Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#646

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#646

penerus trah prabu brawijaya

Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(646)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Dua orang prajurit sandi dari Pajang yang berbaur menjadi pelayat itu memang duduk sedikit terpisah dari orang banyak. Dengan demikian perbincangan mereka tidak ada yang mendengarkan.
“Kalau perbandingan kekuatan pasukan, Pajang pasti jauh lebih besar dari Mataram. Secara kasat mata tidak bisa dipungkiri…….!” Berkata salah seorang prajurit sandi.
“Yaa…..! Menurut perhitungan kita, mereka yang sering ikut latihan bela diri di alun-alun itu tidak lebih dari delapan ratus orang. Itu sudah semua, termasuk para wanita. Dan kemampuan mereka pun masih jauh dari kemampuan prajurit pilihan yang dimiliki Pajang…..!” Sahut kawannya.
“Pajang tentu mampu menghimpun pasukan puluhan ribu prajurit seperti yang dikirim ke bang wetan dahulu…..!” Berkata kawannya.
“Semestinya Pajang tak perlu khawatir dengan perkembangan Mataram…..!” Tanggapan kawannya.
“Itulah yang menjadi pertimbangan Kanjeng Sultan sehingga tidak pernah menanggapi usulan para senopati untuk menyerbu Mataram…..!” Sahut kawannya.
“Lagi pula, Mentaok ini memang sudah diserahkan kepada Ki Pemanahan. Tidak elok jika Kanjeng Sultan ingin merebut kembali…..!” Berkata yang seorang.
“Ki Pemanahan dan Ki Juru Martani adalah saudara seperguruan, sedangkan Raden Mas Danang Sutawijaya adalah putra angkat dan juga muridnya…..! Pasti banyak pertimbangan dari Kanjeng Sultan itu tidak menanggapi usulan para senopati yang tidak senang dengan keberadaan Mataram ini……!” Tanggapan kawannya.
“Kita tunggu perkembangan, bagaimana setelah Ki Pemanahan yang bergelar Ki Ageng Mataram itu mangkat. Apakah Ki Juru Martani yang akan memimpin telatah Mataram ini….?” Pertanyaan prajurit sandi yang seorang.
“Atau mungkin Raden Mas Danang Sutawijaya yang akan menggantikan kedudukan ayahnya…..?” Sahut kawannya.
“Siapa pun yang menjadi pimpinan di telatah ini tak perlu menjadi kekhawatiran dari Pajang…..!” Berkata kawannya.
Mereka berdua pun telah menghabiskan bungkusan nuk nasi lauk rendang daging kerbau serta minum air kendi.
“Hebat juga para penghuni kawasan ini yang mampu menyediakan sajian untuk sekian banyak orang…..!” Berkata kawannya.
“Yaaa….., bahkan belum pernah terjadi di Pajang…..!” Sahut kawannya.
“Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan Mataram telah diterima oleh masyarakat di sekitarnya…..!” Berkata prajurit yang seorang.
“Harapan kita, Pajang dan Mataram bisa saling bermitra untuk ketentraman dan kesejahteraan bersama…..!” Berkata kawannya.
“Mungkin itu juga yang menjadi pemikiran dari Kanjeng Sultan…..!” Sahut kawannya.
“Marilah kita agak dekat ke pendapa, mungkin acara akan segera di mulai…..!” Ajak kawannya.
“Marilah…..!” Jawab yang seorang.

Sementara itu matahari sudah tidak terlalu menyengat, terlebih mendung putih sesekali menutupi sinar mentari. Tata upacara pemakaman segera akan dimulai.
Ki Dhandhang Wisesa yang diserahi tugas untuk menjadi pembawa acara.
Namun para sesepuh serta Raden Mas Danang Sutawijaya yang telah merancang acara tersebut.
Ki Dhandhang Wisesa dengan suara lantang namun dengan bahasa dan nada yang halus mengawali tata upacara. Ia kemudian menyampaikan rangkaian tata upacara yang lumrah seperti terjadi pada setiap tata upacara penghormatan terakhir untuk seseorang yang telah meninggal dunia.
Namun masih ada satu acara yang disembunyikan oleh Ki Dhandhang Wisesa.
“Sebelum acara pemberangkatan jenazah ke pemakanan, ada acara istimewa namun akan dilaksanakan secara sederhana…..!” Berkata Ki Dhandhang Wisesa.
“Baru kemudian kita bersama-sama akan mengantar swargi Ki Ageng Mataram ke pemakanan. Namun jika bagi para saudara sudah dianggap cukup, nanti jika akan kembali ke tempat asal masing-masing, kami mengucapkan terimakasih dan selamat jalan…..!”
Terdengar bergeremang banyak orang yang memperbincangkan acara yang dikatakan istimewa namun sederhana tersebut.
“Acara apa kira-kira Kang……? Sepertinya Ki Dhandhang menyembunyikan sesuatu, atau ingin membuat kejutan…..?” Bertanya salah seorang prajurit sandi.
“Entahlah…..! Kita tunggu saja…..!” Jawab kawannya.
Namun ternyata pertanyaan serupa menyebar ke hampir seluruh sudut-sudut berkerumunnya para pelayat.
……………..
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.
Kunjungi pula situs saya di Youtube. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *