Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#132

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Ki Ageng Pengging.

Tusukan kecil sebuah keris pusaka yang warangannya kuat dan di pegang oleh seorang yang berilmu tinggi tentu sangat berbahaya bagi yang terkena. Warangan adalah racun yang terkandung dalam bilah keris yang kehitaman. Bilah keris yang memiliki warangan biasanya direndam dalam larutan racun yang kuat dalam waktu yang lama.
Sunan Ngudung tersenyum karena ujung kerisnya terasa menusuk siku Ki Ageng Pengging. Ia tahu benar akibat dari tusukan itu, tak akan ada yang mampu bertahan dari kuatnya racun warangan keris pusaka itu. Pernah keris itu untuk menggores seekor macan gembong, dan macan itu kemudian menggelepar-gelepar dan akhirnya mati.
Ki Ageng Pengging mula-mula merasakan sikunya kesemutan. Kemudian menjalar ke tangan yang sikunya tertusuk keris pusaka itu. Salah seorang lawan Ki Ageng Pengging terkejut dan heran ketika pisau belati di tangan kanan Ki Ageng Pengging terlepas. Hampir berbarengan tiga bilah pedang membabat Ki Ageng Pengging. Ki Ageng Pengging tak mampu bertahan karena warangan keris Sunan Ngudung telah menjalar ke seluruh badannya. Mula-mula Ki Ageng Pengging jatuh terduduk, tetapi kemudian jatuh terlentang. Lawan-lawannya pun menghentikan serangan.
“Sudahlah…..! Ki Ageng Pengging pasti akan tewas terkena ujung kerisku ini……!” kata Sunan Ngudung.
Masih dengan pedang-pedang yang terhunus ketika kemudian mereka merubung tubuh Ki Ageng Pengging yang terlentang itu. Mereka berjaga-jaga jika Ki Ageng Pengging tiba-tiba menyerangnya. Beberapa saat mereka berjaga-jaga, namun tubuh Ki Ageng Pengging itu benar-benar tak bergerak. Dua orang senopati kemudian berjongkok untuk meyakinkan bahwa Ki Ageng Pengging benar-benar telah tak bernyawa.
“Telah tak berdetak jantungnya, Kanjeng Sunan…..!” kata salah seorang dari mereka.
Mereka melihat wajah Ki Ageng Pengging yang pucat kebiruan.
“Sudah selayaknya ia tewas karena tak mau tunduk kepada kuasa pemerintahan Demak Bintara…..! Dia juga sudah menerima ajaran yang menyimpang dari Syekh Siti Jenar……!” kata Sunan Ngudung.
“Bagaimana dengan jasad ini selanjutnya, Kanjeng Sunan…..?” tanya salah seorang senopati.
“Kita akan melanjutkan perjalanan sesuai rencana semula, kita akan terus ke Kediri. Tak mungkin kita akan membawa jasad ini……! Biarlah kita tinggalkan jasad ini di sini…..!” lanjut Sunan Ngudung.
“Tak ada orang yang tahu bahwa kematian Ki Ageng Pengging adalah karena pertarungan melawan kita…..!” kata seorang senopati.

Beberapa saat, mereka, Sunan Ngudung beserta para pengikutnya berbincang di sekeliling jasad Ki Ageng Pengging. Namun kemudian mereka pergi untuk melanjutkan perjalanan ke Kediri seperti rencana semula. Mereka ingin membujuk Adipati Kediri agar menghindari pertumpahan darah.
Mereka pun kemudian meloncat ke kuda masing-masing dan segera pergi meninggalkan jasad Ki Ageng Pengging tetap tergeletak di tanah kotor di tempat yang sepi itu. Bahkan kuda Ki Ageng Pengging pun tetap tertambat di sebuah pohon.

Beberapa saat setelah derap kaki kuda semakin menjauh, seseorang dengan hati-hati menghampiri tubuh Ki Ageng Pengging yang tergeletak di jalan itu.
“Pertarungan yang tidak seimbang. Jika Ki Ageng ini hanya melawan tiga atau empat orang tentu akan mampu mengatasi. Tetapi lawannya adalah delapan orang……!” batin orang itu. Ia adalah seorang prajurit sandi dari negeri Majapahit yang ditempatkan di sekitar perbatasan dengan kadipaten lain. Dan kebetulan prajurit itu sedang berada di sekitar tempat itu. Namun demikian, ia tetap kagum terhadap kegigihan dari Ki Ageng Pengging.
Ia kemudian menyingkirkan jasad itu di tempat yang tersembunyi. Dan berharap agar tidak dimangsa oleh binatang apapun. Ia kemudian melepas tali kendali kuda yang tertambat. Ia kemudian meloncat di punggung kuda dan segera melajukan kuda itu untuk pergi ke keraton Majapahit untuk melaporkan kejadian yang ia saksikan.
……….
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Tak seorangpun yang tahu jalan kematian setiap orang.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *