Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#358

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#358

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(358)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Sementara itu, para prajurit Pajang yang telah kehilangan lawan segera berlarian menuju ke tempat Raden Mas Danang Sutawijaya yang memancing Sultan Harya Penangsang agar mendekat ke tepian sungai. Mereka dipimipin oleh Ki Wiraguna, lurah prajurit Pajang yang berilmu tinggi pula.
Ketika itu kuda Gagak Rimang benar-benar tidak terkendali. Kuda itu kemudian meronta-ronta ingin mendekati kuda betina.
Para prajurit pimpinan Ki Wiraguna segera menghujani Sultan Harya Penangsang dengan anak panah. Namun anak panah-anak panah itu tidak ada satupun yang mampu melukai Sultan Harya Penangsang. Sultan Harya Penangsang sungguh sakti mandraguna. Hebatnya, kuda Gagak Rimang yang terkena anak panah juga tidak mempan.
Raden Mas Danang Sutawijaya juga kagum akan kesaktian dari Sultan Harya Penangsang. Namun ia mempunyai keyakinan bahwa tombak Kiai Plered di tangannya akan mampu menembus ilmu kebal dari Sultan Harya Penangsang itu.
Ketika kuda Gagak Rimang sedang meronta-ronta, Raden Mas Danang melihat kesempatan. Sultan Harya Penangsang yang berada di jangkauan lontaran tombak segera menjadi sasaran. Raden Mas Danang Sutawijaya yang telah berlatih sejak kecil bermain tombak segera melontarkan tombak pusaka Kiai Plered. Lontaran tombak Raden Mas Danang Sutawijaya tidak pernah meleset dari sasaran. Demikian pula saat itu. Tombak melesat sangat cepat karena dilambari ilmunya yang tinggi. Sultan Harya Penangsang yang masih di punggung kuda tak sempat mengelak. Tombak pusaka Kiai Plered menembus lambung Sultan Harya Penangsang. Sultan Harya Penangsang yang sakti mandraguna itu tidak tewas walau lambung telah tertembus tombak. Tombak segera ditarik, seketika itu usus Sultan Harya Penangsang tertarik keluar, mbrodhol. Namun demikian, Sultan Harya Penangsang masih tetap segar bugar dan tegar. Usus yang terjuntai itu segera dikalungkan di warangka keris Setan Kober di punggungnya.
Dengan kudanya, Sultan Harya Penangsang yang telah terluka itu mengamuk, menerjang barisan pasukan Pajang yang menghalangi kuda itu untuk mendekati kuda betina. Akibatnya sungguh menggemparkan. Banyak prajurit Pajang yang tersungkur diterjang kuda Gagak Rimang.
Ki Wiraguna segera bertindak, ia segera melontarkan tombak ke arah kuda Gagak Rimang. Tombak Ki Wiraguna mampu menembus punggung kuda Gagak Rimang. Kuda pun melonjak tinggi sehingga membuat Sultan Harya Penangsang yang telah terluka itu terpental.
Raden Mas Danang Sutawijaya segera memburu Sultan Harya Penangsang dengan keris di tangan. Sultan Harya Penangsang yang sangat marah kepada anak muda yang telah mampu melukainya itu segera melolos keris Kiai Setan Kober. Namun yang tidak disadari oleh Sultan Harya Penangsang. Keris pusaka miliknya itu justru memotong usus yang tadi dikalungkan di warangka keris di punggungnya.
Seketika itu juga Sultan Harya Penangsang roboh di tepian sungai Bengawan Sore.
“Ouuuch…..! Ke……paaa…..raaat…..!” Umpat Sultan Harya Penangsang terputus-putus. Hanya itu yang terucap dan kemudian diam tak bergerak. Sultan Harya Penangsang gugur di tepi Bengawan Sore.
Sorak sorai prajurit Pajang menggetarkan tepian sungai itu.
“Penangsang tewas….., Penangsang tewas….., Penangsang tewas……!” Teriakan para prajurit Pajang sambung menyambung.
Ki Pemanahan dan Ki Penjawi segera menghampiri Raden Mas Danang Sutawijaya yang telah mengambil tombak Kiai Plered yang tadi dibuang oleh Sultan Harya Penangsang di tanah basah tepian Bengawan Sore.
Ki Penjawi dan Ki Pemanahan memang selalu bersiaga jika Raden Mas Danang Sutawijaya menghadapi bahaya. Namun semua telah teratasi, Sultan Harya Penangsang telah gugur.

Dalam pada itu, pertarungan Ki Juru Martani melawan Ki Patih Mentahun masih berlangsung. Namun sorak sorai dan teriakan para prajurit Demak membuat Ki Patih Mentahun gusar.
“Kau dengar teriakan itu, Ki Patih……?” Bertanya Ki Juru Martani yang mendengar bahwa Sultan Harya Penangsang telah gugur.
“Gila….! Itu tidak mungkin…..!” Berteriak Ki Patih Mentahun yang kemudian berlari menuju kerumunan prajurit Pajang di sekitar jazat Sultan Harya Penangsang.
……………
Bersambung………..
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *