Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#97

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#97

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.

Gendhuk Jinten.

Gendhuk Jinten masih belum tahu arah pembicaraan orang yang mengaku Bayaputih itu. Bahkan Gendhuk Jinten menganggap orang itu berbicara ngelantur. Hingga kemudian Bayaputih melanjutkan kata-katanya.
“Nini Gendhuk Jinten….., sekali lagi aku ingin minta maaf…..!” Bayaputih berhenti sejenak. Dan ia kemudian melanjutkan kata-katanya dengan hati-hati.
“Nini……., akulah yang menyebabkan sekarang kau berbadan dua…..! Akulah ayah dari bayi yang kau kandung itu…..!” Berkata demikian, Bayaputih langsung melesat pergi meninggalkan Gendhuk Jinten dan Mbok Inang.
“Mboook….., oooh mbook…..! Aku pusing Mbook…..!” kata Gendhuk Jinten terbata-bata.
Gendhuk Jinten berusaha berjalan ke rerumputan di tepi sungai, namun langkahnya sempoyongan, dan ia kemudian terduduk dan bahkan ia kemudian tergeletak, pingsan.
“Niniiii……, Niniiii….., bangun Ninii….!” kata Mbok Inang sambil menggoncang-goncang tubuh Gendhuk Jinten.
“Hadeuuuh…., bagaimana ini…., Ninii Nini Jinten…..!” Mbok Inang kembali menggoncang-goncan Gendhuk Jinten.
Namun yang digoncang-goncang tetap belum sadarkan diri.
Mbok Inang ingin berteriak minta tolong, namun ia urungkan. Ia khawatir akan membuat geger di pondok itu. Ia percaya bahwa pingsannya Gendhuk Jinten bukan karena sakit, namun karena hatinya tergoncang. Ia berharap Gendhuk Jinten segera siuman. Mbok Inang dengan telaten memijit-mijit Gendhuk Jinten.
“Nini……, sadar Nini…..!” bisik Mbok Inang lagi.
“Mboook……!” kata Gendhuk Jinten lirih.
“Niniii……, kau sudah ingat….?” kata Mbok Inang gembira.
“Di….dia…. pergi, Mboook…..?” kata Gendhuk Jinten terbata.
“Ya…. ya….., ia pergi…..! Anggaplah angin lalu, Nini…..!” hibur Mbok Inang.
Namun kemudian mata Gendhuk Jinten berkaca-kaca, bahkan kemudian ia menangis sesenggukan.
“Mboook….., mboook…. huk huk huk huk……!” tangis Gendhuk Jinten.
“Sudahlah Nini….., tenangkan hati dan pikiranmu…..!” Mbok Inang mencoba menghibur.
Pikiran dan perasaan Gendhuk Jinten memang campur aduk, ia tak mengerti mengapa ia mesti menangis. Namun yang pasti ia sangat terkejut mendengar kabar yang sama sekali tidak diduga itu. Ia sebelumnya telah mulai tenang karena Ki Demang telah menganggapnya sebagai anak sendiri. Dan lagi pula, perhatian Ki Demang sangat basar terhadap dirinya.
Setelah puas menangis, Gendhuk Jinten kemudian mulai tenang. Mbok Inang kemudian menyeka wajah Gendhuk Jinten dengan handuk yang mereka bawa.
“Marilah kita pulang….., nanti biarlah Mbok lanjutkan cucian ini…..!” saran Mbok Inang.
“Mboook….., jangan cerita-cerita kepada siapapun ya Mbok…., sebelum kita ceritakan kepada Ki Demang…..! biarlah Ki Demang yang menentukan kebijakan…..!” kata Gendhuk Jinten.
“Baik Nini…., aku berjanji…..!” kata Mbok Inang.
“Jika demikian, kita lanjutkan saja cuci-cuci kita ini…..!” kata Gendhuk Jinten yang mulai tenang.

Mbok Dukun yang berpengalaman itu heran karena mata Gendhuk Jinten terlihat sembab. Ia yakin bahwa Gendhuk Jinten pasti baru saja menangis.
“Nini….., Nini baru saja menangis ya…..? Mengapa Nini…..?” tanya Mbok Dukun.
Gendhuk Jinten tidak bisa mengelak dari tebakan Mbok Dukun itu. Ia kemudian malah minta kepada Mbok Inang untuk pergi ke kademangan. Ia mohon agar Ki Demang segera datang di pondok ini.
“Mbok Dukun….., biarlah aku bercerita kepada Ki Demang dahulu. Biarlah Mbok inang pergi ke kademangan…..!” kata Gendhuk Jinten.
“Mbok Inang….., hati-hati matur kepada Ki Demang, jangan sampai menjadi ribut seluruh kademangan…!”
pesan Gendhuk Jinten.
Mbok Dukun yang bijak itu tidak memaksa Gendhuk Jinten untuk bercerita. Mbok Dukun menduga, pasti ada sesuatu yang sangat penting sehingga membuat Gendhuk Jinten menangis dan memerlukan kehadiran Ki Demang.

Kebetulan sekali Mbok Inang yang sudah terbiasa di kademangan itu bersua dengan Ki Demang di lorong pondok.
“Ki Demang….., Gendhuk Jinten mohon agar Ki Demang sekarang berkunjung ke pondok….! Pesan Gendhuk Jinten agar tidak ada yang tahu……!” kata Mbok Inang.
…………
Bersambung………

Petuah Simbah: “Konon, menangis itu perlu, terutama bagi para wanita, karena akan membuat kelegaan.”
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *