Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#291

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(291)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Betapa tidak, ia melihat para wanita tua muda tidur sembarangan. Bahkan ada wanita muda yang terlentang di depan pintu dengan kain yang tersingkap tinggi. Darah kelelakiannya menggelegak kencang. Namun Ki Soreng Rana segera sadar, ada tugas yang sangat besar, membunuh Sultan Pajang. Jika ia menuruti nafsu kelelakiannya, bisa jadi akan gagal membunuh sasarannya. Namun Ki Soreng Rana berjanji dalam hatinya, setelah berhasil membunuh Jaka Tingkir Sultan Hadiwijaya, ia akan kembali ke dapur ini. Menurutnya amat sayang jika kesempatan seperti ini dilewatkan begitu saja.
Dengan menahan degup di dada, Ki Soreng Rana meninggalkan dapur. Dengan demikian, ia yakin bahwa seluruh penghuni keraton telah tertidur nyenyak, demikian pula Sultan Hadiwijaya yang memang menjadi sasaran utama dari serangan sirep Ki Soreng Satru.
Untuk membunuh Jaka Tingkir Sultan Hadiwijaya bagai suwe mijet wohing ranti – semudah memijit buah Ranti.
Ketika Ki Soreng Rana keluar dari dapur, ia melihat berkelebatnya seseorang. Ia segera berlindung di tiang emperan dapur. Namun kemudian ia tersenyum dan berdehem. Karena yang ia lihat adalah Ki Soreng Pati. Ia segera mendekati Ki Soreng Pati agar ia tidak sampai masuk ke dalam dapur.
“Semuanya telah tertidur lelap, sungguh ilmu Ki Satru sangat kuat dan tajam…..!” Bisik Ki Soreng Rana kepada Ki Soreng Pati.
“Benar…..! Para prajurit jaga juga semuanya telah bergelimpangan di sembarangan tempat…..!” Sahut Ki Soreng Pati yang berbisik juga.
“Ayo kita berdua segera memasuki bangsal Sultan Hadiwijaya…..!” Ajak Ki Soreng Pati.
“Ayo…..!” Jawab Ki Soreng Rana singkat.
Dengan keris pusaka terhunus, keduanya menuju ke bangsal Sultan Hadiwijaya yang telah mereka ketahui berdasarkan keterangan prajurit sandi.

Sementara itu, Ki Juru Martani yang tajam mata hatinya, merasakan ada sesuatu yang mengetuk-ketuk hatinya.
“Ada apakah gerangan……?” Batin Ki Juru Martani.
Malam itu memang terasa mencekam dan sunyi sepi tak ada suara apapun. Bahkan waktu seperti ini biasanya ada ayam jago berkokok sekali dua kali, namun kini tak terdengar sama sekali. Bahkan biasanya juga terdengar burung hantu yang memanggil kawannya, kini sepi sekali.
Ki Juru Martani kemudian memusatkan nalar budinya untuk mencoba mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Uooch….! Sepertinya ada ilmu sirep yang dilontarkan…..!” Gumam Ki Juru Martani kepada dirinya sendiri.
Ia kemudian meloncat keluar dari bangsal tempat tinggalnya.
Ia terkejut bukan kepalang ketika melihat para prajurit yang berjaga di gerbang tempat tinggalnya semuanya tertidur pulas.
Ia segera berlari ke tempat tinggal Jebeng Danang Sutawijaya, jangan-jangan dialah yang menjadi sasaran.
Ki Juru Martani berdebar-debar ketika melihat warung-warung yang masih buka, namun yang ada di warung itu semua tertidur pulas.
Namun Ki Juru Martani justru terkejut ketika ia berjumpa dengan Jebeng Danang Sutawijaya di halaman rumahnya.
“Uwa Juru…..! Sepertinya ada yang tidak wajar, Uwa….!” Berkata Raden Mas Ngabehi Loring Pasar.
Ki Juru Martani yakin bahwa sasaran sirep ini bukan Jebeng Danang Sutawijaya. Jika ia yang menjadi sasaran, tentu sudah terjadi sesuatu terhadapnya.
Mereka berdua kemudian keluar dari halaman Ndalem Ngabehi.
Di depan pasar, mereka melihat dua orang yang bergegas menghampiri.
“Ooh Kakang Juru…..! Danang….., kau selamat…..!” Berkata Ki Pemanahan yang mengkhawatirkan keselamatan putranya kandungnya itu.
Yang datang adalah Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang merasakan hal yang sama.
“Jangan-jangan keraton-lah yang menjadi sasaran…..! Ayo kita segera ke sana…..!” Ajak Ki Juru Martani.
Tak membuang waktu, mereka segera berlari cepat menuju keraton. Mereka berdebar-debar ketika melihat alun-alun begitu sepi mencekam. Mereka sempat melihat orang-orang tidur bergelimpangan di sembarang tempat.
Mereka segera mempercepat langkah larinya.
………….
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Asah-lah suara hati agar peka terhadap situasi.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *