Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#668

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#668

penerus trah prabu brawijaya

Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(668)
Mataram.
Seri Panembahan Senopati.

Malam itu Raden Pabelan tidak pulang ke katumenggungan. Entah ia pergi ke mana setelah meninggalkan gadis yang tadi malam ia kencani.
Ki Tumenggung Mayang juga tidak mengerti ke mana anak lelakinya itu pergi. Ki Tumenggung Mayang sungguh dibuat pusing oleh ulah putranya itu. Tak kurang-kurang Ki Tumenggung Mayang menasehati anaknya. Namun setiap saat anaknya itu selalu mengulangi perbuatannya, bahkan semakin menjadi.
Suatu saat Raden Pabelan hampir saja dikeroyok oleh orang kampung karena berani mengganggu istri orang. Beruntungnya belum terjadi hal yang paling pahit. Seorang sentana berhasil menyelamatkan dan menyerahkan kepada Ki Tumenggung Mayang. Kala itu Raden Pabelan meminta maaf dan telah berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Namun dalam kenyataannya ia melakukan lagi di tempat yang lain dan dengan orang lain lagi. Dan itu terjadi berulang di lain-lain tempat lagi.
Ki Tumenggung dan Nyi Tumenggung Mayang benar-benar dibuat pusing. Mungkin sudah belasan wanita yang telah menjadi korban permainan asmara dari Raden Pabelan. Raden Pabelan yang memang seorang perjaka yang gagah tampan berkulit bersih dan berpenampilan rapi serta pintar berkata-kata manis. Tak mustahil jika ia begitu mudah memikat wanita, namun begitu mudah pula meninggalkannya.
“Apakah Pabelan kita ungsikan ke Mataram saja Kangmas Tumenggung, mungkin Kangmas Panembahan Senopati bisa mengatasi kenakalan anak kita itu…..?” Berkata Nyi Tumenggung Mayang.
“Aku berkeberatan, bagaimana jika di Mataram ia juga berbuat ulah……?” Berkata Ki Tumenggung Mayang.
“Atau biarlah ia berguru di tempat yang jauh biar tidak merepotkan orang banyak…..!” Berkata Nyi Tumenggung.
“Coba nanti kita bicarakan jika ia pulang…..!” Jawab Ki Tumenggung Mayang.
Namun hari itu Raden Pabelan juga tidak pulang, sudah tiga hari ia tidak kembali. Bekal untuk kepergiannya lebih dari cukup. Uang dan perhiasan ia simpan di balik bengkungnya. Sang ibu selalu tidak berdaya jika sudah dibujuk oleh anaknya itu.

Sementara itu, di sebuah perguruan di Tawangmangu, Ki Tawang sedang ditangisi oleh seorang mentrik – seorang cantrik perempuan yang membantu di padepokan itu.
“Saya memang teledor Ki…..! Telah terlalu jauh hubungan kami dengan Raden Pabelan sehingga saya telah telat garap sari. Dan sejak itu tidak pernah kembali ke Tawangmangu ini……!” Berkata mentrik itu.
“Yaa….., seperti janjinya bahwa ia akan kembali sebulan yang lalu, namun sampai saat ini ia juga belum tampak.
“Tetapi kau yakin bahwa yang berbuat kepadamu hanyalah Raden Pabelan….?” Selidik sang guru.
“Aduuh Ki…, apakah Kiai tidak percaya? Saya baru kali itu mengenal seseorang lekaki dan lelaki itu adalah Raden Pabelan…..?” Berkata mentrik itu.
“Semestinya kau juga aku usir dari padepokan ini, karena kau pun bersalah telah mencemarkan nama padepokan ini……!” Berkata sang guru.
“Ampun Ki….., saya tidak mampu menolak paksaan dari Raden Mas Pabelan…..!” Dalih wanita itu.
Sang guru bimbang, jika ia mengusir mentrik itu, mentrik itu akan menjadi korban kedua kali. Ia telah menjadi korban dari perbuatan Raden Pabelan dan kemudian menjadi korban pengusiran. Dan jika ia pun ditolak oleh keluarganya, ia akan menjadi korban lagi. Belum lagi jika kemudian warga juga menolaknya. Karena perbuatan seseorang, akibatnya bisa sedemikian jauh. Dan seseorang itu adalah Raden Pabelan.

Sementara itu, Raden Pabelan yang telah membuat resah banyak pihak karena ulahnya, merasa tidak bersalah.
“Kami berbuat karena suka sama suka, aku tidak pernah memaksa dengan kekerasan…..!” Batin Raden Pabelan untuk membela diri.
“Lagi pula, aku mesti memberi uang atau perhiasan kepada gadis-gadis itu……!” Dalih Raden Pabelan untuk membenarkan dirinya.
Namun demikian, ia juga takut jika sampai dikeroyok oleh orang banyak seperti yang pernah akan terjadi.
…………….
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.
Kunjungi pula situs saya di Youtube. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *