Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#670

penerus trah prabu brawijaya

Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(670)
Mataram.
Seri Panembahan Senopati.

Namun Raden Pabelan masih selalu berdalih. “Kami suka sama suka kok Bunda…..! Pabelan tidak pernah memaksa…..!”
“Tetapi seorang wanita itu berharap untuk berlanjut ke hubungan rumah tangga. Tidak hanya sekedar suka sama suka. Setelah tidak suka kau tinggalkan begitu saja….!” Berkata Nyi Tumenggung Mayang sang ibu dari Raden Pabelan.
Raden Pabelan diam namun bukan menyerah, ia masih mencari dalih untuk membenarkan dirinya sendiri.
“Sudah berapa puluh wanita yang kau perlakukan seperti itu, Ngger…..?” Bertanya sang ibu.
Raden Pabelan masih diam, namun bukan berarti menyesal.
“Hampir setiap hari ada orang tua gadis yang datang untuk meminta pertanggungjawabanmu Ngger….! Ayah ibukmu ini kau buat pusing dan malu, Ngger…..!” Lanjut ibundanya.
“Tetapi Bunda…..,” Sela Raden Pabelan.
“Tidak usah banyak berdalih….! Sadarlah Ngger, perbuatanmu itu sangat tidak pantas…..!” Lanjut Nyi Tumenggung Mayang.
“Tetapi Bunda….., Pabelan tidak harus bertanggungjawab…..!” Potong Raden Pabelan.
“Maksudmu……?” Bertanya Nyi Tumenggung Mayang.
“Setiap Pabelan pamit pasti meninggali uang atau perhiasan yang lebih dari cukup untuk wanita-wanita itu. Pabelan seperti seorang pembeli Bunda…..!” Dalih Raden Pabelan.
“Haah……! Kau pandang serendah itu harkat seorang wanita….? Bundamu ini juga seorang wanita, Ngger…..! Jika mereka mendengar pasti akan sakit hati….!” Berkata Nyi Tumenggung dengan nada marah.
“Te…. tetapi mereka senang kok Bunda…..!” Sanggah Raden Pabelan tak mau disalahkan.
“Mereka senang karena menganggap itu wujud perhatian dan kesungguhanmu, bukan sebagai harga jual beli seperti barang…..!” Lanjut Nyi Tumenggung Mayang masih dengan nada keras.
Nada keras dari Nyi Tumenggung itu membangunkan Ki Tumenggung Mayang yang bangsalnya tak jauh dari mereka berbincang.
“Kau baru pulang Pabelan…..?” Bertanya Ki Tumenggung Mayang.
“Benar Bapa…., dari Tawangmangu sudah petang…..!” Jawab Raden Pabelan tidak jujur.
“Kami ayah ibumu selalu menunggumu…..!” Berkata Ki Tumenggung Mayang.
“Yaa….., Bunda sudah bercerita banyak Bapa…..!” Berkata Raden Pabelan.
“Sampai Bundamu berbicara keras dan bahkan marah…..!” Berkata Ki Tumenggung Mayang.
“Hanya salah paham saja, Bapa…..!” Jawab Raden Pabelan yang belum merasa bersalah.
“Bukan salah paham…..! Kaulah yang nggugu karepe dhewe – semaunya sendiri…..!” Sanggah sang ayah.

Mumpung ada kesempatan sebelum Raden Pabelan pergi lagi, Ki Tumenggung Mayang mengatakan gagasannya.
“Kau beraninya menggoda gadis-gadis desa yang pasti tertarik kepadamu karena kau anakku – anak seorang Tumenggung. Jika kau menaksir gadis putri seorang bangsawan pasti kau ditolak…..!” Sindir ayahnya.
“Pabelan juga pernah berkencan dengan putri seorang Senopati pula Bapa…..!” Jawab Raden Pabelan yang tidak merasa disindir.
“Itu tanggung…..! Jika kau seorang lelaki sejati, jangan hanya putri seorang senopati atau putri seorang Tumenggung seperti ayahmu ini. Kalau kau berani, dekati kembangnya keraton Pajang…..!” Tantang ayahnya.
“Maksud Bapa……?” Raden Pabelan ingin meyakinkan.
“Putri Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang sekarang sedang menjadi perbincangan. Jika kau berhasil, tidak tanggung-tamggung kau akan menjadi seorang Pangeran – menantu sultan……!” Tantang ayahnya.
“Kangmaas…….! Itu tidak mungkin…..!” Sergah Nyi Tumenggung.
“Biarlah Nyi……, jika ia berhasil biarlah ia mukti wibawa……! Jika ia gagal biar menyadari perbuatannya……!” Dalih Ki Tumenggung Mayang.
Nyi Tumenggung Mayang tidak membantah, ada benarnya juga alasan dari sang suami itu.
Wajah Raden Pabelan berseri-seri, ia pasti akan menyetujui saran dari ayahnya itu.
…………….
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.
Kunjungi pula situs saya di Youtube. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook.

Sutanto Prabowo

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *