orang yang telah ikut sambatan.
Tawa berderai pun semarak di lahan tepi sungai itu.
“Ha ha ha ha…..! Menuduh kok kenyataan…..!” seloroh Ki Ulu-ulu.
Ki Tanu pun ikut tersenyum, warga dusun sungguh sangat akrab dan menyenangkan. Sepertinya tidak terlalu terbatasi oleh derajat pangkat seperti di dalam lingkup keraton. Bahkan saling ejek, guyon pari kena – saling sindir namun tidak membuat sakit hati. Yang terjadi adalah derai tawa bersama-sama.
“Hei Ki……! Bagaimana kakimu yang digigit ular….? Sudah sembuh sama sekali…..?” tanya Ki Ulu-ulu kepada orang yang tadi malam digigit ular, mengalihkan pembicaraan.
“Ki Tanu memang ampuh….! Kaki saya sudah sembuh sama sekali Ki…..!” jawabnya.
“Ya syukurlah…..! Tetapi kita tidak boleh lantas bermain-main dengan ular, dan juga ular tak perlu diburu…..! Ular adalah pemakan tikus, tikus yang mengganggu tanaman kita…..!” lanjut Ki Ulu-ulu.
Kesempatan berkumpul itu digunakan oleh Ki Ulu-ulu untuk sesorah tentang berbagai hal demi kemajuan kademangan Pengging.
“Pengging adalah daerah yang subur dan sejuk…..! berbagai macam sayuran tumbuh subur di tanah ini….! Jika kita garap dengan sungguh-sungguh, pasti tidak akan ada orang yang berkekurangan di kademangan ini….! Bahkan, tempat ini bisa menjadi tempat kulakan berbagai hasil kebun…..!” kata Ki Ulu-ulu menggugah tekad dan semangat warganya.
“Sesungguhnya, rumput dan gerumbul perdu itu adalah anugerah, bukan untuk dibabat dan dibakar…..! Kedepan, rumput dan gerumbul perdu itu adalah sumber kehidupan kita…..!” sesorah Ki Ulu-ulu.
“Maksudnya bagaimana, Ki……?” tanya salah seorang dari mereka.
“Kita, kalian, bisa memelihara berbagai ternak yang memakan rumput dan dedaunan, seperti domba, kambing, lembu, kerbau, bahkan kuda….! Kademangan ini bisa menjadi pusat berbagai hewan ternak yang kita jual ke berbagai kademangan tetangga….!” lanjut Ki Ulu-ulu.
Tiba-tiba Ki Tanu menyela; “Ki…..! di suatu daerah ada yang mengembangkan perternakan sapi perah yang menghasilkan susu….! Mungkinkah di kademangan ini juga bisa dikembangkan….?”
“Nhah…..! Inilah tantangan yang sangat baik…..! Susu adalah minuman para bangsawan, namun para petanilah yang menghasilkan…..! Kita bisa mewujudkan di kademangan ini…..! Kademangan ini bisa menjadi pusat berbagai hasil bumi dan ternak, dan juga susu untuk para bangsawan….! Apakah kita sanggup…..?” seru Ki Ulu-ulu.
“Sangguuup…!” sahut mereka gegap.
“Besuk kita wujudkan…..!” seru Ki Ulu-ulu.
Ki Tanu kemudian melanjutkan gagasannya; “Ki…..! Air yang melimpah itu juga merupakan rahmat yang bisa menjadi sumber kehidupan warga…..!”
………
Bersambung……..

Petuah Simbah: “Marilah kita syukuri bumi pertiwi yang subur makmur loh jinawi ini.”
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *