Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#208

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#208

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(208)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Pembawa bende itu telah paham maksud dari Kanjeng Sunan Kudus. Ia segera mendahului mereka sebelum orang-orang yang datang itu tiba.
Kanjeng Sunan Kudus beserta yang mengiringinya sengaja berhenti di tempat yang agak luas dan terbuka.
Beberapa saat kemudian, orang-orang yang menyusul Kanjeng Sunan Kudus beserta pengiringnya tiba.
Kanjeng Sunan Kudus terkejut juga, karena yang datang jauh lebih banyak dari yang diperkirakan. Bahkan semua terlihat membawa senjata telanjang dari berbagai jenis. Jika terjadi bentrokan akan sangat berbahaya dan tentu akan jatuh banyak korban.
“Tangkap….. tangkap….. tangkap mereka…..! Tangkap pembunuh……!” Teriakan mereka dengan marah.
Kanjeng Sunan Kudus berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan sikap perlawanan. Demikian pula yang ditunjukkan oleh mereka yang menyertai Kanjeng Sunan Kudus.
“Mari kisanak, kita berbicara dengan sabar-sareh…..!” Sapa Kanjeng Sunan.
“Ternyata kalian pembunuh dengan mengaku utusan Allah segala……!” Teriak salah seorang warga kampung.
“Aku sudah tanggap maksud kalian. Karena wafatnya Ki Ageng Pengging, kalian menuduh kami adalah pembunuhnya…..!” Kata Kanjeng Sunan Kudus yang tanggap akan tuduhan mereka.
“Jangan selak – jangan mengelak…..! Kalian tinggalkan begitu saja Ki Ageng Pengging dalam keadaan meninggal. Pasti kalian-lah pembunuhnya……!” Kata salah seorang perangkat kadipaten.
“Tangkap…… tangkap…… tangkap…….! Tangkap para pembunuh itu…..!” Teriak banyak orang.
Kanjeng Sunan Kudus merasa kesulitan untuk meredakan kemarahan banyak orang yang semuanya bersenjata itu. Dan lagi pula sulit juga untuk berdalih bahwa mereka bukan pembunuhnya. Para pengiring Kanjeng Sunan Kudus pun telah bersiap untuk melakukan perlawanan. Hampir semua pengiring Kanjeng Sunan Kudus membawa sepasang belati yang terselip di balik pakaian santrinya. Namun Kanjeng Sunan Kudus belum memerintahkan untuk melakukan perlawanan.
“Tangkap…… tangkap…… tangkap……! Tunggu apa lagi……!” Teriak banyak orang.
“Menyerahlah kalian……!” Pinta salah seorang perangkat kadipaten.
Kanjeng Sunan Kudus tidak mempunyai pilihan lain. Ia segera memberi tanda untuk yang membawa bende dengan suitan jari di mulutnya.
Mereka yang mengepung rombongan Sunan Kudus itu terkejut bukan kepalang. Sesaat kemudian mereka mendengar auman banyak harimau dari segala arah. Bahkan terasa begitu dekat di belakang maupun di samping mereka. Mereka pun ketakutan, terutama mereka yang datang dari kadipaten. Sedangkan para warga kampung tidak terlalu terkejut, namun ada rasa takut pula. Auman harimau seperti inilah yang mereka dengar tadi malam kira-kira dari tempat ini pula.
“Mereka, harimau-harimau itu adalah peliharaanku……! Jika kami kalian bunuh, kalian pun akan diterkam macan-macan itu. Semua akan mati tak bersisa……!” Kata Kanjeng Sunan Kudus meyakinkan.
Sementara auman macan-macan itu semakin membuat bulu kuduk merinding.
Mereka para pengepung rombongan Sunan Kudus itu pun tak berani bergerak untuk segera menyerangnya.
Selagi mereka masih dalam kebimbangan, Kanjeng Sunan Kudus melanjutkan; “Agar kita sama-sama selamat, sebaiknya kalian kembali ke kadipaten. Selenggarakan pemakaman bagi Ki Ageng Pengging dengan sepantasnya. Harimau itu akan aku halau kembali ke hutan……!”
Kanjeng Sunan Kudus kemudian kembali bersuit namun tidak terlalu kencang.
Auman harimau lambat laun berkurang.
“Cepatlah kalian kembali sebelum macan-macan itu aku panggil kembali…..!” Desak Kanjeng Sunan Kudus.
Mereka pun ingin selamat dan tak ingin dimangsa oleh macan-macan itu.
“Baiklah kami akan kembali……!” Kata tetua kampung.
“Kami juga akan kembali……!” Timpal perangkat kadipaten.
Auman macan sudah tidak tedenngar sama sekali. Orang-orang kadipaten maupun orang-orang kampung tepi hutan itu segera berbalik untuk kembali.
Akhirnya mereka benar-benar telah meninggalkan rombongan Kanjeng Sunan Kudus beserta para pengiringnya.
………………
Bersambung………….

Petuah Simbah: “Hindarilah bentrok massa dengan cara apapun. Dengan demikian kita menghindari jatuhnya korban.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *