Trah Prabu Brawijaya.
Seri 1005
Mataram.
Sedah Merah.
Perasaan Putri Sedah Merah semakin tak karuhan – perasaan aneh semakin kuat yang mampu menggetarkan jantung hatinya. Terlebih ketika tangan Raden Mas Jolang kemudian mengelus lembut punggung telapak tangannya. Bulu-bulu halus di sekujur tumbuh Putri Sedah Merah kemudian meremang – merinding. Ia tak mampu berkata apa-apa. Nalarnya ada keinginan untuk menarik tangan dari genggaman dan elusan Raden Mas Jolang. Namun perasaan aneh mencegahnya. Sehingga dibiarkannya Raden Mas Jolang tetap menggenggam dan mengelus tangannya. Dan bahkan kini bukan lagi perasaan merinding yang ia rasakan, tetapi kenikmatan yang aneh yang belum pernah ia rasakan.
Raden Mas Jolang sendiri tidak berkata-kata, namun elusan tangan dipunggung telapak tangan Putri Sedah Merah terus berlanjut. Elusan lembut di kulit yang halus dan lumer.
Namun kemudian terucap dengan lembut dari mulut Raden Mas Jolang; “Putri….. kau sangat mempesona…..!”
“Aaaach Radeeen…..!” Hanya itu yang terucap.
Elusan tangan Raden Mas Jolang tidak berhenti. Bahkan kini sedikit naik di sekitar pergelangan tangan Putri Sedah Merah. Dielus dan dielus terus punggung pergelangan tangan Putri Sedah Merah dengan lembut. Kenikmatan yang aneh semakin menjalar sanubari Putri Sedah Merah. Ia ingin menarik kuat-kuat tangannya, namun perasaan aneh mencegahnya. “Oooh sudahlah Raden….!” Terucap oleh Putri Sedah Merah. Namun tangannya tidak ditariknya, tetap digenggaman tangan Raden Mas Jolang.
“Putri…..!” Ucap Raden Mas Jolang lirih sambil terus mengelus punggung telapak tangan sampai pergelangan tangan Putri Sedah Merah.
“Yaaa Radeeen….! Cukup Raden….!” Ucap lembut Putri Sedah Merah. Namun tangannya tidak ditariknya.
“Putri sangat cantik…..!” Jawab Raden Mas Jolang lirih sambil menatap mata Putri Sedah Merah yang satu.
Namun yang lirih itu mampu membuat perasaan Putri Sedah Merah melayang. Tatapan mata Raden Mas Jolang seakan menghujam sampai jantung hatinya. Elusan lembut tangan Raden Mas Jolang tidak berhenti. Bahkan kini semakin naik ke panggung tangan Putri Sedah Merah sampai batas lengan baju kebaya yang dikenakan.
“Sudah Radeeen….! Jangan…..!” Ucap Putri Sedah Merah lirih hampir tak terdengar. Namun Raden Mas Jolang tetap mengelus lembut kulit lumer itu.
Raden Mas Jolang sendiri tak luput dari perasaan aneh yang menjalar sampai sanubarinya pula. Bahkan ia merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mungkin sekali kedua insan muda itu merasakan hal yang sama. Tanpa banyak perbincangan, namun mampu menggetarkan dua jantung hati. Bahkan kini, Raden Mas Jolang merasakan hembusan nafas Putri Sedah Merah semakin terasa menerpa tangan Raden Mas Jolang. Kadang hembusan nafas itu terasa kencang seperti dihembuskan.
“Aaach Radeeen…..!”
“Yaaa Putri…..!”
Hanya itu yang terucap dari kedua insan muda pria dan wanita itu. Namun terasa nafas Putri Sedah Merah semakin memburu.
Sementara itu, pasukan Mataram yang berada di tepi hutan telah tercium oleh mantan prajurit Blambangan beberapa waktu yang lalu. Seseorang yang sudah lebih dari setengah baya, dahulu adalah seorang prajurit Blambangan, namun sudah beberapa waktu purna tugas. Ia sedang mencari empon-empon hutan untuk bahan obat yang ia tekuni. Ketika kemudian ia mendengar bergeremangnya banyak orang dan kemudian juga mendengar ringkik kuda. Naluri keprajuritan orang itu belum luntur. Ia kemudian dengan hati-hati ingin mengetahui apa yang terjadi di hutan itu. Orang itu terkejut bukan kepalang setelah mengetahui adanya pasukan berkuda yang cukup besar di tempat yang terpecil itu. Nalar keprajuritannya meyakini pasukan itu pasti bukan pasukan Blambangan. Ia beberapa saat memperhatikan pasukan berkuda itu dari tempat yang terlindung. Dengan seksama ia mencoba mengeja tulisan di salah satu panji yang berkibar, Ma ta ram…!”
………
Bersambung……….
***Tonton pula vidio kontens YouTube kami yang terbaru Seri Ken Sagopi dan Pitutur Jawi. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook maupun di Instagram.