Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#145

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Ki Ageng Pengging Anom.

Namun demikian dua bregada prajurit telah dikirim terlebih dahulu untuk mengambil jasad Sunan Ngudung dan para pengikutnya. Empat kereta kuda telah disiapkan. Mereka juga dilengkapi dengan tameng untuk berjaga jika mendapat serangan dengan anak panah.

Pasukan prajurit Demak Bintara yang mengambil jasad Sunan Ngudung dan para pengikutnya itu pun berlangsung lancar tanpa hambatan dan tidak ada penyerangan dari pasukan Majapahit.
Pasukan Majapahit memang tak ada niat untuk mengganggu pengambilan jasad-jasad tersebut. Tak selayaknya orang yang akan menyelenggarakan penghormatan kepada orang yang telah meninggal mendapatkan gangguan.

Gugurnya Sunan Ngudung dan para pengiringnya memicu tekat para prajurit Demak Bintara dan sekutunya untuk benar-benar menyerang pasukan Majapahit. Para pimpinan Majapahit dianggap menantang secara terbuka terhadap Demak Bintara. Dan sepertinya tertutup untuk berembug mencari penyelesaian tanpa peperangan. Majapahit tidak bisa diperlakukan seperti Kamedipaten Bojanegara, Gresik, Surabaya, Tuban dan yang lainnya. Kadipaten-kadipaten yang bisa menyelesaikan persoalan tanpa harus dengan berperang. Sedangkan Majapahit sepertinya harus diselesaikan dengan jalan peperangan. Adipati Bagelen tak ingin menunda penyerbuan ke perkemahan pasukan Majapahit. Pagi hari ini pasukan Majapahit sudah harus bedhah – dapat ditundukkan. Oleh karena itu, senopati agung Adipati Bagelen segera mengerahkan kekuatan sepenuhnya.
Pasukan pembuka jalan pun telah berderap mendahului pasukan induk yang berwujud gelar perang Garuda Nglayang yang gagah perkasa.

Sementara itu, pasukan Majapahit telah mengetahui pula pergerakan pasukan Majapahit ke arah mereka. Adipati Girindhawardana segera membagi pasukan seperti yang telah direncanakan.
“Senopati Glagah Curing…..! pimpin pasukanmu ke arah sayap kanan. Dibagi beberapa kelompok seperti rencana kita……!” perintah Adipati Girindhawardana.
“Baik, Kanjeng Adipati…..!” kata senopati Glagah Curing.
“Demikian pula kau senopati Lembu Sena, pimpin pasukanmu ke sayap kanan…..!” kata Adipati Girindhawardana pula.
“Baik, Kanjeng Adipati…..!” jawab senopati Lembu Sena singkat.
Adipati Girindhawardana sendiri akan tetap di induk pasukan untuk menghadapi pasukan Demak Bintara.

Seperti yang direncanakan, pasukan Majapahit tidak memasang gelar yang lumrah untuk menghadapi pasukan lawan dengan gelar Garuda Nglayang. Tetapi akan mengadakan perlawanan dengan cara pukul lari. Pasukan Majapahit telah membagi diri menjadi banyak kelompok dengan pasukan berkuda yang siap menyerang namun juga siap melarikan diri. Bahkan pasukan Majapahit melebar jauh sampai di belakang gelar lawan.

Dalam pada itu, sayap garuda nglayang di kedua sisi telah melengkung maju, sedikit di depan pasukan induk. Demikian pula pasukan pembuka jalan telah lebih dahulu maju mendahului pasukan induk.
Namun tiba-tiba terdengar jeritan dan teriakan-teriakan dari beberapa prajurit pembuka jalan itu.
“Auuuch…..! awas banyak duri disebar, hati-hati…….!” teriak salah seorang prajurit sambil berjingkat karena kakinya tertusuk duri kemarung. Namun yang tertusuk duri tidak hanya seorang, tetapi beberapa prajurit pun mengalami hal yang sama.
Yang tidak mereka perhitungan terjadilah. Ketika mereka sedang disibukkan oleh duri-duri yang menancap di kaki, seketika itu pula meluncurlah banyak anak panah ke arah mereka. Mereka tak sempat melindungi diri atau berlari mundur karena kaki mereka yang tertusuk duri. Tak ayal banyak prajurit dari pasukan pembuka jalan itu yang menjadi korban jebakan lawan. Jebakan yang sangat sederhana namun hasilnya nyata.
Kejadian hampir serupa terjadi di sayap kiri dan kanan gelar Garuda Nglayang pasukan Demak Bintara. Namun mereka sempat segera menarik mundur sehingga tidak banyak yang menjadi korban.
…………..
Bersambung………..

Petuah Simbah: “Dalam setiap kerja, lakukan secara efektif dan efisien sehingga pengeluaran minimal namun hasilnya maksimal.”
(@SUN)

**Kunjungi stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *